Survei LIPI: PSBB Belum Berhasil Tekan Corona

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Petugas melakukan pengawasan di masa PSBB tahap pertama di DKI Jakarta. (FOTO: Haluan.co/Fajar AM)

-

AA

+

Survei LIPI: PSBB Belum Berhasil Tekan Corona

Health | Jakarta

Jumat, 19 Juni 2020 19:50 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan survei untuk mendapatkan informasi tentang persepsi masyarakat atas pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saat pandemi Covid-19. Hasilnya, sebagian besar masyarakat menilai pelaksanaan PSBB belum sepenuhnya berhasil.

Mengapa ini penting: PSBB dimaksudkan untuk mengurangi aktivitas masyarakat di luar rumah agar bisa memutus mata rantai penularan Covid-19.

Konteks: Survei LIPI menunjukkan 78,7 persen responden mengatakan PSBB belum sepenuhnya berhasil karena kurangnya partisipasi masyarakat.

Apa katanya: “Tujuh dari 10 responden mengatakan pelaksanaan PSBB belum sepenuhnya berhasil,” ujar Deni Hidayati, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, dikutip dari Antara, Jumat (19/6/2020).

Sampel survei:

• Survei dilakukan secara dalam jaringan pada 3-12 Mei 2020 dengan total valid responden sebanyak 919 orang berusia 15 tahun ke atas di wilayah PSBB DKI, Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

• Kelompok umur yang paling banyak mengatakan belum berhasil adalah generasi baby boomers, X dan Z.

Pangkas Tingkat Kematian Covid-19, Inilah Riset Seputar Deksametason

Penyebab belum berhasil:

• Dari segi pemerintah, enam dari 10 responden menyatakan kurangnya penegakan hukum.

• Kurangnya sosialisasi dan kurang jelasnya kegiatan PSBB.

• Pengetahuan masyarakat tentang PSBB masih terbatas. PSBB lebih banyak dimaknai sebagai pembatasan mobilitas penduduk.

• Hanya sebagian kecil masyarakat mengetahui adanya pembatasan kegiatan di sektor-sektor seperti perdagangan, industri, transportasi.

• Tidak sampai separuh masyarakat yang mengetahui pembatasan kegiatan transportasi publik.

• Survei juga menunjukkan masih cukup banyak masyarakat yang keluar rumah. Generasi Y paling banyak keluar rumah, sementara generasi baby boomer paling sedikit keluar rumah.

• Responden keluar rumah karena adanya kekhawatiran terhadap tiga hal, yakni tidak mampu mencari nafkah karena sebagian penghasilan berkurang sebagai dampak pandemi Covid-19, tidak dapat mengurus anggota keluarga, dan tidak mampu membayar berbagai tagihan.

• Masih banyak anggota masyarakat yang tidak disiplin menjalankan physical dan social distancing karena kurangnya kepedulian, dan terpaksa karena kondisi sosial ekonomi serta lingkungan permukiman yang kurang kondusif seperti di permukiman kumuh, padat dan miskin.

Penulis: Neni Isnaeni


0 Komentar