Brutalitas Aparat Keamanan Myanmar Berlanjut: 18 Tewas dan 30 Demonstran Luka-luka

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Foto: BBC Burmese

-

AA

+

Brutalitas Aparat Keamanan Myanmar Berlanjut: 18 Tewas dan 30 Demonstran Luka-luka

International | Jakarta

Senin, 01 Maret 2021 11:39 WIB


Kebrutalan aparat keamanan di aksi protes pada junta di Myanmar terus berlanjut. Korban yang meregang nyawa dalam gelombang aksi protes menentang kudeta militer terus bertambah.

Apa yang penting:

Aparat keamanan di Myanmar menembaki para pengunjuk rasa di aksi protes menentang junta. Setidaknya belasan orang meregang nyawa. Catatan itu menjadikan aksi protes pada hari Minggu, 28 Februari 2021, sebagai aksi protes paling banyak memakan korban sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu.

Jumlah korban:

Dilansir dari laporan organisasi HAM PBB lewat laporan BBC, 18 korban yang tewas dilaporkan jatuh di Yangon, Dawei, dan Mandalay ketika polisi menggunakan peluru tajam, peluru karet, granat kejut, dan meriam air dalam mengurai para demonstran.

• Lebih dari 30 orang mengalami luka-luka dalam sejumlah aksi unjuk rasa, kata organisasi HAM PBB.

Situasi di lapangan:

Rekaman kejadian pada hari Minggu, 28 Februari 2021 yang disebar di media sosial, menunjukkan para pengunjuk rasa melarikan diri ketika polisi merangsek ke arah mereka. Penghalang jalan didirikan sementara dan beberapa orang dibawa pergi dalam keadaan berlumuran darah.

Tindakan keras polisi, yang dimulai sejak hari Sabtu, diintensifkan di tengah upaya para pemimpin kudeta mengatasi gerakan pembangkangan sipil, yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Para pengunjuk rasa terus membangkang, sebagian dari mereka membentuk barikade.

Jumlah penangkapan:

Jumlah penangkapan sejak unjuk rasa dimulai belum dikonfirmasi. Grup pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tawanan Politik menyebut angkanya 850, namun ratusan lainnya tampak telah ditangkap akhir pekan ini.

Pernyataan PBB:

“Rakyat Myanmar berhak untuk menggelar aksi damai dan berhak untuk menyuarakan desakan pemulihan demokrasi,” kata juru bicara organisasi HAM PBB, Ravina Shamdasani.

“Penggunaan senjata mematikan terhadap unjuk rasa damai tidak pernah bisa dibenarkan menurut normal hak asasi manusia internasional,” imbuhnya.

Keberadaan Suu-Kyi:

Aung San Suu Kyi belum pernah terlihat di depan umum sejak dia ditahan di ibu kota Nay Pyi Taw ketika kudeta dimulai.

Suu Kyi dijadwalkan untuk menghadiri persidangan pada hari Senin, 1 Maret 2021, atas dakwaan kepemilikan walkie-talkie yang tidak terdaftar dan melanggar peraturan virus corona. Namun pengacaranya berkata ia tidak bisa berbicara dengan Suu Kyi.


0 Komentar