Upaya Persekusi Pada Minoritas Baha'i di Iran

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Foto: Deutsche Welle

-

AA

+

Upaya Persekusi Pada Minoritas Baha'i di Iran

International | Jakarta

Rabu, 10 Maret 2021 10:43 WIB


HALUAN.CO - Keberadaan kaum Baha'i di Iran telah dianggap nista, dan oleh sebab itu mereka mengalami persekusi. Kini sebuah dokumen yang diterima Deutsche Welle mencatat betapa praktik diskriminasi dijalankan secara sistematis oleh negara.

Apa yang penting:

Dilansir dari laporan Deutsche Welle pada Senin, 8 Maret 2021, di dalam dua lembar dokumen yang mereka terima, tercatat salah satu kebijakan diskriminasi sistematis terhadap minoritas agama paling gencar di Iran. Di dalamnya, pemerintah kota Sari menyepakati tindak persekusi terhadap pengikut Baha'i.

Sebanyak 19 perwakilan pemerintah provinsi dan kota, kepolisian, lembaga pendidikan dan bisnis, serta dinas rahasia, bertemu dalam Komisi Etnik, Sekte dan Afama di Provinsi Mazandaran. Tujuan pertemuan itu adalah untuk mengontrol gerakan menyimpang dari sekte Bahai.

Deutsche Welle sendiri mendapat salinan dokumen itu dari organisasi HAM, Minority Rights Group (MRG) yang berkantor pusat di London, Inggris.

Konteks:

Baha'i lahir di Iran pada abad ke19 dan kini memiliki lima juta pengikut di seluruh dunia. Tapi di tempat kelahirannya, penganut Baha'i termasuk minoritas yang paling dibatasi haknya. Mereka dianggap kelompok politis atau sekte, dan sebabnya dipersekusi.

Tanggapan MRG:

Bagi Direktur MRG, Joshua Castellino, isi protokol pertemuan begitu mengejutkan karena membuktikan adanya strategi terpusat, di mana sebuah lembaga negara memberikan perintah persekusi terhadap Baha'i kepada semua aktor pemerintah.

Tanggapan ECCHR:

Wolfang Kaleck dari Pusat Hak Konstitusional dan Hak Asasi Manusia Eropa (ECCHR) di Berlin, mengungkapkan bahwa selama ini isu diskriminasi melawan minoritas Baha'i sudah diproses oleh berbagai lembaga PBB.

“Tapi selama ini, pemerintah Iran bisa melepaskan tanggung jawab, dan mengatakan bahwa mereka tidak berurusan dengan praktik diskriminasi, melainkan gerakan tertentu di masyarakat yang menyerang kaum Bahai. Dokumen ini menjadi indikator, bahwa setidaknya di level provinsi, negara menjalankan kebijakan untuk mengucilkan kaum Baha'i dari kehidupan publik,” urai Kaleck kepada Deutsche Welle.

Tanggapan eks-Pemantau Khusus PBB:

Menurut Heiner Bielefeldt, bekas Pemantau Khusus PBB untuk Kebebasan Agama dan Ideologi, Warga Baha'i di Iran juga berulangkali menghadapi dakwaan mati, terutama di tahun-tahun pertama usai pendirian Republik Islam.

“Apa yang terjadi adalah aksi pengrusakan terarah terhadap pemakaman. Tindakan tersebut bukan berbentuk corat-coret di kuburan seperti yang biasa dilakukan individu, melainkan penghancuran makam dengan menggunakan mesin penggilas,” tandas Bielefeldt.

Masyarakat Iran memang tidak terlibat secara langsung. Represi negara yang tajam, tidak serta merta didukung oleh masyarakat.


0 Komentar