Myanmar: Pemberlakuan Darurat Militer dan Catatan 126 Pengunjuk Rasa yang Telah Meregang Nyawa

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Foto: Stringer / Reuters

-

AA

+

Myanmar: Pemberlakuan Darurat Militer dan Catatan 126 Pengunjuk Rasa yang Telah Meregang Nyawa

International | Jakarta

Senin, 15 Maret 2021 10:03 WIB


HALUAN.CO - Lebih dari seratus pengunjuk rasa telah meregang nyawa dalam gelombang aksi protes kudeta militer di Myanmar. Militer Myanmar pun memberlakukan darurat militer atas kondisi itu.

Apa yang terjadi:

Sebanyak 22 orang pengunjuk rasa anti-kudeta dan seorang anggota polisi, tewas dalam bentrokan di kota industri Hlaingthaya, utara Myanmar, pada Minggu, 14 Maret 2021, menyusul pembakaran sejumlah pabrik China di wilayah itu.

Dilansir dari CNN Indonesia, pasukan keamanan dilaporkan menembaki pengunjuk rasa di Hlaingthaya yang merupakan rumah bagi mayoritas imigran di Myanmar.

Sementara itu, 16 orang pengunjuk rasa lainnya tewas dalam bentrokan yang terjadi pada beberapa kota selain di Hlaingthaya.

Apa yang penting:

Akibat kerusuhan berdarah itu, angkatan bersenjata Myanmar (Tatmadaw) memberlakukan darurat militer di Hlaingthaya dan distrik lainnya di Yangon.

Konteks:

Wakil Presiden Myanmar yang ditunjuk parlemen untuk memimpin pemerintahan sipil paralel negara itu, Mahn Win Khaing Than, bersumpah akan mencapai “revolusi” untuk menggulingkan junta militer.

Khaing Than berbicara kepada publik untuk pertama kali, pada Sabtu, 13 Maret 2021, dari lokasi persembunyiannya. Saat ini, Than sedang dalam pelarian bersama dengan sebagian besar pejabat senior dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang seharusnya berkuasa.

Tanggapan AAPP:

Hingga Senin, 15 Maret 2021, Lembaga pemantau hak asasi manusia, Assistance Association for Political Prisoners (AAPP), telah melaporkan bahwa setidaknya total 126 orang tewas akibat bentrokan pedemo anti-junta militer Myanmar dan aparat keamanan sejak kudeta berlangsung.

AAPP mengatakan akhir pekan lalu menjadi bentrokan berdarah paling parah sejak kudeta 1 Februari lalu.

AAPP juga mengatakan sejauh ini sebanyak 2.150 orang telah ditahan sejak 1 Februari lalu. Sebanyak sekitar 300 orang kabarnya telah dibebaskan.


0 Komentar