Ketika Facebook diboikot Gara-Gara Ujaran Kebencian

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Illustrasi brand menjauhi platform facebook

-

AA

+

Ketika Facebook diboikot Gara-Gara Ujaran Kebencian

Overview | Jakarta

Kamis, 02 Juli 2020 14:42 WIB


Sejumlah perusahaan menghentikan atau memboikot iklan mereka di Facebook. Para perusahaan ini menilai Facebook gagal mengatasi ujaran kebencian di platform mereka.

Aksi boikot ini melibatkan beberapa perusahaan besar. Di Amerika Serikat, pabrikan otomotif Honda menghentikan pemasarannya lewat Facebook mulai Juli 2020. Kebijakan perusahaan menunjukkan dukungan terhadap publik dalam melawan kebencian dan rasisme. Langkah serupa juga dilakukan oleh jejaring kopi Starbuck yang menghentikan iklannya di semua platform media sosial. Manajemen perusahaan mengatakan Starbuck menentang kebencian dan mendukung penuh upaya menghentikan penyebaran video rasisme di media Sosial.

Jika di total, setidaknya ada 160 perusahaan yang ikut memboikot Facebook. Ini kenyataan pahit bagi Facebook. Media sosial terbesar di dunia ini harus kehilangan banyak banyak permintaan untuk iklan.

Kenapa Facebook menjadi sasaran?

Kasus pembunuhan George Floyd oleh Kepolisian Minneapolis berbuntut panjang. Publik turun ke jalan menentang rasisme yang sudah mengakar dalam di Amerika Serikat. Sementara dukungan mengalir deras dari banyak tokoh terkenal, Presiden AS Donald Trump justru seringkali mengunggah ujaran bernada kebencian. Cuitan orang nomor satu di Negeri Paman Sam itu bahkan sempat dilabeli hoax oleh Twitter.

Sementara itu, ujaran kebencian masih terus muncul di media sosial, termasuk Facebook. Banyak perusahaan menilai Facebook gagal membendung ujaran kebencian yang masih sering muncul ini. Perusahaan peralatan rekreasi asal Amerika Serikat, The North Face dalam tweetnya mengatakan bahwa manajemen menarik iklan di Facebook demi mendukung kampanye #StopHateforProfit. Kampanye ini pada dasarnya menuntut perbaikan dan keamanan Facebook untuk meregulasi kontennya, terutama konten yang dianggap membahayakan para demonstran dan komunitas minoritas di Amerika Serikat.

Kampanye tersebut menuntut Facebook untuk lebih selektif dalam pemeriksaan informasi yang tersebar di platform media sosial mereka. Media sosial untuk saat sekarang ini memang menjadi sarana penyampaian informasi yang banyak digunakan masyarakat.

Walaupun sangat bermanfaat sebagai pemberi informasi. Terkadang media sosial tidak begitu memperhatikan konten yang diunggah pengguna. Sehingga tidak jarang bukannya memberi informasi, malah memicu konflik.

Seperti yang dialami media sosial Facebook. Platform ini harus menghadapi masalah besar karena membiarkan unggahan dari Presiden AS Donald Trump yang berisi ujaran kebencian dan rasisme.

Keputusan besar

Kebijakan menarik iklan di Facebook sejatinya bukan keputusan mudah bagi perusahaan. Pakar Marketing sekaligus Associate Consultant di Inventure Farid Fatahillah menuturkan iklan di media sosial sangat efektif dan efisien karena bisa menarget audience secara lebih presisi. “Dengan bujet yang rendah dampaknya bisa lebih terukur,” ujarnya kepada Haluan.co.

Iklan di media sosial juga bisa dilacak mana konsumen yang sudah terpapar iklan dan bisa didekati langsung untuk membeli produk. Sementara dampak penarikan iklan dari Facebook sangat bergantung pada ketergantungan perusahaan itu sendiri. Selain Facebook, ada alternatif lain untuk beriklan seperti Twitter atau bahkan TikTok. Meski Farid mengakui sampai saat ini jaringan yang paling efektif masih dimiliki oleh Facebook, termasuk di dalamnya Instagram dan Whats App.

Facebook boleh dibilang merajai sosial media di dunia. Pada triwulan pertama 2020, jumlah pengguna harian Facebook mencapai 1,73 miliar. Pun demikian, aksi boikot ini langsung merontokkan valuasi Facebook di pasar saham. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini rugi US$7,2 miliar atau setara dengan Rp103 triliun di pasar modal.

Vice president for Public Affairs Facebook Nick Clegg menegaskan perusahaan tidak mendapatkan manfaat dari pidato kebencian di platformnya. Clegg mengaku telah melakukan berbagai cara untuk memerangi konten kebencian. Ia berjanji bahwa perusahaan akan berusaha mengatasi ujaran kebencian di platformnya. Dalam aturan terbarunya, Facebook melarang konten iklan yang berisi klaim atas orang dari ras, etnis, kebangsaan, agama, kasta, orientasi seksual, gender, dan status imigrasi tertentu yang mengarah pada ancaman fisik, kesehatan maupun kelangsungan hidup.

Aksi boikot oleh perusahaan-perusahaan ini menjadi bukti nyata masih banyak pihak yang mendukung perjuangan melawan rasisme. Jika tidak mau tertinggal, Facebook harus segera membenahi diri.


0 Komentar