Asal Mula Vaksinasi dan Perkembangannya

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Asal mula vaksinasi (Ilustrasi: Total Politik)

-

AA

+

Asal Mula Vaksinasi dan Perkembangannya

Total Politik | Jakarta

Kamis, 09 April 2020 11:17 WIB


Diinisiasi Edward Jenner dalam mengobati cacar sapi, vaksinasi terus berkembang untuk menangkal sekaligus sebagai antibodi penyakit.

WABAH corona yang merebak ke seluruh dunia dan membuat panik masyarakat dunia kali ini membuat para saintis mencari penangkal virusnya. Berbagai saintis dari belahan dunia berlomba-lomba membuat vaksin untuk mengebalkan tubuh manusia dari Covid-19 itu.

Vaksin bisa dikatakan sebagai bahan antigenic yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin disebut imunisasi; dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit-penyakit tertentu.

Edward Jenner

Sebetulnya, keberadaan vaksinasi bukanlah barang baru. Sekitar dua abad lalu, Edward Jenner menjadi penemu pertama vaksin yang ada di dunia. Pria kelahiran 17 Mei 1749 di Berkeley, Gloucestershire, itu adalah seorang dokter ahli bedah di Inggris.

Pada 1796, Edward melakukan pembuatan vaksin untuk melawan penyebaran wabah penyakit cacar sapi melalui bakteri variola vera atau smallpox dengan percobaan penelitian pada manusia. Ia memulainya dari penggunaan material cowpox untuk membangun kekebalan terhadap smallpox.

Ketika itu, Edward menyadari bahwa orang yang telah terinfeksi cacar sapi sebelumnya, maka ia tidak akan terkena smallpox.

Sebagai percobaan, ia menginokulasi seorang anak dengan cowpox, lalu menginfeksinya dengan smallpox. Hasilnya, anak tersebut tetap sehat karena telah terkena cowpox sebelumnya. Inokulasi tersebut menyebabkan sakit lebih sedikit daripada inokulasi smallpox.

Pada abad 19, vaksinasi milik Edward mulai didukung pemerintah untuk mengurangi wabah penyakit yang terjadi. Presiden Amerika Serikat, Raja Tsar Rusia, Raja Swedia, Kaisar Prancis Napoleon I, dan Pasha Mesir Ali Muhammad sangat antusias dengan keberadaan vaksin tersebut.

Dengan demikian, penelitian Edward mampu memberikan perubahan yang luar biasa pada dunia medis dan teknologi selama 200 tahun, dan mampu menghilangkan penyakit cacar sapi.

Vaksin buatan Edward akhirnya memberikan inspirasi untuk pengembangan vaksin selanjutnya dalam melawan berbagai penyakit.

Louis Pasteur

Selanjutnya, program Pasteur yang berslogan “une maladie, un vaccin” atau sebuah vaksin untuk tiap masing-masing penyakit diaksanakan. Pada 1881, seorang ilmuwan sains, Louis Pasteur, meluncurkan program profilaksis guna melawan semua penyakit yang berawal dari infeksi. Ia memperkenalkan “virus-vaccin” yang ia persingkat menjadi “vaccin.”

We now have virus vaccines. These vaccines can protect against death, without being lethal themselves,” kata dia ketika memperkenalkan “virus-vaccin” di Akademi Sains di Prancis pada 1881, dalam jurnal “A Brief History of Vaccines and Vaccination.”

Selanjutnya, pengembangan vaksin terus berlangsung. Experiment Pasteur yang terus-menerus ternyata menciptakan vaksin rabies dan anthrax untuk manusia. Vaksin wabah (pes) juga juga ditemukan pada akhir abad 19.

Masuk ke abad 20, pengembangan vaksin bakteri setelah Pasteur terus dilakukan antara 1890 dan 1950.

Salah satu buah hasilnya adalah vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG) yang masih digunakan hingga hari ini untuk melawan penyakit tuberkolosis, penyakit menular yang disebabkan oleh mikobakteria, umumnya mycobacterium tuberculosis. Nama vaksin tersebut diambil dari nama penemunya, yaitu dr. Albert Calmette dan peneliti Camille Guerin.

Vaksinasi, Solusi Jangka Panjang Atasi Corona

Pada tahun 1923, Alexander Glenny menyempurnakan metode penginaktifan racun tetanus dengan formaldehida. Pada 1926, metode yang sama digunakan untuk mengembangkan vaksin untuk melawan penyakit difteri, penyakit yang menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan dan terkadang dapat memengaruhi kulit.

WHO

Pada pengambangan vaksin pertussis—penyakit batuk rejan—pengembangannya lebih lama melalui vaksin sel yang telah terlisensi pertama kalinya di Amerika Serikat pada 1948. Setelah beberapa vaksin penyakit ditemukan, barulah upaya vaksinasi mulai dilakukan oleh World Health Organization (WHO).

Kurang lebih dua setengah dekade kemudian, WHO meluncurkan program imunisasi secara meluas, atau dikenal Expanded Programme on Immunization (EPI), pada 1974.

Tujuannya, mendorong setiap anak di bawah 1 tahun mendapatkan proteksi terhadap enam penyakit, yakni tuberkolosis, tetanus toxoid, pertusis, difteri, polio, dan campak. Upaya tersebut dilanjutkan kembali pada tahun 1990.

WHO terus melakukan vaksinasi untuk perlindungan anak sebanyak lebih dari 80 persen dari total anak dunia dari enam penyakit yang terdaftar dalam EPI. Vaksin baru kemudian ditambahkan ke daam daftar penyakit EPI di berbagai negara.

Pada 1999, Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) memperpanjang program EPI. Kemudian, aliansi itu mencoba menawarkan bantuan kepada negara-negara miskin untuk mengenalkan vaksin baru dalam program nasional mereka.

Meski demikian, masih ada 24 juta bayi yang belum menerima vaksinasi EPI secara lengkap tiap tahunnya. Klaim mereka, kesuksesan EPI dapat dilihat dari pengurangan kasus campak dan polio di dunia.

“Dua penyakit itu ditargetkan WHO agar dieliminasi melalui vaksinasi,” tulis dalam artikel History of Vaccine Development. (AK)


0 Komentar