Bangun Pabrik Kereta Api, Perusahaan Swiss Tawarkan Investasi Rp6 Triliun
Swiss akan produksi kereta api di Banyuwangi. (Foto: Kemlu)

JAKARTA, HALUAN.CO - Ketua SwissCham Luthfi Mardiansyah serta Ketua Komite Swiss Kadin Indonesia Francis Wanandi menegaskan, beberapa peluang di sektor perdagangan dan investasi yang dapat dimanfaatkan dunia usaha Swiss mendapat perhatian serius dari para peserta business forum di Swiss.

Penyelenggaraan business forum ini juga menjadi momentum yang tepat untuk menjelaskan kebijakan dan prioritas Pemerintah setelah dilantiknya Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin untuk periode 2019-2024. Duta Besar RI Bern, Muliaman D. Hadad dalam pembukaan dan paparannya menyampaikan visi ekonomi Pemerintah Indonesia pada tahun 2045.

"Presiden Joko Widodo memiliki visi dimana Indonesia akan menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar di tahun 2045, tepat ketika Republik Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya" ucap Duta Besar, dikutip laman resmi Kementerian Luar Negeri, Senin (16/12/2019).

Lebih lanjut, Duta Besar juga memaparkan kondisi perekonomian Indonesia secara makro, dan menyampaikan lima prioritas Pemerintah saat ini.

"Di periode kedua Pemerintahan Joko Widodo, Pemerintah memiliki lima prioritas utama yakni pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul, pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi, penyederhanaan birokrasi, serta transformasi ekonomi," tutup Duta Besar RI.

Antusiasme para pengusaha Swiss terlihat jelas ketika tiba pada sesi diskusi bersama, dimana terdapat banyak pertanyaan dan apresisasi atas kebijakan terbaru Pemerintah Indonesia di periode kedua Presiden Joko Widodo. Diskusi pun terus berlanjut pada saat makan siang bersama antara Duta Besar, narasumber, serta para pengusaha Swiss tersebut.

Menurut data Swiss Federal Customs Administration, nilai perdagangan Indonesia Swiss tahun 2108 mencapai USD1,415 miliar dengan nilai ekspor Indonesia USD910 juta dan impor dari Swiss USD505 juta. Sebagian besar dari ekspor Indonesia ke Swiss adalah emas yaitu lebih dari 60 persen, kemudian alas kaki menempati urutan kedua lalu kopi, minyak atsiri, kakao, mebel dll.

Sedangkan impor Indonesia dari Swiss didominasi oleh permesinan, produk farmasi dan kimia organik. Menurut catatan Kementerian Perdagangan RI, ekspor Indonesia ke Swiss meningkat pada periode Januari – September 2019 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu dari USD 1,119 milyar tahun 2018 menjadi USD 1,136 milyar tahun 2019.

Sementara komitmen investasi ke Indonesia untuk tahun 2019 cukup besar yaitu investasi dalam pendirian pabrik kereta api, akuisisi sebuah perusahaan asuransi Indonesia oleh asuransi Swiss, serta perluasan kapasitas sebuah perusahaan Swiss di Indonesia yang totalnya mencapai lebih dari USD700 juta atauRp 6 triliun.

Seperti diketahui, KBRI Bern kembali mengadakan temu bisnis yang lebih merupakan update perkembangan ekonomi terkini Indonesia kepada dunia usaha Swiss. Kegiatan yang didukung oleh Swiss Asian Chambers of Commerce (SACC) ini berlangsung Selasa 10 Desember 2019 di Zurich.

Tema yang diusung dalam acara ini adalah The New Commitment of Indonesia's New Government. Lebih dari 50 pengusaha Swiss termasuk yang sudah memiliki usaha di Indonesia seperti Zurich Insurance hadir memadati tempat acara.

Acara kali agak berbeda dibandingkan tahun lalu karena selain pemaparan mengenai perkembangan ekonomi, potensi investasi dan perdagangan, terdapat wakil dari Ditjen Pajak yang memberikan informasi mengenai kebijakan perpajakan yang perlu diketahui investor dan eksportir Swiss.

Para nara sumber antara lain Direktur Fasilitas Daerah BKPM Nurul Ichwan, Ketua Komite Swiss Kadin Indonesia Francis Wanandi, Ketua SwissCham Indonesia Luthfi Mardiansyah, Atase Perdagangan RI di Jenewa Franciska Simanjuntak, Atase Perindustrian RI di Brussels Ari Indarto serta Ketua Komite Indonesia SACC Jesse NG.

Selain sektor investasi yang terbuka bagi asing serta peluang kerjasama perdagangan, hadirin juga antusias pada paparan mengenai terbuka kesempatan baru setelah berlakunya Indonesia EFTA Comprehensif Economic Partnership Agreement (IE CEPA).


Penulis: Milna Miana