EsmaiI Qaani: Komandan Bayangan Pasukan Quds Pengganti Soleimani
Komandan baru Pasukan Quds, Esmail Qaani (tengah). (Foto: Anadolu Agency)

JAKARTA, HALUAN.CO - Beberapa jam setelah pembunuhan jenderal top Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, Qassem Soleimani, oleh Amerika Serikat (AS), Pemimpin Tertinggi negara Mullah itu, Ayatollah Ali Khamenei, menunjuk seorang pengganti untuk memimpin Pasukan Quds.

Ayatollah Ali Khamenei menjatuhkan pilihannya ke Esmail Qaani, yang menjabat sebagai wakil Soleimani selama lebih dari dua dekade. Tujuannya, untuk memastikan transisi kepemimpinan unit asing strategis pada saat meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, dapat ditangani dengan cepat.

Diketahui, pembunuhan Soleimani dalam serangan udara AS di Irak, mendorong AS dan Iran ke ambang perang. Dimana, Iran melakukan balasan serangan dengan ke pasukan AS di Irak, meski berakhir tanpa korban jiwa. Khamenei sejak saat itu menyerukan pengusiran pasukan AS dari wilayah tersebut.

Di bawah Soleimani, unit ini membantu meningkatkan pengaruh Iran di Timur Tengah dengan membangun jaringan proxy yang luas.

Bunuh Jenderal Soleimani, Noam Chomsky Sebut AS Sudah Langgar Hukum Internasional

Di Suriah, Pasukan Quds memainkan peran penting dalam menopang dukungan untuk Presiden Suriah Bashar al-Assad yang diperangi setelah negara itu berperang pada 2011. Ia juga mempersenjatai dan melatih milisi yang membantu mengalahkan kelompok terorisme ISIS di Suriah dan Irak.

Loyal, Berkomitmen

Khamenei, yang menunjuk Qaani pada 3 Januari lalu, mengatakan, Qaani adalah di antara para komandan IRGC yang paling terkemuka selama perang 1980-1988 antara Iran dan Irak.

Pada hari pemakaman Seleimani, Qaani berjanji untuk melanjutkan perjuangan pendahulunya, dengan kekuatan yang sama. Ia memastikan, pembunuhan Soleimani akan dibalas dalam beberapa langkah ke depan. Langkah pertama ialah dengan mengeluarkan pasukan militer AS dari Irak.

Pakar ilmu politik di Universitas Tennessee, AS, Saeid Golkar, menilai, alasan Khamenei Qaani, karena sangat penting bahwa pemimpin baru Pasukan Quds, harus setia dan berkomitmen untuk dirinya sendiri dan IRGC.

Pemimpin baru itu juga mesti akrab dengan Pasukan Quds serta harus mempunya kemampuan untuk mengelola pasukan dan proksi Iran. "Ini (sifat) yang penting," imbunya, dilansir dari Aljazeera, Senin (20/1/2020).

Kendati, tantangan Qaani dalam menggantikan Soleimani cukup besar. Pasalnya, Soleimani dikenal berperan penting dalam meningkatkan pengaruh Iran di Timur Tengah, dengan memainkan peranan di Suriah, Irak, Libanon dan Yaman.

Sosok Soleimani juga dipandang sebagai pahlawan oleh banyak kalangan di Iran dan bahkan orang terkuat nomor dua di Iran setelah Pemimpin Agung Ayatollah Khamenei.

Saat berbicara menanggapi kematian Soleimani, Qaani mengucapkan ikrarnya.

"Allah Maha Besar telah berjanji untuk melakukan balasan atas Soleimani yang menjadi martir. Jelas tindakan-tindakan akan ditempuh," ucap Qaani kepada stasiun televisi pemerintah Iran.

Sementara saat mengumumkan Qaani sebagai pengganti Soleimani, Ayatollah Khamenei mengatakan pasukan Quds "tidak berubah".

Qaani Cocok Pimpin Pasukan Quds

Esmail Qaani, dilahirkan pada 8 August 1957 (62) di kota Mashhad di timur laut Iran. Qaani bergabung dengan IRGC pada 1980, beberapa bulan sebelum pasukan Irak menyerbu Iran barat, yang memicu perang delapan tahun berdarah yang menewaskan sekitar satu juta orang.

Pakar IRGC dan rekan senior di Institut Negara-Negara Teluk Arab yang berbasis di AS, Ali Alfoneh, menjelaskan, pada Maret 1982, di garis depan perang, Qaani berteman dengan Soleimani,

Memang, Qaani sangat dekat dengan Soleimani yang sama-sama ditempa selama perang.

"Kami adalah kawan-kawan perang, dan peranglah yang membuat kami berteman," katanya seperti dikutip dalam wawancara 2015 oleh kantor berita IRNA.

"Mereka yang menjadi teman di masa-masa sulit memiliki hubungan yang lebih dalam dan lebih langgeng daripada mereka yang menjadi teman hanya karena mereka teman dekat."

Alfoneh mengatakan, dalam waktu perang, disitulah Qaani bertemu dengan Khamenei, yang merupakan presiden Republik Islam pada saat itu.

Setelah perang, Qaani diangkat sebagai wakil kepala pasukan darat IRGC, dan menurut Alfoneh, kemungkinan memainkan peran utama dalam operasi-operasi IRGC melawan kartel narkoba di Afghanistan dan dalam dukungannya kepada Aliansi Utara, yang berjuang untuk menahan Aliansi Utara, Taliban, pada 1990-an.

Meskipun tidak jelas kapan Qaani bergabung dengan Pasukan Quds, media Iran mengatakan dia ditunjuk sebagai wakil unit pada 1997, tahun yang sama ketika Soleimani ditunjuk sebagai komandannya. Akan tetapi, menurut Behravesh, penunjukan itu datang bertahun-tahun kemudian, pada 2007.

Komandan Bayangan

Dengan pembagian kerja yang jelas dan mempertahankan lingkup pengaruh yang berbeda secara geografis, Soleimani dan Qaani bersama-sama memainkan peran strategis dalam memperluas pengaruh Iran di Timur Tengah.

"Sementara Soleimani adalah ikon nasional dan pemimpin karismatik memobilisasi massa di belakang apa yang dia dan Republik Islam anggap sebagai penyebab suci, Qaani terus-menerus memperhatikan kebutuhan organisasi dan administrasi Angkatan Quds di bayang-bayang," kata Alfoneh kepada Al Jazeera.

Balas Dendam, Iran Resmi Gempur Pangkalan Militer AS di Irak

"Soleimani juga menghabiskan lebih banyak waktu di Iran barat, sementara Qaani menghabiskan sebagian besar waktunya di Iran timur. Sebagai konsekuensinya, fokus profesional Qaani adalah pada Syiah Pakistan dan Afghanistan, tetapi juga sekutu (lainnya) di Asia Tengah," katanya. lanjutnya.

Dalam beberapa pernyataan Qaani, ia mengaku membanting Amerika Serikat dan Israel. Qaani menegaskan, dalam satu artikel 2017, "Kalau Amerika ingin merusak Iran, kami siap melawan dengan senjata".

Seorang analis politik Persis Media, yang berbasis di Swedia, Maysam Behravesh, menilai, Qaani akan membawa Pasukan Quds untuk suatu perubahan yang kesinambungan, dengan tujuan lebih besar yakni melawan AS.

"Kebijakan yang sama diperkirakan akan terus berlanjut, tetapi mungkin dengan kekuatan dan kekejaman yang lebih besar sekarang. Karena tekanan maksimum AS terhadap Iran tampaknya melibatkan 'pemenggalan kepemimpinan'," katanya.

Kendati, operasi Pasukan Quds saat ini lebih banyak di Timur Tengah dan Asia, namun dibawah kepemimpinan Qaani, kemungkinan akan memperluas wilayah pengaruh Iran.

"Qaani dilaporkan memiliki hubungan baik dengan kelompok-kelompok Muslim Afrika yang berpikiran sama, yang menyarankan Pasukan Quds di bawah komandonya mungkin berusaha untuk memiliki kehadiran yang lebih aktif di sana," katanya.

Afshon Ostovar, asisten profesor urusan keamanan nasional di Sekolah Pascasarjana Angkatan Laut yang berbasis di AS, mengatakan, kegiatan Pasukan Quds di Afghanistan mungkin menjadi lebih menonjol.

Mengingat pengalaman pribadi Qaani di Afghanistan, dia bisa menjadikan negara itu lebih fokus daripada sebelumnya. "Tetapi setiap perubahan mungkin akan secara strategis marjinal," kata Ostovar.

Disisi lain, keenganan Qaani yang tidak suka dirinya disorot tidak mungkin berubah. Ostovar mengatakan, sikap Qaani seperti itu, dimana dia adalah seorang pejabat militer, berpotensi akan menjadi salah satu yang menentukan di Pasukan IRGC. "Dia tidak mencari sorotan, dan IRGC belum mencari sorotan untuknya. "

Ada baiknya sikap Qaani yang tidak suka pencitraan alias tidak gemar publisitas itu untuk masa depan karir dan kinerjannya. Karena, dengan jika gemar pencitraan, tentu pihak-pihak intelijen lawannya akan mudah mencari informasi sebanyak mungkin serta kelemahan Qaani.

Karena, almarhum Jenderal Qassem Soleimani, karena saking tersohornya dan mudah mencari informasi terhadap dia, berakibat pada pembunuhan.

Behravesh mengatakan Qaani diharapkan menjadi komandan bayangan nyata Iran. "IRGC akan melakukan yang terbaik untuk tidak digigit di tempat yang sama lagi," tukasnya.