PHRI: Selain Rusak Citra Pariwisata dan Hotel, Andre Rosiade Juga Permalukan Masyarakat Sumbar
Detik-detik Andre Rosiade gerebek prostitusi online. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menilai, penggerebekan pekerja seks komersial (PSK) di salah satu hotel dengan cara penjebakan, yang diduga anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade terlibat, telah merusak citra Sumatera Barat (Sumbar). 

Menurut Hariyadi, jika Andre merasa gerah dengan temuan adanya prostitusi, semestinya dilaporkan ke pihak berwajib.

"Dia (Andre) kan bukan penegak hukum. Kalau memang dia menduga ada prostitusi online tentu dia harus lapor kepada polisi, supaya polisi melakukan penyelidikan," kata Hariyadi saat dihubungi Haluan.co, Sabtu (8/2/2020).

Andre Tuding Pendukung Ahok di Balik Gencarnya Serangan Jebakan PSK

Hariyadi yang juga Ketua Umum sosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini menganggap aksi yang dipertontonkan Andre itu sudah salah kaprah. Karena, secara tidak langsung, Andre mengajarkan masyarakat untuk main hakim sendiri.

Padahal, kata Hariyadi, Indonesia adalah negara hukum. Apalagi Andre adalah anggota legsilatif yang semestinya sangat memahami hukum.

Akibat kejadian tersebut, bukan hanya citra pariwisata, hotel, tapi masyarakat Sumbar terkena efeknya. Karena, sudah membuat publik, khususnya Sumbar, menjadi gaduh.

"Polemik ini yang dirugikan pastinya citranya Sumbar, citranya menjadi buruk dengan situasi seperti ini, pariwisata secara keseluruhan menjadi jelek, kedua pihak hotel pastinya dirugikan banget, karena dianggapnya hotel menjadi seolah-olah menjadi tempat fasilitas seperti itu, itu kan enggak betul," tuturnya.

Dikatakan Hariyadi, sangat berbeda jika polisi yang melakukan itu dengan prosedur dan ketaatan hukumnya, pasti masyarakat akan menerima. Karena, memang tugas polisi menegakkan hukum. Sementara Andre bukan penegak hukum.

"Dia (Andre) yang melakukan tentunya menjadi kontroversi yang seharusnya tidak perlu seperti itu. di tambah lagi polemik bahwa teman-teman di sana Pak Maulana Yusran (Ketua PHRI Sumbar) mempunyaa bukti yang kuat bahwa itu di setting, ini menurut teman-teman di sana ya, saya dengar seperti itu," tuturnya.

Selain masyarakat Sumbar, Hariyadi juga menaruh prihatin pada PSK tersebut dalam hal dia sebagai seorang perempuan.

"Si PSK sendiri juga dalam arti kata seperti jadi (bulan-bulanan), walaupun dia salah tapi posisi dijebak seperti itu kan juga dari segi hak asasinya tidak pas, sebagai seorang wanita. Kalau dilakukan oleh petugas yang berwenang emang pekerjaanya. Jadi saya bilang si Andre nya terlalu gegabah," ungkap Hariyadi.

Sementara itu, Ketua PHRI Sumbar, Maulana Yusran mengingatkan agar tidak ada lagi pihak-pihak yang demi ambisi politik, lantas merugikan, apalagi merusak citra pariwisata.

"Kami diobrak-abrik demi konspirasi politiknya. Andre selalu beralasan konstituennya terbesar di sini (Padang), katanya dapat laporan dari masyarakat maka dia merasa punya kewajiban untuk memberantas prostitusi, sampai sini poinnya baik, saya setuju. Namun Andre melakukannya tidak sesuai tatanan yang ada. Dia (anggota) DPR tentu dia tahu aturannya," kata Maulana dilansir dari Covesia.com.

Menurut Maulana, aksi seperti itu semestinya dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak hotel. Sedangkan penjebakan yang diduga melibatkan Andre, sama sekali tak ada koordinasi.

"Kalau mau gerebek koordinasi dulu dengan kita (Pihak Hotel). Ini yang saya sayangkan. Biasanya Polisi melakukan penggrebekan selalu berkoordinasi dengan kita, tapi kali ini tidak. Ini aneh," tegasnya.

Maulana menjelaskan sudah menjadi budaya Indonesia bahwa ketika orang bertamu, maka akan dipersilahkan duduk di ruang tamunya, bukan ujug-ujug masuk ke dalam kamar.

"Kalau mau bertamu ke rumah orang kita ke ruang tamunya dulu dong? Bukan langsung ke kamarnya. Hotel ini rumah untuk traveler, nggak bisa main masuk kamar saja. Kalau main buka-buka kamar saja, bahaya ini," kecam Maulana.

Selain itu, Maulana juga menyayangkan sikap Andre yang seolah-olah mengajak masyarakat untuk menyaksikan proses penggerebekannya dalam video yang dibagikannya di media sosial tersebut.

Bagi dia, semua ada aturannya. Apalagi Andre seorang anggota dewan yang tentu memahami hukum. "Semua ada aturannya, dan saya rasa Andre seorang anggota DPR, pembuat UU tahu hukum lah. Kalau semua anggota legislatif bisa main gerebek-gerebek gitu bahaya lah kita sebagai pebisnis. Dapat laporan dari masyarakat sedikit langsung gerebek, semua ada aturannya," papar Maulana.

Maulana juga menyambut baik sikap Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan Komisi III DPR menyoroti kasus ini secara hukum. Sehingga bisa terlihat jelas siapa yang salah.

"Kita selesaikan secara bijaksana, kita mau buka-bukaan secara hukum. Kita punya CCTV di semua koridor dan siap kami buka jika diminta. Kami bisa tau siapa yang reservasi, siapa yang buka pintu, kenapa tidak ada handuk di kamar," tegas Maulana.

"Makanya stop pencemaran nama baik. Ini merugikan kami, sangat merusak citra pariwisata Sumbar, karena pariwisata Sumbar itu hidup karena destinasi seperti budaya, kekayaan alam dan masyarakatnya yang menerima," sambungnya.

Maulana juga meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Kota (Pemko) Padang membantu pihaknya karena masalah ini telah mengganggu pariwisata Sumbar dan Kota Padang khususnya.

"Pemprov dan Pemkot bantu kami, ambil tindakan jangan diam saja. DPRD juga kenapa diam saja. Memerangi prostitusi itu sama saja dengan memerangi korupsi, kita dukung seratus persen, tapi ada aturannya," jelasnya.

Sebelumnya, anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade menyebutkan tengah menyurati pihak Hotel Kryiad Bumi Minang terkait beredarnya struk reservasi atas namanya, sehingga hal itu menjadi perbincangan warganet.

"Yang saya pastikan kamar itu tidak pernah atas nama saya. Saya tidak pernah ke resepsionis. Saya tidak pernah membayar. Andre Rosiade menyatakan tidak pernah mem-booking kamar itu. "Saya dalam proses menyurati (hotel Kyriad) Bumi Minang menanyakan kenapa ada (struk reservasi) yang beredar atas nama saya," kilah Andre.