Takut Tertular Virus Corona, Chinatown London Biasanya Ramai Langsung Sepi Pengunjung
Kawasan China Town London sepi dari pengunjung. (Foto: Dailymail)

LONDON, HALUAN.CO – Sejak virus corona menyebar ke seluruh dunia, termasuk Inggris, restoran, toko maupun pusat belanja di kawasan China Town London, yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan, kini sepi.

Hal itu disebabkan kepanikan masyarakat atas penyebaran virus corona yang sampai ke Inggris dan sembilan orang tekonfirmasi sudah terinfeksi. Apalagi, diantara sembilan orang itu, ada satu orang wisawatan dari China ke Inggris terpapar virus corona.

Dilansir dari Dailymail, Jumat (14/1/2020), jalan-jalan di tempat pusat London biasanya ramai oleh pengunjung yang ingin mencicipi masakan atau menelusuri supermarket yang dikelola orang China, kini keadaannya bagai ditelan bumi. Bahkan, kursi-kursi dipinggir trotoar yang biasanya disesaki pengunjung hingga pukul 21-22 malam, semuanya menjadi kosong.

Hotel Tempat Menginap Warga China Positif Corona di Bali Sudah Terlacak

Seorang wanita, salah satu korban virus corona, yang datang dari China itu, saat ini sedang dirawat rumah sakit St Thomas di London selatan.

Wanita itu diduga terbang ke Inggris bersama para pejabat China lainnya.

Kemarin, lebih dari 750 pasien Inggris, yang datang dari Wuhan, diuji untuk penyakit ini, hanya dalam satu hari. Tak satu pun dari mereka terpapar.

Namun, kekhawatiran kembali muncul setelah pejabat NHS mengakui bahwa pasien terbaru dengan virus itu telah beralih ke unit A&E yang sedang naik taksi Uber.

Kemarin, dokter operasi umum di Islington, London utara, ditutup secara tiba-tiba setelah ketakutan terhadap virus corona.

Penyakit ini telah membunuh 1.383 secara global sementara jumlah kasus telah melampaui 64.000.

Survei terbaru dari Ipsos MORI menemukan bahwa 14 persen warga Inggris mengatakan mereka akan menghindari kontak dengan orang-orang yang berasal dari China atau berperawakan China, karena ketakutan akan virus corona.

Seperempat mengatakan mereka akan menghindari berjabatan tangan dengan orang lain. Dan satu dari lima mengatakan mereka akan menghindari bepergian dengan transportasi umum.

Tiga dari sepuluh mengatakan mereka akan menghindari pertemuan dengan orang yang baru datang dari pesawat untuk pergi berlibur. Sementara dua pertiga mengatakan mereka akan mempertimbangkan untuk menjauh dari negara atau daerah yang terinfeksi.

Kawasan Pecinan di seluruh dunia juga mengalami dampak ketakutan yang meluas.

Sebuah restoran China Town yang populer di Melbourne, Australia, dipaksa untuk menutup pintunya setelah tiga dekade, ketika para pelanggan meninggalkan tempat makan karena takut akan tertular virus mematikan itu.

Shark Fin House dibuka pada tahun 1989 dengan pemiliknya bernama Gabriel Chan dipaksa juga tutup sementara..

Selain itu, banyak yang mengecam atau merespons tidakan ketakutan itu terlalu berlebihan dan menjuru para rasisme terhadap orang Tionghoa.

Naasnya lagi, anak-anak Tionghoa dikucilkan oleh teman-teman mereka di sekolah-sekolah Inggris, dan beberapa menolak bermain dengan mereka.

Para ibu mengatakan kepada BBC bahwa orang-orang bersikap 'rasis' terhadap anak-anak itu karena persepsi 'tidak adil' bahwa wabah itu adalah virus China.

Sementara itu blogger Jex Wang mengklaim bahwa orang yang menggunakan transportasi umum 'pindah' ​​dari orang-orang asal Asia Timur, meninggalkannya 'cemas' untuk meninggalkan rumah.

Dan seorang pemilik kios pasar Taiwan yang berusia 54 tahun di Aberystwyth, Wales Barat, mengatakan, para pemilik kios lainnya mencoba untuk mengusirnya dan menyuruhnya 'pulang'.

Pemegang kios pasar Wales, Su Chu Lu telah pergi ke Taiwan - untuk mengunjungi keluarganya, tapi ketika dia kembali, para tetangganya malah mengubahnya.

Dia mengatakan sekelompok dari mereka telah mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk mencoba dan melarang dia kembali ke kiosnya. Karena khawatir akan 'menempatkan mereka dalam risiko' terkena virus.

Ms Lu menjadi kesal dan menolak untuk pergi kecuali jika pihak berwenang menyuruhnya. Pedagang lain membelanya dan bahkan memasang poster yang mengatakan dia harus diizinkan tinggal.

Yang lain bersikeras itu bukan rasis dan mereka akan mengatakan hal yang sama jika dia berada di tempat lain di mana ada wabah penyakit..