Tebar Pesan-pesan Palsu ke Ukraina, Facebook Bekukan Akun Intelijen Rusia
Ilustrasi Facebook. (Foto: Pojok Satu)

JAKARTA, HALUAN.CO — Pihak Facebook mengklaim telah membekukan jaringan akun, yang digunakan oleh intelijen militer Rusia. Akun FB di Rusia disebut-sebut telah menabur pesan-pesan palsu secara daring dengan mengincar Ukraina serta negara-negara lainnya di Eropa Timur sebagai target.

"Walaupun orang-orang di belakang jaringan ini berusaha menutupi identitas dan koordinasi mereka, penyelidikan yang kami lakukan menemukan keterkaitan dengan dinas intelijen militer Rusia," kata Facebook dalam pernyataannya, dilansir dari Reuters, Rabu (12/2/2020).

Facebook, yang telah bergelut menghentikan pemerintah dan kelompok-kelompok politik menggunakan platformnya untuk menyebarkan informasi palsu atau menyesatkan.

Facebook juga mengaku, secara berkala, telah menghentikan gerakan penyampaian informasi yang salah dari berbagai negara, termasuk Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia belum menanggapi permintaan untuk berkomentar.

Rusia hanya membantah tuduhan yang dilancarkan negara-negara Barat bahwa Mokow melakukan campur tangan, termasuk temuan Jaksa Khusus AS Robert Mueller bahwa Rusia menggunakan akun-akun media sosial dalam upaya untuk memengaruhi hasil pemilihan presiden AS pada 2016.

Kepala kebijakan keamanan siber Facebook, Nathaniel Gleicher, mengatakan operasi terbaru Rusia telah menggunakan lebih dari 100 akun di Facebook serta platform berbagi foto, Instagram, untuk membuat sosok-sosok palsu yang kerap berpura-pura sebagai wartawan di negara-negara yang diincar.

Setelah Ejek WhatsApp, Kini Elon Musk Gaungkan #DeleteFacebook

Akun-akun tersebut kemudian mengontak media dan politisi setempat untuk menabur cerita palsu soal masalah politik yang memecah-belah, seperti dugaan korupsi, ketegangan antarsuku di semenanjung Crimea serta penembakan jatuh pesawat maskapai Malaysia di Ukraina pada 2014.

Facebook juga mengatakan sudah membekukan dua kelompok akun lainnya yang tidak terkait dengan operasi Rusia. Satu di antaranya memiliki kaitan dengan jaringan Iran, yang menargetkan AS, dan satu lainnya berkaitan dengan sebuah perusahaan humas di Vietnam.