Ustad Beben dan Tumbal Politik Anggaran yang Absurd
Ustad Beben meninggal setelah jatuh dari sepeda motor menghindari lubang di Jalan GDC Depok. (Ilustrasi: Haluan.co)

Jalan GDC yang sekira 5 kilometer dari mulai pintu gerbang Jalan Kartini hingga Pasar Pucung di Kalimulya nyaris tak ditemukan jalan mulus. Semuanya geradakan dan berlubang. Dari ribuan lubang salah satunya menjadi musabab meninggalnya ustad Beben.

JAKARTA, HALUAN.CO - Ustad Beben yang punya nama asli warisan orangtua Anggraito Andarbeni bin Supriatno bukanlah sosok populer sekaliber ustad Abdul Somad, ustad Adi Hidayat atau ustad Felix. Popularitasnya tidak kalah melambung tetapi sayang namanya viral atawa mewabah setelah meninggal dunia.

Naam, ustad Beben hanyalah guru ngaji udik di pinggiran Kota Depok, Jawa Barat. Selain guru anak-anak penghafal Alquran di pojokan Kalimulya, ustad Beben juga sehari-hari menjadi tukang ojek online (ojol) sambil mengejar sarjana di Universitas Terbuka.

Di sudut lain tampak Walikota Depok Mohammad Idris marah-marah, tangan mengibas, mata melotot dan gigi gemeretak di sorot kamera televisi partikelir dan kamera gejet. Tapi kemarahan sang walikota itu tak ada gunanya.

Kontraktor nakal, kontraktor maling bahkan mungkin sebutan kontraktor bangsat pun tak mempan. Mungkin sang kontraktor tengah berlibur dan berpesta di tempat lain meninggalkan beton setengah matang, besi cor berantakan dan jalan berlubang. Emang gua pikirin!?

Tapi tahulah wahai sang kontraktor dan juga Pak Walikota, memang nyawa yang melayang akibat kelalaianmu hanya dari satu jasad, ustad Beben. Tapi dampaknya, para calon penghafal Alquran yang dibinanya telah kehilangan sosok panutannya, sang guru, calon sarjana dan juga pelayan jasa ojol.

Grand Depok City (GDC) namanya keinggris-ingrisan. Padahal dulunya hutan bambu. Orang menyebutnya salah satu perumahan elite di kawasan Depok. Di sana ada anggota DPR, pengusaha, pejabat, banyak wartawan dan mungkin juga banyak koruptor. Di sana pula ada kantor DPRD, Pemadam Kebakaran, Polisi Militer dan kantor Kejaksaan.

Tapi yang jadi masalah bukan itu. Jalan GDC yang sekira 5 kilometer dari mulai pintu gerbang Jalan Kartini hingga Pasar Pucung di Kalimulya nyaris tak ditemukan jalan mulus. Semuanya geradakan dan berlubang. Dari ribuan lubang salah satunya menjadi musabab meninggalnya ustad Beben.

Pagi yang nahas bagi ustad Beben, ketika matahari belum menampakan diri, ayah satu anak balita itu berkendara dari rumah menuju kampus UI untuk ujian UT. Tapi lubang di sekitar jembatan Kali Ciliwung yang ditinggalkan kontraktor tidak mau kompromi.

Demi menghindari lubang yang sebagian jadi kubangan cileuncang, motor jatuh dan ustad Beben ikut terbanting. Semua alat keselamatan terpasang dari mulai helm sampai jaket. Tapi ajal telah menjemput.

Melalui mata keyakinan, ustad Beben meninggal dalam jihad. Catat ya, bagi yang alergi dan kelu dengan istilah jihad segera untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini. Apalagi para pejabat yang dengan pongahnya merasa punya kuasa untuk menghapus istilah jihad dari mata pelajaran di sekolah seturut dengan kosakata khilafah yang dianggap memicu faham radikal.

Meminjam istilah Rocky Gerung, pejabat semacam itu sudah masuk dalam tarap dungu karena tidak bisa membedakan istilah jihad dan khilafah sebagai ilmu pengetahuan dengan praksis atau gerakan. Jihad dan khilafah adalah bagian dari sejarah yang tercatat bukan dongeng atau ingauan tukang ngibul. Lalu mau dihapus?

Apa bedanya khilafah dengan komunisme, liberalisme, fasisme, dan otoritarianisme, pun demokrasi pancasila. Sama semua ada teorinya. Semuanya memiliki kompatibilitas dengan masa dan zamannya masing-masing. Apakah Indonesia ada jaminan akan tetap bertahan dengan demokrasi Pancasila?

Ustad Beben meninggal dalam perjalanan untuk belajar di UT. Untuk mengejar sarjana. Setelah itu mungkin berganti jaket berseragam ojol untuk biaya kuliah dan membiayai hidup istri dan anaknya. Soreanya pulang ke rumah mendidik anak-anak calon penghafal Alquran. Coba siapa yang bisa nyangkal dia tidak meninggal dalam jihad.

Ustad Beben bukan kontraktor, pejabat atau pengembang yang tidak bertanggung jawab. Ustad Beben bekerja sebagai mitra ojek online yang fleksibel mengatur dirinya sendiri. Walaupun bukan pekerjaan yang ideal dan lebih banyak makan hati.

Tapi ustad Beben jauh dari upaya menilap uang proyek, mengurangi kandungan semen, memanipulasi ukuran besi dan makan fee yang dibayarkan sebelum tender. Mungkin itu tak pernah terpikirkan.

Ustad Beben adalah tumbal dari politik anggaran yang absurd dari tingkat pusat hingga kota. Politik anggaran yang tidak memancing kreatifitas dan minim imajinasi.

Pemerintah daerah atau kementerian dan lembaga yang sukses adalah mereka yang dapat menyerap semua anggarannya. Menyerap itu menghabiskan anggaran. Tidak mengenal istilah penghematan. Karena hemat sama saja tidak becus kerja. Ujung-ujungnya duit lembaga itu tahun depan dikorting.

Coba, sebegitu absurdnya politik anggaran negeri ini. Anggaran dialihkan untuk projek lain yang bukan semestinya padahal lebih penting dan banyak manfaatnya disebut korupsi. Ngawur nggak?

Itulah yang terjadi dengan sebut saja "Jalan GDC" di Kota Depok. Karena jalan itu masih punya pengembang dan belum diserahkan ke Pemkot Depok jadi belum ada anggarannya untuk memperbaiki jalan rusak. Kalau ada jalan rusak Pemkot hanya bisa tambal sulam dengan anggaran seadanya.

Sampai-sampai jalan itu belum punya nama karena masih milik pengembang. Padahal, Depok selama ini telah memiliki jalan yang bernama gagah dan legendaris dari pahlawan lokal seperti Jalan Margonda, Sawangan dan Tole Iskandar.

Nah, untuk sekadar pengingat katakan saja sekarang jalan sepanjang 5 kilometer itu namanya Jalan Ustad Beben!