3 Obat yang Berpotensi Ampuh Atasi Covid-19
Ilustrasi obat untuk melawan covid-19. (Shutterstok)

JAKARTA, HALUAN.CO – Hingga sekarang, para ilmuwan di seluruh dunia bekerja keras untuk mengembangkan tes, perawatan, dan vaksin untuk memerangi penyakit dari virus corona atau covid-19 yang kian menjadi pandemi global.

Di AS sendiri tengah berusaha menciptakan upaya perawatan yang cepat dan seaman mungkin bagi pasien corona sebagai jembatan dalam menciptakan vaksin. Pembuatan vaksin diperkirakan memakan waktu 12 bulan ke depan. Para ahli medis secara umum pun setuju bahwa perawatan yang baik akan dilakukan sebelum adanya vaksin.

“Jika pengobatan yang baik muncul, apa pun itu, kami berharap regulator memprioritaskan adanya peninjauan yang cepat,” kata Laura Sutcliffe, analis perawatan kesehatan UBS, dalam catatan penelitian, dikutip CNBC.

Hasil konferensi dengan Presiden AS Donald Trump, Komisioner FDA mengonfirmasi bahwa lembaga tersebut sedang mencari obat yang sudah diujicobakan untuk penyakit lain. Ada tiga obat yang menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir di antaranya:

1. Remdesivir buatan Gilead

Obat Remdesivir dikembangkan oleh perusahaan farmasi AS, Gilead Sciences Inc. Obat ini sudah dicoba untuk pengobatan penyakit pernapasan Sindrom Pernafasan Timur Tengah atau MERS (middle east respiratory syndrome) yang juga termasuk jenis coronavirus lainnya, dan pengobatan Ebola.

Saat ini Remdesivir dalam proses uji klinis juga diizinkan digunakan untuk mengobati pasien yang sakit parah ketika tidak ada perawatan lain yang tersedia.

Tim riset farmasi dari Credit Suisse mencatat bahwa untuk sementa ini, obat antivirus ini paling canggih, tetapi Credit Suisse menilai ada kekhawatiran tentang persediaan obat ini secara global.

2. Kevzara dari Regeneron

Tak Remdesivir, raksasa bioteknologi asal AS, Regeneron Pharmaceuticals, juga sedang menguji coba obat antivirus Kevzara untuk digunakan melawan covid-19.

Kevzara saat ini digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis. Regeneron bersama-sama mengembangkan obat dengan perusahaan perawatan kesehatan Prancis Sanofi. Rheumatoid arthritis merupakan peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri.

3. Chloroquine (hydroxychloroquine)

Chloroquine adalah obat malaria generik yang telah terbukti menjanjikan sebagai obat antivirus melawan covi-19. Perusahaan konglomerasi biosains asal Jerman, Bayer, pada Selasa (17/3/2020) lalu mengumumkan telah menyumbangkan 3 juta tablet Resochin, obat malaria yang terbuat dari Chloroquine atau kloroquin fosfat, kepada pemerintah AS untuk membantu mengatasi virus corona.

Tim farmasi Credit Suisse menilai tantangan terkait penyediaan obat antivirus melawan covid-19 ini adalah proses pembuatan dan stok global, sebelum solusi pamungkasnya yakni vaksin.

“Menurut pandangan kami, dengan adanya pandemi global ini, butuh sejumlah besar obat dalam waktu yang sangat singkat. Stok obat, dan pembuatan obat baru tentu membutuhkan waktu berbulan-bulan,” tulis Credit Suisse.

Vaksin

Analis perawatan kesehatan UBS, Laura Sutcliffe lebih lanjut mengungkapkan, lazimnya pengembangan vaksin membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun dan membutuhkan investasi modal besar. Proses panjang ini telah menciptakan masalah di masa lalu, seperti yang terjadi ketika virus Ebola pada 2014-2016 di Afrika Barat menyerang.

Virus Ebola menjadi wabah terbesar sejak ditemukannya virus pada tahun 1976. Menurut Sutcliff, komunitas ilmiah di global sekarang ini lebih siap ketimbang apa yang terjadi saat Ebola menyerang.

Apalagi saat ini sebuah badan sudah dibentuk untuk mengoordinasikan pengembangan vaksin demi melawan pandemi corona sehingga para peneliti bisa lebih mudah fokus pada pekerjaan untuk menciptakan vaksin.

Ditambah lagi beberapa perusahaan bioteknologi yang mengkhususkan diri dalam molekul mRNA (digunakan untuk menginstruksikan tubuh demi menghasilkan respons dalam melawan berbagai penyakit) seperti Moderna dan BioNtech, juga telah berhasil mengembangkan obat.

Hanya, tidak ada jaminan mereka akan berhasil. Raksasa farmasi tradisional seperti GlaxoSmithKline yang berbasis London, dan Sanofi di Paris, juga berpatok pada pengalaman mereka berurusan dengan flu musiman untuk mencoba mengembangkan imunisasi melawan virus corona ini. Namun lagi-lagi, tidak ada jaminan kesuksesan.

Penulis: Neni Isnaeni