Anak Muda, Media Sosial, dan Demonstrasi

Tiga pekan yang lalu, tentu publik masih mengingat bagaimana para mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia turun ke jalan mengadakan aksi demonstrasi besar-besaran memprotes sejumlah Rancangan Undang-Undangan (RUU) yang akan ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). RUU yang diprotes oleh mahasiswa, yaitu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Pertambangan Mineral dan Batu Bara, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKHUP), dan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi.

GERAKAN tersebut, oleh penulis menarik untuk dicermati karena dalam dua dekade terakhir, aksi tersebut merupakan aksi mahasiswa terbesar di Indonesia pasca aksi menduduki Gedung DPR/MPR RI tahun 1998 di Jakarta. Di luar dugaan masyarakat, mahasiswa yang selama ini hanya fokus pada perkuliahan, berkumpul dengan teman di kafe, jalan-jalan, dan segera wisuda agar dapat memperoleh pekerjaan ternyata menemukan momen untuk membuktikan hal tersebut. Mahasiswa kemudian turun ke jalan menyampaikan tuntutan, baik kepada lembaga eksekutif maupun lembaga legislatif.

Pada sisi yang lain, penulis mencoba memahami terminologi dari Muhammad Faisal bahwa mahasiswa, khususnya di Indonesia, masuk dalam ‘generasi Phi’. Hal ini sangat berbeda dengan kategorisasi umur yang umumnya sering didiskusikan selama ini, dimana masyarakat yang lahir setelah Perang Dunia Kedua sampai tahun 1960 disebut generasi Baby Boomers, kemudian tahun 1960 sampai tahun 1980 disebut generasi X, dan tahun 1980 sampai dengan tahun 2000 adalah generasi milineal. Hari ini, generasi milineal merupakan anak dari generasi Baby Boomers.

Oleh Muhammad Faisal dalam bukunya yang berjudul “Generasi Phi Memahami Milenial Pengubah Indonesia”, kategorisasi umur atau generasi di Indonesia ditentukan atas empat bagian dengan perkembangan situasi sosial dan politik di Indonesia. Pertama, generasi Alpha. Generasi Alpha yang dimaksud oleh Muhammad Faisal adalah para founding father Indonesia yang lahir dalam rentang tahun 1900 sampai 1930, seperti Soekarno, Moehammad Hatta, Tan Malaka, dan Sutan Syahrir. Pada periode ini, tokoh-tokoh tersebut sudah tergabung dan bahkan mendirikan organisasi pergerakan nasional, seperti Perhimpunan Indonesia, Partai Nasional Indonesia (PNI), Muhammadiyah, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan sebagainya. Kedua, generasi Beta. Generasi Beta terdiri atas tokoh-tokoh yang mempunyai masa remaja rentang tahun 1930 sampai 1970. Atau dengan kata lain, dimulai dari masa pergerakan nasional hingga peristiwa G30S/PKI. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya Adam Malik, Emil Salim, sampai Baharuddin Jusuf Habibie.

Ketiga, generasi Omega dengan rentang tahun 1970 sampai peristiwa Reformasi 1998. Mereka diantaranya, Iwan Fals, Dono, Kasino, Indro, dan Budiman Sudjatmiko. Terakhir, adalah generasi Phi, generasi yang mempunyai masa remaja pada abad keduapuluh satu atau tahun 2000. Generasi Phi sangat dipengaruhi oleh globalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sangat pesat, dan gaya hidup. Tokoh-tokoh generasi Phi tidak terbatas pada tokoh politik seperti generasi Alpha atau Beta, tetapi juga artis, influencer, Youtuber, dan lain sebagainya. Oleh karena perubahan struktur sosial dan masyarakat yang sedemikian rupa, anak muda saat ini dianggap mempunyai pandangan yang lebih terbuka dan kreatif dalam menyikapi isu yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu bentuk kreativitas yang dilakukan oleh generasi Phi dalam menyikapi fenomena politik hari ini adalah penggunaan media sosial yang begitu masif. Penulis ingat menjelang aksi demonstrasi tanggal 23 dan 24 September lalu, tiba-tiba media sosial begitu ramai memperbincangkan rencana aksi demonstrasi. Di Yogyakarta, ribuan mahasiswa dari berbagai universitas memenuhi setiap sudut Gejayan dengan terus memekikkan tuntutannya. Meskipun, beberapa jam sebelum aksi, surat-surat penolakan datang dari beberapa rektor, diantaranya Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) (Republika, 24 September 2019).

Di Sumatera Barat, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Sumatera Barat (BEM SB) juga turun ke jalan. Mahasiswa melakukan aksi turun ke jalan dengan berjalan kaki dari Gedung Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB) menuju Kantor Gubernur Sumatera Barat. Dimulai dari seruan turun ke jalan melalui media sosial, terutama Whatsapp dan Instagram, mahasiswa yang hadir tidak saja berasal dari Kota Padang, tetapi beberapa daerah di Sumatera Barat seperti Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh, serta Kabupaten Pesisir Selatan dan Dharmasraya. Bahkan, aksi tersebut berlanjut hampir satu pekan lebih. Ini penulis saksikan langsung karena penulis mengikuti aksi tersebut. Hal serupa banyak terjadi di sejumlah daerah, termasuk di Ibu Kota.

Kembali pada aksi demonstrasi 23 dan 24 September lalu, anak muda yang menjadi mahasiswa hari ini adalah mahasiswa yang tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri. Penulis yakin aksi mahasiswa yang dilakukan tahun ini tidak bermaksud menyaingi apa yang pernah dilakukan oleh mereka pada tahun 1998, tetapi membuktikan adanya teori kehidupan; bahwa bangsa-bangsa yang pernah besar dalam sejarahnya di masa lalu cenderung akan mengalami kembali kebesarannya di masa yang akan datang. Dalam konteks ini termasuk gerakan mahasiswa.

Gerakan mahasiswa saat ini juga memang mempunyai cara pandang dan sikapnya sendiri dalam menyikapi isu yang berkembang di dunia nyata dan dunia maya. Media sosial seperti Whatsapp, Line, dan Instagram menjadi ruang diskusi baru untuk berdiskusi dan menyikapi fenomena politik hari ini. Setidaknya ini mengingatkan kepada BEM maupun organisasi ekstra kampus bahwa selain mengadakan ruang diskusi tatap muka di kampus, perlu membuka ruang diskusi di media sosial. Di luar negeri, seperti Hong Kong, media sosial menjadi ruang diskusi para mahasiswa dan elemen masyarakat sebelum akhirnya turun ke jalan memprotes kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat.

Pada akhirnya, pembaca harus yakin gerakan mahasiswa adalah gerakan moral yang lahir dari masyarakat. Kepada pemerintah, tidak perlu takut dengan gerakan mahasiswa. Meskipun, akhirnya pimpinan DPR dengan aparat keamanan, baik Komando Daerah Militer (Kodam) Jayakarta, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) merilis larangan aksi demonstrasi menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden sampai dengan Ahad (20/10). Semoga apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu, dapat menjadi pelajaran sangat berharga agar masyarakat dan bangsa ini ke depan senantiasa menjadi lebih baik. Hidup mahasiswa. Hidup rakyat Indonesia.

Penulis Riyan Alghi Fermana Juara 2 Lomba Menulis Opini (Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik FISIP UNAND) dengan judul 'Anak Muda, Media Sosial, dan Demonstrasi'