Indonesia Tidak Tua, Hanya Jiwa Mudanya yang Terpenjara

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId

-

AA

+

Indonesia Tidak Tua, Hanya Jiwa Mudanya yang Terpenjara

Suara Mahasiswa | Jakarta

Minggu, 27 Oktober 2019 18:11 WIB


Berdirinya Indonesia tidak lepas dari tonggak sejarah panjang perjuangan pemuda dan pemudi bangsa. Slamet Riyadi, Pierre Tendean, R.A Kartini, dan Martha Christia Tiahahu adalah sebagian kecil dari barisan kokoh mereka.

SEJAK dulu, politik dan pemerintah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Politik adalah kuda terkuat dalam menunggangi pemerintahan. Sejak masa penjajahan Belanda hingga Jepang, tak satupun berlabuh tanpa menggengam politik bangsa. Karena siapa yang berkuasa dalam politik, dialah yang berkuasa.

Sejak masa penjajahan Belanda hinngga Jepang pula para pemuda pemudi tersebut berperang, merontokan politik yang dikuasai, hingga pada akhirnya mampu melahirkan Indonesia melalui politik. Tidak hanya sampai disitu, orde baru pun dapat runtuh, akibat gebrakan keras pemuda Indonesia saat itu. Semua perjalan tersebut menggambarkan pula, bahwa pemuda dan politik adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Dibelahan bumi lain, pemuda telah mengisi kursi negara. Shamma Al Mazrui di UEA, Simon Harris di Irlandia, Sebastian Kurz di Austria, dan Syed Saddiq di Malaysia, mereka dalah menteri Negara yang telah menjabat pada usia 25 dan 30-an. Bahkan Sebastian Kurz dapat menduduki jabatan presiden di usia 30-an, menjadikan namanya dijajaran orang-orang yang menjadi pemimpin negara di usia muda. Kini Indonesia mulai membuka pintu bagi pemuda mengisi ruang pemerintah. Dimana di masa kepemimpinan Presiden Jokowi ini, ada rencana beberapa kursi menteri akan diisi oleh pemuda atau pemudi.

Memang kini Indonesia telah memasuki babak baru. Periode pemerintah baru, dan pintu telah mulaii membuka jalan untuk pemuda memasuki ruang pemerintah. memang Indonesia butuh angin baru, semangat baru, dan jiwa mudanya kembali seperti dulu. Namun para pemuda dan pemudi di Indonesia masih terbentur sejuta tembok dalam berpolitik. Tidak semudah itu. Masih ada pihak-pihak yang tidak sehadapan dengan menjadikan pemuda atau pemudi sebagai penyetir bangsa kedepan.

Mereka mengatakan, bahwa sebaiknya pemuda banyak belajar terlebih dahulu dan benar-benar telah terkualifikasi kompetensinya dengan beragam kriteria. Pemerintahan bukanlah tempat magang bukan hanya untuk mejeng, dan bukan untuk bermain-main. Bahwa pemuda atau pemudi yang ingin menjadi menteri harus menjadi anggota DPR RI.

Padahal pemuda dan pemudi yang berhasil masuk ke dalam panggung pemerintahan, tidak sedikit pemuda dan pemudi anggota DPR RI adalah anak dari segelintir penjabat penting di Indonesia, tidak sedikit pula adalah artis. Dengan kekayaan milyaran dan harta mentereng. Sedangkan para pemuda dan pemudi lainnya, hanya bisa selalu membara bersedia berteriak diluar ruji pagar istana-istana hanya untuk menyuarakan agar orang didalam istana bisa kembali terbangun.

Pemuda dan politik, masih belum dalam kesejajaran. Mereka gencar mengkategorikan pemuda yang “pantas” bagi mereka dalam mengabdi pada negara. Seakan mereka lupa, bagaimana orang-orang yang dianggap besar dan berkompeten bermain-main dengan uang rakyat. Orang yang dianggap besar dan berkompeten tidur dan mangkir dari jajaran kursi rapat. Seakan mereka lupa bagaimana seorang Susi Pudjiastuti menjadi seorang menteri. Seakan mereka lupa bagaimana mudahnya sebagian pemuda pemudi yang kebetulan hidupnya beruntung melicinkan mereka masuk ke dalam ruang istana.

Kini 74 tahun sudah Indonesia berusia. Sudah sangat bagus kini pintu istana mulai terbuka bagi pemuda. Namun, masih penuh dorongan dan rintangan hingga pemuda atau pemudi harus masuk melalui celah kecil pintu istana. Apakah 74 tahun itu usia tua sehingga lupa bagaimana pemuda mengguncang bumi pertiwi.

Proklamator kita mengatakan “beri aku sepuluh pemuda makan akan aku guncang dunia”. Beliau tidak menyebutkan pemuda yang sukses, cerdas, kaya, terkenal atau lainnya. Namun beliau hanya menyebut seorang pemuda saja. Karna beliau telah menjadi saksi, seperti seakan-akan beliau tahu bahwa selalu ada potensi luar biasa dahsyat didalam diri pemuda.

74 tahun bukan lah usia yang tua, sampai lupa bagaimana potensi pemuda dan pemudi Indonesia. sampai takut membuka pintu jalan menuju istana untuk mengabdikan diri pada negeri. Siapapun tak akan pernah cukup untuk belajar dan butuh untuk diajarkan, siapapun tidak akan pernah mendapat pengalaman jika tidak bisa memulai.

Untuk itu dari pada sibuk mengkategorikan seperti apa yang “pantas”, akan lebih baik sibuk menyiapkan pemuda dan pemudi dalam meregenerisasi Indonesia. Membuka kesempatan seluas-luasnya untuk pemuda dan pemudi. Agar kelak benar-benar tercipta dimana pemuda menjadi tonggak kebangkitan bangsa menuju Indonesia yang lebih baik.

*Penulis Kharisma Hardyana Putra Juara Favorit Lomba Menulis Opini (IAIN Surabaya) dengan Judul 'Indonesia Tidak Tua, Hanya Jiwa Mudanya yang Terpenjara.


0 Komentar