Menggagas Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal untuk Menyemai Demokrasi Pancasila

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId

-

AA

+

Menggagas Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal untuk Menyemai Demokrasi Pancasila

Suara Mahasiswa | Jakarta

Minggu, 27 Oktober 2019 18:44 WIB


MENGGAGAS PEMBERDAYAAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL GUNA MENYEMAI DEMOKRASI PANCASILA AGAR DIJIWAI POLITIKUS MASA DEPAN

Indonesia tampaknya semakin jauh dari pelaksanaan Demokrasi Pancasila yang sejati dalam kehidupan politik. Konflik demi konflik terus mencabik-cabik Indonesia. Beragam kasus pelanggaran, penghambatan, dan intoleransi pun masih saja terjadi, hingga mengancam kebebasan beragama. Musyawarah mulai ditinggalkan dan digantikan oleh voting yang hanya mementingkan kehendak mayoritas.

INDONESIA sangatlah subur dan kekayaan alamnya melimpah, namun sebagian rakyat tergolong miskin. Ini semua menunjukkan betapa prinsip-prinsip Demokrasi Pancasila belum diterapkan seutuhnya oleh para politikus masa kini, sehingga menimbulkan berbagai masalah sosial.

Untuk menyemai Demokrasi Pancasila di sanubari generasi muda, yang kelak akan berkiprah dalam arena politik, sangat tepat bila memanfaatkan strategi pemberdayaan, dengan melibatkan jajaran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila; akademisi; maupun aktivis LSM peduli demokrasi. Sedangkan sebagai sasaran pemberdayaan adalah remaja berusia 13-17 tahun. Dengan ketetapan hati, pemberdayaan diharapkan mampu menjadi acuan bagi banyak orang, sekaligus membuahkan penghargaan bagi yang bersangkutan, seturut kearifan lokal Riau (nama baik jadi sobutan, budi baik jadi ikutan, kojo baik jadi teladan).

Generasi Muda, Kader Demokrasi Pancasila (GM-KDP), inilah penamaan tepat bagi kegiatan yang akan dilaksanakan. Awalnya, para fasilitator diharapkan mencari serta mengajak sebanyak mungkin remaja berusia 13-17 tahun, sebagai calon politikus di masa depan, untuk menjadi partisipan. Sebelum melakukan pencarian, perlu diingatkan kepada mereka agar senantiasa bersikap santun dan menggunakan kalimat bernada simpatik agar tak timbul jarak sosial (social distance) yang dapat menjadi penghambat. Ini bersesuaian dengan kearifan lokal Batak Toba (‘pantun hangoluan, tois hamagoan’, artinya kesopansantunan sumber kehidupan, kesombongan sumber kehancuran). Perlu diingatkan kepada calon partisipan bahwa mengikuti pemberdayaan adalah wujud kebebasan mereka untuk berkegiatan secara bertanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, masyarakat, dan negara, sebagaimana dijamin oleh Demokrasi Pancasila.

Para partisipan juga perlu disadarkan bahwa Demokrasi Pancasila sangat bersesuaian dengan ajaran universal berbagai agama. Berawal dari ajaran Islam, yang sejatinya mendukung implementasi demokrasi dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai contoh, budaya demokrasi mengakui adanya hak warga masyarakat untuk memilih pemimpinnya. Hal tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menolak seseorang menjadi imam shalat jika tidak disukai oleh makmum di belakangnya. Ini disebutkan dalam sebuah hadits bahwa, “Tidaklah halal bagi seorang mukmin yang iman kepada Allah SWT dan Hari Akhir yang mengimami sesuatu kaum kecuali atas izin kaum itu” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah).

Kenal Demokrasi Pancasila merupakan tahap pertama dalam kegiatan pemberdayaan, dimana fasilitator berupaya membimbing para partisipan untuk mengenal beberapa aspek pokok dari Demokrasi Pancasila, yang terdiri atas perlindungan terhadap hak asasi manusia; pengambilan keputusan atas dasar musyawarah; keseimbangan antara hak dan kewajiban; pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, masyarakat, dan negara ataupun orang lain; juga menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional. Semuanya sangat bermakna bila diterapkan secara sungguh-sungguh dalam kancah perpolitikan.

Ajaran Kristen memberi ruang pula bagi tumbuh dan berkembangnya budaya demokrasi. Ini dipraktekkan dalam pemilihan murid pengganti Yudas untuk menggenapi jumlah yang dibutuhkan guna pelaksanaan tugas pelayanan (Kisah Para Rasul 1: 15-26). Ketika hendak memilih pemimpin pun, umat Kristen diingatkan untuk berdoa terlebih dahulu, agar Tuhan memberi inspirasi bagi pilihan terbaik (Yohanes 15: 16a).

Jika partisipan telah cukup memahami segala aspek dari Demokrasi Pancasila yang sarat kearifan dan tuntunan kehidupan, maka kegiatan pemberdayaan pun berlanjut pada Manfaat Demokrasi Pancasila, yakni pengembangan minat dalam pemberdayaan dengan menunjukkan manfaat yang bisa diperoleh. Tahap ini didasari oleh pandangan Abraham Maslow (1908-1970) bahwa seseorang akan semakin serius menggeluti sesuatu bila merasakan manfaat berarti bagi dirinya.

Sebagai permulaan, tentu tepat bila memperkenalkan betapa bangsa Indonesia terdiri dari banyak ras, suku, dan agama. Dengan mengedepankan Demokrasi Pancasila, maka banyak kebaikan yang dapat dipetik melalui kerja bersama seluruh warga negara, tanpa diskriminasi atas dasar apa pun. Dalam masyarakat multikultural Indonesia, perbedaan hendaknya tidak dianggap sebagai alasan berselisih, melainkan dijadikan modal sosial guna saling mendukung dan melengkapi demi mewujudkan kemajuan serta kemegahan sebagai bangsa yang besar.

Para partisipan juga perlu diingatkan bahwa sejumlah prinsip Demokrasi Pancasila telah dikandung oleh beragam produk budaya sejak dahulu. Sebagai contoh adalah Tari Kecak (Bali) yang lazimnya mengambil lakon Ramayana. Melalui berbagai adegan, manusia diingatkan untuk selalu setia serta rela berkorban demi menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional. Unsur bunyi serta gerak yang dilakukan secara seragam dan bersamaan, sebagai ciri khas Tari Kecak, juga menjadi pengingat bagi seluruh umat manusia agar selalu berusaha mengembangkan juga mempertahankan persaudaraan universal. Dalam persaudaraan universal, kemajuan salah satu pihak dipandang sebagai kemajuan bersama dan dapat dimanfaatkan demi mengangkat harkat sesama. Inilah sejatinya yang menjadi tujuan jika kelak partisipan terjun ke arena politik. Hal dimaksud juga diingatkan oleh kearifan lokal yang berkembang di Sumatera Utara (adat hidup berkaum bangsa, sakit senang sama dirasa, adat hidup berkaum bangsa, tolong menolong rasa merasa).

Tahap selanjutnya adalah Berdaya Demokrasi Pancasila. Di sini, para fasilitator mengajak partisipan untuk merencanakan dan melaksanakan suatu proyek bersama di lingkungan sekitarnya, dengan melibatkan kaum muda berbeda latar belakang dan mengedepankan prinsip Demokrasi Pancasila. Jika memungkinkan, proyek bersama di lingkungan sekitarnya, dapat digulirkan menjadi kewirausahaan sehingga para partisipan akan sejahtera dan takkan lagi tergiur oleh politik uang (money politic) dari pihak mana pun yang berpotensi mencederai Demokrasi Pancasila. Sebagai bekal untuk membangun kewirausahaan, terdapat beberapa kearifan lokal yang hendaknya selalu didengungkan oleh pelaku pemberdayaan kepada para partisipan, yakni aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka, sing was-was tiwas (kearifan lokal Jawa Timur, artinya ‘jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka, barangsiapa ragu-ragu akan merugi’).

Pada akhirnya, kegiatan pemberdayaan pun seharusnya dievaluasi secara berkala. Hasil evaluasi dapat dimusyawarahkan oleh penanggung jawab kegiatan, dengan tokoh masyarakat setempat maupun partisipan pemberdayaan agar beroleh masukan bermanfaat demi penyempurnaan kegiatan dan penyesuaian seturut kebutuhan partisipan. Ini sekaligus menjadi pengingat betapa musyawarah, terutama dalam arena politik, akan mendatangkan kebaikan. Melalui kegiatan pemberdayaan, diharapkan pula para fasilitator maupun partisipan semakin menghayati bahwa jika niat dan tujuan selalu baik, maka di mana pun Tuhan Yang Maha Esa jua yang akan selalu memelihara (kearifan lokal Aceh, ‘meunyo get niet ngon hasat, laot darat Tuhan peulara’).

*Penulis Hendri Rizaldi Juara I Lomba Menulis Opini (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, UPN "Veteran" Yogyakarta) dengan judul asli 'Menggagas Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal Guna Menyemai Demokrasi Pancasila Agar Dijiwai Politikus Masa Depan'


0 Komentar