Alat Tes Corona Diborong Spanyol dan Ceko dari China Rusak, Indonesia Mau Beli?

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Seorang staf medis memegang sampel yang dikumpulkan di tempat pengujian virus corona. (Foto: Reuters)

JAKARTA, HALUAN.CO - Mayoritas alat tes uji virus corona (COvid-19) respons cepat, dipasok oleh China ke Spanyol dan Republik Ceko, rusak.

Situs berita Ceko lokal Expats.cz, melaporkan, hingga 80 persen dari 150.000 portabel, alat uji coronavirus cepat China yang dikirim ke Republik Ceko awal bulan ini ada kesalahan.

Alat tes dari China yang dapat mengetahui hasil dalam 10 atau 15 menit itu, kurang akurat dibandingkan alat tes lainnya. Karena tingkat kesalahan yang tinggi, negara akan terus bergantung pada tes laboratorium konvensional, yang mereka lakukan sekitar 900 sehari.

Kementerian Kesehatan Republik Ceko membayar $ 546.000 untuk 100.000 test kit, sementara Kementerian Dalam Negeri membayar 50.000 lainnya.

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Jan Hamacek meremehkan penemuan yang menyebut banyak alat tes yang rusak.

Hamacek malah menyalahkan metodologi dan mengatakan ala tes kit itu masih dapat digunakan.

"Ketika penyakit telah ada selama beberapa waktu. Ketika seseorang kembali setelah karantina setelah empat belas hari," Hamacek dilansir dari National Review, Jumat (27/3/2020).

"Menurut pendapat saya, ini bukan tentang sesuatu yang memalukan bahwa itu (alat tes) tidak berfungsi," sambungnya.

Sementara itu, Spanyol, yang memiliki lebih dari 56.000 orang yang terinfeksi dan lebih dari 4.000 kematian akibat virus korona, jumlah kematian tertinggi kedua di dunia setelah Italia, menemukan bahwa alat uji cepat coronavirus yang dibeli dari perusahaan China, Bioeasy, hanya mengidentifikasi dengan benar 30 persen dari kasus virus.

Direktur Pusat Peringatan Kesehatan dan Keadaan Darurat Spanyol, Fernando Simón, mengatakan Spanyol menguji 9.000 memakai alat test kit dan akan segera mengembalikannya karena tingkat kesalahan begitu tinggi.

Studi yang dilakukan oleh lembaga Masyarakat Spanyol tentang Penyakit Menular dan Mikrobiologi Klinis atau The Spanish Society of Infectious Diseases and Clinical Microbiology (SEIMC), menemukan bahwa alat memiliki tingkat kesalahan yang tinggi. Karena itu, SEIMC merekomendasikan secara resmi bahwa alat tes tidak dapat digunakan.

Kedutaan China di Spanyol mengklaim, produk Bioeasy mereka tidak termasuk dalam produk yang telah disediakan Tiongkok untuk negara-negara di mana virus itu menyebar.

Ternyata, alat tes cepat itu bukan hanya Republik Ceko dan Spanyol saja yang membeli dari China, tapi negara Indonesia juga termasuk akan membeli.

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) akan membeli alat rapid test. Alat tersebut didatangkan langsung dari China.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan RNI memesan sebanyak 500 ribu unit rapid test Covid-19 dari China.

"Ini RNI yang pesan, tapi kami menunggu izin dari Kementerian Kesehatan. Kalau sudah bisa langsung kami bisa kirimkan rapid test corona dengan cepat kemana-mana," kata Aya melalui via video conference, dilansir dari CCNIndonesia, Rabu (18/3/2020).

RI Akan Impor 500 Ribu Alat Tes Covid-19 dari China, 15 Menit Keluar Hasil

Menurut Arya, alat tes dapat mendeteksi gejala awal virus corona. Waktu yang dibutuhkan pun cukup singkat yakni 15 menit hingga 3 jam. Apabila hasil rapid test mengindikasikan pasien positif tertular virus corona, maka kemudian dapat melanjutkan kepada tes laboratorium.

"Paling tidak, dengan rapid test orang ada kepastian awal. Jadi indikasi virus corona bisa ketahuan dengan rapid test. Kalau sudah ada kecenderungan virus corona langsung tes laboratorium pakai swab itu," tuturnya.

Arya berharap, adanya alat tersebut dapat mengurangi antrian panjang pasien di rumah sakit. RNI telah mengajukan surat izin kepada Kementerian Kesehatan sejak 10 Maret lalu.

Alat rapid test akan didistribusikan oleh BUMN. Namun, Arya belum merinci wilayah distribusinya nanti. Terkait harga alatnya, ia menuturkan cenderung lebih murah ketimbang di RS.

Jika alat tersebut terbukti efektif membantu pasien corona, maka pemerintah membuka peluang untuk kembali mendatangkan dari China. Saat ini, Indonesia belum dapat memproduksi alat itu karena waktu yang cenderung terbatas sementara virus corona telah menyebar. Ke depan, ia tidak menutup kemungkinan alat tersebut dapat diproduksi oleh ilmuwan di Indonesia.

"Mereka sanggup (memasok lagi), karena mereka bisa produksi 150 ribu pcs per hari. 9 orang diantaranya sembuh dan 7 orang lainnya meninggal dunia," tukasnya.


0 Komentar