Anak Tukang jadi Ketua Partai di Inggris

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Keir Starmer (Ilustrasi: Total Politik)

-

AA

+

Anak Tukang jadi Ketua Partai di Inggris

International | Jakarta

Sabtu, 18 April 2020 18:53 WIB


Setelah penantian yang panjang, Keir Starmer naik ke tampuk kepemimpinan Partai Buruh di Inggris Raya. Siapa dia?

SEPULUH tahun adalah rekor persidangan kasus pencemaran nama baik yang paling panjang dalam sejarah Inggris. Yang tertuduh: sepasang aktivis dari kolektif anarko kurang terkenal bernama “London Greenpeace”—yang tak memiliki keterkaitan apa-apa dengan Greenpeace yang terkenal itu.

Lawan mereka adalah pasukan pengacara yang disewa McDonalds. McDonalds, waralaba cepat saji itu, adalah perusahaan multinasional yang selain terbesar di bidangnya, juga merangkap sebagai produsen mainan terbesar di dunia.

Duduk perkaranya dimulai dari keisengan anarko pada umumnya. Helen Steel dan David Morris, aktivis tertuduh itu, menyebarkan pamflet yang menuding bahwa McDonald telah “menghancurkan 800 mil persegi hutan setiap tahunnya” dan “membunuh ayam dan babi merek dengan setruman listrik dan belati”.

Sebagian besar orang yang membaca sejauh ini, saya rasa, akan membalas dengan: “Ya terus kenapa?”

Jujur, reaksi saya pun sama.

Tapi, pada tahun 1990, reaksi McDonalds sama sekali berbeda – kurang santuy, kalau meminjam istilah kolokuial kota asal saya. Perusahaan multinasional itu cukup bernafsu untuk menghukum Steel dan Morris. Mungkin, mereka ingin memberi contoh buat aktivis-aktivis iseng yang sempat berpikir untuk melakukan hal serupa.

Orang Inggris, layaknya orang Indonesia, biasanya enggan berurusan dengan hukum. Ada biaya implisit yang harus ditanggung ketika seseorang harus menjalani persidangan, belum lagi biaya menyewa pengacara. Lagipula, Steel dan Morris bisa pakai apa? Dana solidaritas?

Sebenarnya McDonalds, bak kaisar-kaisar Romawi Kuno, membuka “jalur damai”. Tapi, syaratnya satu: takluk.

McDonalds menghendaki kedua aktivis ini bertekuk lutut (baca: minta maaf). Sebagai gantinya, McDonalds tidak akan meminta ganti apa-apa, sekaligus menyumbang uang untuk derma.

Ada suatu momen yang mengingatkan kita:

1) kedua aktivis ini adalah kaum anarko dan

2) anarko tidak bisa diperintah, bung!

Mereka memutuskan untuk mengikuti proses pengadilan.

Tapi, sebentar dulu! Tidak ada dana solidaritas. Di persidangan, mereka harus berlaku selayaknya kuasa hukum bagi diri mereka sendiri.

Syahdan, muncullah Keir Starmer. Pengacara serta lulusan Leeds dan Oxford ini mengajukan diri untuk membela Steel dan Morris dalam kapasitas pro bono, alias sukarela. Walau tidak bisa dibilang anak kemarin sore juga, belum banyak yang mengenal namanya ketika itu.

Kasus itu menjadi papan lonjakannya sebagai pengacara Hak Asasi Manusia di Britania Raya. Pemerintahan Buruh-nya Gordon Brown menunjuknya sebagai Direktur Penuntutan Umum, sebuah jabatan hukum tertinggi dalam pemerintah Inggris setelah Jaksa Agung dan Jaksa Agung Muda. Ia akan memegang posisi itu hingga tahun 2013.

Rekam jejaknya tergolong bagus walau kurang begitu bergaung. Ia baru terpilih ke parlemen tahun 2015, berkebalikan dengan Ketua Partai Buruh sebelumnya, Jeremy Corbyn, yang telah menjadi politisi karir sejak 1983.

Jika politik adalah perguruan Shaolin, Starmer hanya mempelajari dua jurus: Hak Asasi Manusia dan Brexit. Untuk Brexit, ia memperoleh peran sebagai Menteri Brexit Bayangan.

Sebagai informasi, dalam sistem parlementer Inggris, ketua partai oposisi di parlemen berhak membentuk “kabinet bayangan” yang strukturnya persis kabinet pemerintah. Tujuannya, mengajukan kebijakan alternatif di sesi-sesi House of Commons.

Soal Brexit, posisi Starmer bersebrangan dengan Corbyn, ketua partai ketika itu. Secara umum, partai-partai di Inggris terbelah mengenai isu integrasi Eropa.

Bob Hasan, Si ‘Raja Kayu’ dan Runtuhnya Orde Baru

Partai Buruh maupun Konservatif sama-sama mengakomodir faksi yang ingin melepaskan diri, tapi juga mempunyai tempat bagi kubu yang menginginkan hubungan yang lebih erat dengan Uni Eropa. Starmer masuk ke kategori terakhir.

Sebenarnya, fakta bahwa dirinya menentang Brexit adalah keunggulan tersendiri. Salah satu kendala yang dihadapi Partai Buruh pada pemilu 2019 adalah fakta bahwa kedua partai utama sama-sama ambivalen soal Brexit.

Alhasil, konstituen “tradisional” Buruh yang paling keras mendukung Brexit berbondong-bondong meninggalkan partai, sementara rombongan kelas menengah yang berhasil ditarik Tony Blair pada masa kepemimpinannya memilih untuk tidak memilih.

Pada hakikatnya, fakta bahwa Starmer adalah penolak Brexit garis keras. Gagasannya ini menjadi bagian dari strategi buruh untuk mengusungnya sebagai sang anti-Johnson.

Starmer adalah sosok yang berbeda jika dibandingkan Perdana Menteri Boris Johnson. Bilamana Johnson adalah seorang Euroskeptik, Starmer adalah seorang Eurofil. Bilamana Johnson adalah seorang yang vulgar dan bahkan “banal”, Starmer adalah si pembela rakyat kecil yang sopan dan kutu buku. Bilamana Johnson terlahir dari keluarga berada yang elitis, Starmer adalah anggota pertama dari keluarganya yang bisa kuliah.

Lagi-lagi keluarga. Starmer Senior adalah seorang pengrajin perkakas kelas pekerja yang juga pendukung garis keras Partai Buruh. Ia bahkan menamai anaknya Keir, nama yang diambil dari pemimpin Buruh legendaris Keir Hardie.

Tapi bilamana Boris Johnson adalah seorang yang santai dan asik, Starmer belum bisa menyisihkan citranya sebagai pengacara yang terlalu serius, bahkan dingin. Kemampuannya untuk benar-benar “berbicara” dengan konstituennya, terlepas dari kitab-kitab hukum yang tebal-tebal itu, belum teruji.

Boris Johnson baru saja terpilih sebagai perdana menteri. Kita masih harus menunggu hingga 2024 – dan kabar mengenani kesehatan Johnson – untuk melihat bagaimana si pengacara yang sukses naik kelas ini akan bergeliat dengan sang pewaris dinasti politik yang flamboyan dan “merakyat”. (G)


0 Komentar