Andi Taufan: Blunder Terobosan di Tengah Konflik Kepentingan

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Andi Taufan Garuda Putra.

-

AA

+

Andi Taufan: Blunder Terobosan di Tengah Konflik Kepentingan

Kisah & Cerita | Jakarta

Minggu, 19 April 2020 19:29 WIB


Jauh sebelum kasus blunder ini mencuat, publik mengenal Andi Taufan sebagai sosok terpuji. Ia bak ‘pahlawan’ yang peduli dan getol membincang topik UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). 

JIKA beberapa hari belakangan ini Anda mengetik nama Andi Taufan di mesin pencari, besar kemungkinan akan mendapati sederet berita negatif mengenai dirinya yang melakukan blunder fatal. Blunder yang dimaksud adalah surat berkop Sekretariat Kabinet yang ditandatangani Taufan kepada para camat yang menyertakan perusahaan miliknya: PT. Amartha.

Dalam surat itu tertulis permohonan agar para camat mendukung edukasi tentang COVID-19 dan pendataan kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) yang akan melibatkan petugas lapangan PT Amartha. Walau kemudian Taufan telah menarik surat tersebut dan menyampaikan permohonan maaf, tapi desakan mundur tetap menggelinding. Baik dari pengamat dan pakar hukum, ICW (Indonesia Corruption Watch), dan tentu saja, warganet.

Salah satu pelapor, seorang advokat bernama M. Soleh, juga melaporkan Taufan ke kepolisian. Dalam wawancaranya dengan Kompas TV, Soleh menyatakan bahwa surat terkait program desa lawan Covid-19 tidak ada hubungannya dengan posisi Taufan sebagai Staf Khusus Presiden bidang ekonomi dan keuangan.

Meski kemudian laporan tersebut ditolak polisi karena bukti yang disertakan dianggap masih prematur, coreng di wajah Taufan nyaris pasti akan sulit dibersihkan. Setidaknya dalam waktu yang tak sebentar.

‘Pahlawan’ UMKM

Jauh sebelum kasus blunder ini mencuat, publik mengenal Andi sebagai sosok terpuji. Ia bak ‘pahlawan’ yang peduli dan getol membincang topik UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Dan sebagaimana diketahui, wanginya nama Andi sukses membawanya ke dalam lingkaran istana.

Pengusaha muda berdarah Bugis yang lahir di Jakarta pada 24 Januari 1987 ini memiliki nama lengkap Andi Taufan Garuda Putra. Pendidikan sarjananya diperoleh dari Manajemen Bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sedangkan S2 Taufan diraih di Harvard Kennedy School dengan gelar Master of Public Administration tahun 2015.

Taufan sempat bekerja sebagai konsultan bisnis di IBM Global Business Services selama dua tahun begitu tamat S1. Dalam tugasnya sebagai konsultan ke daerah-daerah, ia melihat banyak masyarakat Indonesia, terutama di daerah terpencil, kesulitan untuk mendapatkan akses finansial.

Pada 2010, Taufan memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk mendirikan sebuah lembaga keuangan mikro bernama PT. Amartha.

Perusahaan itu melakukan pendanaan peer to peer lending yang fokus pada modal usaha UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di pedesaan. Marketnya fokus kepada pengusaha kecil-kecilan di kampung yang mengalami kesulitan akses perbankan hingga rentan terjerat rentenir.

Proyek awal Taufan dalam pendanaan mikro tersebut menyasar para perempuan di Desa Ciseen, Kabupaten Bogor. Dalam implementasinya, para perempuan calon penerima bantuan diwajibkan membentuk kelompok sekitar 15 sampai 25 orang. Mereka saling mendukung mengembangkan usaha satu sama lain. Bila ada satu anggota yang tak bisa membayar, maka kewajiban dalam kelompok itu untuk menanggulangi alias tanggung renteng.

Ia sengaja memilih untuk mendanai ibu-ibu di desa karena menurutnya, selain unbankable, ibu-ibu itu merupakan entry point untuk meningkatkan kesejateraan keluarga. Memberi bantuan keuangan bagi perempuan yang digunakan untuk kegiatan produktif, akan berimbas pada keluarga, seperti pendidikan dan nutrisi yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Dilansir dari channel Amartha, pada tahun 2016, Amartha bertransformasi menjadi perusahaan teknologi finansial yang menghubungan pendana dengan perempuan UMKM di pedesaan melalui teknologi.

Melalui platform digital tersebut, Amartha bisa menjangkau lebih banyak perempuan UMKM di desa sekaligus lebih banyak melibatkan peran masyarakat sebagai investor. Siapa saja bisa menjadi investor dan bisa memilih calon pengusaha UMKM yang akan didampingi untuk kemudian menyertakan modalnya ke PT Amartha dengan sistem bagi hasil yang ditentukan.

Tahun 2019, PT. Amartha sudah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hingga kini, perusahaan tersebut sudah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp1,6 triliun dan membantu lebih dari 339 ribu perempuan di sekitar 5.100 pedesaan.

Karena kiprah dan kepeduliannya terhadap sektor UMKM tersebut, Amartha mendapat penghargaan dari PBB sebagai perusahaan keuangan yang mendukung SDG’s (Sustainable Development Goals). Tentu saja Taufan, selaku pendiri dan pemilik, juga menerima hal yang sama.

Ashoka Young Change Makers (2010), Satu Indonesia Award dari Astra Internasional (2011), Global Shapers by World Economic Forum (2012), Indonesia's Inspiring Youth and Women by Indosat (2012), hingga Indonesia Youngster Inc Entrepreneur Champion dari Swa Magazine (2014) hanyalah beberapa di antaranya.

Dan Blunder Pun Tiba

Saat diminta Presiden Joko Widodo sebagai staf khusus milenial bersama enam anggota milenial lainnya, Taufan mengaku termotivasi untuk melakukan perubahan di lingkungan istana. Seperti stafsus milenial lainnya pula, ia tak diminta untuk mundur dari jabatannya sebagai CEO PT Amartha. Hal tersebut kelak menjadi bumerang bagi pemerintah karena konflik kepentingan itu mencuat ke publik.

“Jadi stafsus iya, selalu standby, dan memang sudah ada rencana kerja yang disiapkan. Sementara CEO tetap jalan. Amanahnya adalah apa yang saya lakukan tidak boleh shutdown atau tiba-tiba nggak jalan. Paling tidak diberi pada yang lain,” kata Taufan dalam wawancaranya dengan CNBC Indonesia, beberapa hari setelah dilantik.

Taufan optimistis kemajuan teknologi digital bisa membuat pemerintah “breaktrough” dalam pembuatan kebijakan. Ia juga akan menjembatani aspirasi masyarakat, terutama para milenial, untuk membuat perubahan di pemerintahan.

“Ini adalah amanah yang besar, bukan pekerjaan gampang. Apalagi, milenial adalah orang-orang yang biasa agility. Biasa memutar otak untuk mencari cara dengan cepat. Tapi sekarang harus berhadapan dengan birokrasi pemerintahan dengan 34 kementerian di sana,” katanya.

Namun, belum genap lima bulan usai pelantikan tersebut, wabah corona melanda Indonesia. Berbagai kritikan terhadap peran stafsus milenial yang sebelumnya memang telah mengemuka, kian berlipat banyaknya. Dalam kondisi tersebut, Taufan berinisiatif melakukan terobosan: melibatkan perusahaan yang didirikannya untuk memerangi corona. Dari mulai mengedukasi masyarakat melalui relawan lapangan dari PT Amartha, sekaligus mendata puskesmas yang belum memiliki APD.

Taufan barangkali lupa pada ucapannya sendiri: stafsus bukanlah ‘tukang’ eksekusi, melainkan hanya memberikan masukan dan pemikiran kepada presiden. Alhasil, sikapnya dalam membawa-bawa kop surat sekretariat kabinet sampai menandatangani sendiri surat yang katanya merupakan inisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, dihujani kritik tajam.

Pada fase ini, nyaris mustahil untuk tidak mengingat kembali peringatan mengenai konflik kepentingan terkait posisi para stafsus milenial. Dan blunder Taufan, disadari atau tidak disadari, tak ubahnya lilin yang menerangkan hal ini.


0 Komentar