Aneh, Saat Dibutuhkan Malah Pemerintah Mau Ekspor APD

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
APD tenaga medis. (Foto: Ist)

-

AA

+

Aneh, Saat Dibutuhkan Malah Pemerintah Mau Ekspor APD

Nasional | Jakarta

Minggu, 19 April 2020 20:43 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Terasa aneh. Mengapa tidak, di saat bangsa ini membutuhkan alat pelindung diri atau APD dalam menangani wabah virus corona, malah pemerintah mau mengekspornya.

Tentu saja kebijakan pemerintah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani ini dikritik oleh anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay.

Mengapa ini penting:

• Saat ini APD itu sangat dibutuhkan tenaga medis atau tenaga kesehatan untuk menangani pasien COVID-19.

• Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) hingga saat ini masih mengeluhkan sulitnya untuk mendapat APD tersebut.

Konteks: Pernyataan Menkeu Sri Mulyani yang menyebutkan bahwa Indonesia tetap akan mengekspor APD ke negara lain tanpa mengurangi kebutuhan dalam negeri untuk menangani COVID-19.

Kata dia, Indonesia selaku salah satu penghasil APD terbesar telah memiliki kontrak pemenuhan suplai APD ke beberapa negara seperti Korea Selatan dan Jepang.

Bagaimana tanggapannya: Saleh Partaonan Daulay, Sabtu (18/4/2020) menilai tentu saja menyisakan kekhawatiran di tengah masyarakat. Sebab, sampai hari ini, kebutuhan APD dalam negeri juga belum terpenuhi.

Ketika rapat virtual dengan Komisi IX DPR dengan Ketua Gugus Tugas COVID-19 menyatakan bahan baku APD diimpor. Saat ini juga ada kesulitan untuk melakukan impor.

"Kan, aneh kalau kita mengekspor barang yang bahan bakunya impor. Anehnya lagi kita sendiri sedang membutuhkan. Apalagi BIN memprediksi puncak penyebaran virus ini pada bulan Juli. Mestinya, stok APD dalam negeri dipenuhi terlebih dahulu. Soal rencana ekspor itu dipikirkan belakangan," kata Saleh.

Keluhan PERSI: Sekjen PERSI, Lia Partakusuma mengeluhkan bahwa rumah sakit saat ini rebutan untuk mendapatkan alat kesehatan (alkes), termasuk kebutuhan APD untuk kebutuhan tenaga medis.

"Contohnya paling repot saat ini masker N95. Kita tahu bahwa ini dibutuhkan untuk garda terdepan melindungi tenaga medis yang langsung kontak dengan pasien-pasien COVID-19," keluhnya saat diskusi virtual, Minggu (10/4/2020).

Alkes tersebut bisa didapat jika rumah sakit melakukan pembayaran di depan. Padahal, biasanya rumah sakit melewati prosedur tertentu dan pembayaran dilakukan di akhir.

Jahe Merah Bisa Tingkatkan Gairah Seksual Pria

Sekarang rumah sakit seolah-olah harus menyiapkan cash dan satu lagi paling repot adalah harga yang bisa berlipat ganda.

"Ada lapisan yang memang butuh bahan baku dari luar, misal masker bedah. Cari masker N95 itu susah, harus gerilya ke mana-mana. Kami sangat butuh bantuan pemerintah," harapnya.


0 Komentar