Antisipasi Tragedi Bus Sriwijaya, Komisi V DPR Cek Bus di Terminal Samarinda
Anggota Komisi V DPR Irwan Fecho dari Fraksi Partai Demokrat (Foto: Beritakaltim)

SAMARINDA (HK) - Berkaca dengan tragedi PO Sriwijaya Ekspres di Sumatera Selatan, Anggota Komisi V DPR Irwan Fecho melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di Terminal Tipe A Samarinda Seberang.

Dalam kesempatan Irwan melakukan pengecekan kelaikan bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) yang melayani trayek Samarinda-Banjarmasin.

Saat dilakukan pengecekan ditemukan bus yang tidak memenuhi syarat kelaikan sehingga Irwan memerintahkan kepada pihak pengelola terminal yakni Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kalimatan Timur menunda keberangkatan bus bus hingga syarat kelaikan terpenuhi.

“Cek ini memastikan keselamatan penumpang di libur Natal dan Tahun Baru dijamin,” tegas Irwan, Rabu (22/12/2019).

Selain itu, Irwan juga memastikan terminal tipe A Samarinda akan direvitalisasi pembangunan di tahun 2020, mengingat dalam sidak tersebut bangunan terminal banyak yang rusak.

“Kita pastikan tahun 2020 terminal Samarinda akan menjadi terminal Modern,” jelas Irwan.

Kemudian Irwan juga menyapa para penumpang Bus di terminal tersebut untuk melihat keluhan dan aspirasi terkait pelayanan baik operator maupun regulator.

Seperti diketahui, sebanyak 26 orang meninggal dalam kecelakaan maut bus PO Sriwijaya tujuan Bengkulu-Palembang di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Bus tersebut masuk ke jurang sedalam 75 meter.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Supriadi menjelaskan peristiwa ini terjadi di Jalan Lintas Pagar Alam-Lahat Km 9, Desa Plang Kenidai, Dempo Tengah, Kota Pagar Alam, pukul 23.15 WIB, Senin (24/12/2019). Supriadi mengatakan insiden ini merupakan kecelakaan tunggal.

"Bus dengan bernomor polisi BD-7031-AU dikemudikan oleh Fery tersebut awalnya menabrak dinding penahan tikungan Lematang Indah, sehingga terperosok ke dalam jurang," jelas Supriadi.

Bus tersebut jatuh ke dasar Sungai Lematang. Informasinya, ada 50 orang di dalam bus itu. Sebanyak 27 penumpang naik dari loket di Bengkulu. Sedangkan sisanya penumpang yang naik di jalan.

"Penyebab masih dalam lidik, belum tahu pasti, karena masih evakuasi. Yang jelas laka tunggal dan informasi ada 50 orang dalam bus. Kalau data yang naik bus dari loket di Bengkulu ada 27, tetapi ada lagi penumpang naik di jalan," kata Kapolres Pagar Alam AKBP Dolly Gumara.

Sebanyak 26 orang meninggal akibat kecelakaan itu, 18 di antaranya sudah teridentifikasi.

Penyebab pasti kecelakaan masih diselidiki. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) hingga kepolisian untuk melakukan penyelidikan.

"Kami akan berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kepolisian, Dinas Perhubungan, maupun pihak terkait mengenai kecelakaan ini," kata Kepala Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Pitra Setiawan.

Atas peristiwa tersebut, lanjut Pitra, pihaknya meminta KNKT dan kepolisian mengusut tuntas kejadian ini serta penyebabnya supaya ke depannya tidak terulang kejadian serupa lagi.

"Kalau nanti hasilnya operator tidak menjamin keselamatan kendaraan dalam arti tidak laik jalan, maka bisa saja nanti operator untuk bertanggung jawab secara hukum," tambah Pitra.