Populisme Bangkit. Apa itu Populisme?
Populisme vs Demokrasi

Pemimpin populis akan selalu mengklaim bahwa dialah satu-satunya orang yang dapat mewakilkan masyarakat secara luas.

POPULISME pada dasarnya adalah variasi metode pendekatan politik yang bertujuan untuk menarik dukungan dari masyarakat yang merasa aspirasinya tidak diperhatikan oleh pemerintah saat itu. Dalam ilmu politik, populisme menggambarkan suatu masyarakat yang terbagi menjadi dua kelompok: “the pure people” (the good) dan “the corrupt elite” (the bad).

Istilah ini sebenarnya jarang sekali digunakan pada Abad ke-20 dan baru diteliti dengan aktif pada tahun 1990-an. Hanya setelah Donald Trump menjadi populer di tengah kampanyenyalah istilah ini marak digunakan di diskusi keseharian.

Statistik Google Trend menunjukan bulan Januari 2017, saat pelantikkan berlangsung, adalah periode dimana pencarian kata ‘populisme’ tertinggi sampai hari ini .

Namun, peneliti ilmu politik sendiri belum menemukan konsensus mengenai definisi populisme sendiri. Apakah itu sebuah ideologi? Ataukah metode wacana politik? Yang pasti akademia politik setuju bahwa populisme ini adalah sebuah fenomena Abad ke-21 yang perlu dipantau lebih lanjut.

Pemimpin Populis

Dalam bukunya “What is Populism?” Jan-Werner Müller berpendapat bahwa nilai inti dari seorang pemimpin yang populis adalah penolakannya atas keberadaan pluralisme di masyarakat. Yang dimaksud oleh Muller adalah pemimpin populis akan selalu mengklaim bahwa dialah satu-satunya orang yang dapat mewakilkan masyarakat secara luas.

Pengertian konvensional dari definisi ini sering menganggap bahwa sang pemimpin hanya bersandiwara untuk mendapatkan dukungan. Namun, pemimpin populis yang ‘sejati’ dapat memimpin pemerintahan yang memang berkomitmen secara moral untuk mewakilkan masyarakat.

Bahayanya adalah pemimpin ini dapat dengan mudah mengubah sistem pemerintahan menjadi otoriter yang mengecualikan orang-orang yang tidak dianggap menjadi bagian ‘masyarakat’ menurut pengertian si pemimpin.

Dr Moffitt, penulis buku “The Global Rise of Populism” menulis bahwa pemimpin populis biasanya juga berperilaku buruk. Contoh dari sifat ini adalah karakter Donald Trump yang tidak sejalan dengan kode etik presiden dan norma perilaku yang diharapkan masyarakat.

Presiden Duterte dari Filipina juga merupakan contoh lain dari sifat ini. Selain itu, mereka juga cenderung ‘mengabadikan’ situasi krisis dan selalu siap sedia untuk bermain di ‘offensive.’ Karena pemimpin populis harus meyakinkan masyarakat atau pendukungnya bahwa ialah satu-satunya pahlawan yang mendengarkan keluhan masyarakat, maka ia harus mempertahankan keberadaan si musuh yang merupai krisis negara atau kekuasaan/pemerintahan yang ada.

Metode kampanye ‘anti’ juga merupakan salah satu ciri khas pemimpin populis: anti-pemerintahan, anti-politik, anti-elitis. Politik anti ini memberikan ruang gerak bagi pemimpin untuk selalu menciptakan ‘musuh’ baru untuk dilawan. Skenario seperti ini membuat si pemimpin terlihat sangat heroik dan kuat seperti “strongman” leaders.

Presiden Hugo Chávez terkenal dengan kutipannya: “I am not an individual — I am the people”

View this post on Instagram

Belakangan, dunia dikejutkan oleh insiden antar umat beragama di India. 
Lebih dari 200 orang terluka, dan 34 lainnya meninggal akibat kelompok Hindu radikal menyerang umat Islam. .
.
India saat ini telah menjadi negara di mana pembantaian tersebar luas. Pembantaian apa? Mereka melakukan pembantaian terhadap Muslim. Siapa yang melakukan ini? Hindu [India] yang melakukan itu," ujar Erdogan dalam pidatonya di Ankara, Turki.
.
.
India mengkritik kecaman Erdogan itu dengan mengatakan, "Saya hanya ingin menasehati Turki agar menahan diri mengomentari urusan internal India dan membangun pemahaman yang lebih baik terkait praktek-praktek demokrasi. Saya juga memperingatkan mereka untuk tidak mendorong terjadinya terorisme di lintas perbatasan [India-Pakistan]". .
.
.
Sebelumnya Islam melakukan aksi damai, dan menolak diberlakukannya undang undang kependudukan baru yang dianggap anti-Islam. .
.
.
Source : TRT World
.
. #trendingtopic #trendingtwitter #trendingyoutube #hottopic #videotrending #trendingnow #beritahariini #berita #Indonesia #videotrending #haluaninfo #haluandotco #trendinghariini #islamindia #hinduindia #hinduislam #india #kaumminoritas #umatberagama #agama #agamaislam #agamahindu

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Bangkitnya Populisme di Abad ke-21

Semua dimulai pada tahun 2008 dimana krisis finansial dunia memperluas ketimpangan ekonomi dalam masyarakat yang mengikis kepercayaan terhadap pemerintah. Karena populisme tidak memiliki unsur absolut politik sayap kiri atau kanan, kebangkitan populisme mudah untuk dipicu dimana kegelisahan sosial marak dan keluhan masyarakat tidak terjawab.

Situasi seperti ini menyediakan panggung yang sempurna bagi seorang populis untuk memimpin gerakan anti-pemerintah yang ada dengan menuduh kalangan atas yang korup untuk turun dari posisinya di pemerintahan.

Setelah Donald Trump diangkat menjadi presiden pada tahun 2017, populisme menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia. Retoris khas anti-imigran membawa kemenangan bagi Trump dan pemilihnya yang mayoritas Kaukasia berkulit putih. Sesuai dengan sifat pemimpin populis yang telah dijelaskan sebelumnya, karakter Trump memenuhi semua checkbox yang ada.

Yang paling menonjol dari style pimpinan Trump adalah kecenderungannya untuk menganggap semua kebijakan dan pendapat yang berlawanan dengan pemikirannya sebagai ‘musuh besar’ masyarakat. Contohnya, Trump seringkali mengekspresikan frustrasi dengan pers dan media massa di Twitter dan mengklaim bahwa publikasi terbitan media yang bertentangan dengan dia adalah fake news dan “the enemy of the American people”.

Dia juga rutin mengejek dan menyindir hakim-hakim court yang tidak setuju dengan kebijakannya. Berita terbaru mengenai komentar Trump yang bersifat anti-imigran dan anti-kulit berwarna menyinggung tiga anggota kongres yang disuruh untuk kembali ke negara asalnya mengundang reaksi buruk dari komunitas internasional.

Ini adalah contoh sempurna yang menunjukkan bahwa masyarakat yang diwakili oleh Trump adalah golongan tertentu Amerika yang menurutnya pantas untuk dianggap sebagai penduduk Amerika, meskipun ketiga wanita kongres tersebut semuanya merupakan warga negara AS.

Terpilihnya Presiden Trump sebagai Presiden Amerika Serikat dengan otomatis memberi dorongan bagi calon-calon pemimpin populisme lainnya untuk sergap mengintensifikasikan kampanye ‘anti’ mereka.

Dalam kata lain, unggulnya Trump memberikan keberanian dan harapan bagi pemimpin populis di belahan dunia lain bahwa mereka pun bisa maju dan merebut panggung pemerintahan di negara mereka.

Populernya Marine le Pen di Perancis, Rodrigo Duterte di Filipina, Recep Tayyip Erdogan di Turki, dan Viktor Orban di Hungaria adalah bukti bahwa populisme sudah bangkit dan akan terus bangkit apabila proponen demokrasi tidak mengekang perkembangan praktik ini.