Apa Yang Terjadi Jika Kita Tidak Percaya Pada Sains?

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Yang bisa membantah sains adalah sains yang lebih baik.

-

AA

+

Apa Yang Terjadi Jika Kita Tidak Percaya Pada Sains?

Overview | Jakarta

Senin, 13 April 2020 10:03 WIB


Dalam ilmu pengetahuan teori berkembang, pengetahuan bertambah, temuan makin banyak, dan pemahaman kita makin baik.

INI mungkin konyol, di media sosial, setidaknya di linimasa saya, ada semacam keraguan untuk tidak percaya dengan WHO. Penyebabnya WHO mengkritik pemerintah yang menyemprotkan disinfektan di jalanan. Pihak WHO menganggap gerakan ini sia-sia karena tak ada orang yang akan dengan senang hati menjilat jalan atau mencium tiang listrik.

Orang-orang lantas mengkritik WHO karena dianggap plin-plan. Dulu tidak menganjurkan penggunaan masker, tapi kini malah menganjurkannya. Seruan WHO mengenai masker sebaiknya dipakai oleh mereka yang sakit dan atau menangani yang sakit ini tidak sepenuhnya salah. Jadi salah karena orang-orang bebal yang ngga mau mendengarkan seruan physical distancing, merasa kuat, dan terus melakukan aktifitas seenaknya.

Jika mereka yang sehat tetap di rumah, tidak memaksakan diri jalan ke luar, tidak melakukan interaksi dengan orang lain, sehingga tidak bertemu dengan penderita COVID-19 non symptoms ya seruan itu mungkin tidak akan berubah. Seruan memakai masker berganti karena temuan dokter/ilmuan tentang persebaran droplets dari batuk yang bisa tetap dalam ruangan beberapa jam setelah bersin. Artinya better science by better scientist.

Ilmuwan dan dokter mengemukakan bahwa virus ini akan mati pada satu suhu tertentu. Jika bukan pada inang hidup, mereka akan mati pada suhu di atas 56 derajat celsius. Suhu di jakarta paling tinggi 30an derajat celsius, jelas tidak akan membunuh Corona. Tapi penyemprotan disinfektan juga tidak punya efektifitas yang berarti.

Saya percaya tidak akan ada orang yang tiba-tiba mau jilat jalan atau kemudian meluk tiang listrik. Jika benda-benda di jalan terkontaminasi, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah tidak keluar ke jalan. Persebaran yang ada adalah saat kita memegang permukaan terkontaminasi korona lantas memegang muka, virus baru masuk. Dengan tidak ke luar rumah kemungkinan itu akan berkurang.

Di Cina, dokter Zhang Liubo, dari badan pengendalian wabah negara itu menyebut penyemprotan disinfektan di jalanan hanya akan menambah polusi baru dan membuat kondisi jadi makin berbahaya. Riset 2017 di Jerman menyebut beberapa disinfektan punya hubungan memicu asma bagi orang dewasa.

Temuan ilmuwan/dokter itu menyelamatkan nyawa kalian, bukan malah menyepelekan dan merendahkan temuan mereka. WHO itu bukan perpanjangan negara mana-mana saat pandemi kaya sekarang. Contoh terburuk bagi mereka yang tidak mau mendengar kajian para ahli ya Amerika, negara itu tidak mau mendengar seruan WHO, akibatnya sekarang angka kematian karena Corona mencapai 1000 orang perhari, lima hari berturut-turut, dan penularannya mengggila tiap hari, terakhir mereka tembus 2000 kematian dalam sehari.

COVID-19 adalah penyakit yang relatif baru, pengetahuan kita tentang penyakit ini sangat terbatas, setiap hari ilmuan/dokter/virolog/ahli kesehatan, berjibaku dengan riset dan penelitian untuk mencari tahu tentang virus ini. Bantu mereka dengan diam di rumah sebisanya.

Apabila kalian menganggap WHO tidak bisa dipercaya, ya jangan cuci tangan, jangan jaga jarak, jangan bekerja dari rumah. Semua rekomendasi itu ya dari WHO. Apakah mereka korup, brengsek, dan tidak bisa dipercaya karena politik itu persoalan lain. Yang jelas setiap klaim dan pernyataan terkait kesehatan yang mereka bikin, bisa diperiksa, apakah didukung oleh riset yang baik dari dokter/ilmuwan yang punya integritas.

Jangan percaya konspirasi, percayala sama metode riset dan penelitian saintifik. Jika ada yang perlu dikritik dari WHO adalah sikap mereka tidak peduli dengan kelas pekerja dan masyarakat miskin. Menyerukan bekerja dari rumah, menjaga jarak, tapi nyaris bungkam dengan kelas pekerja yang masih datang ke pabrik. Seperti Italia, India, dan Indonesia.

Kalau kita ngga percaya sama dokter, sama ilmuwan, yaudah. Kerja keras mereka dalam usaha menemukan vaksin, menghapuskan penyakit bakal sia-sia. Dampak buruk ini sebenarnya bisa kita lihat dari bagaimana negara-negara tidak mau mendengar dokter dan ilmuan mereka. Di Italia lockdown dilakukan karena seruan physical distancing tidak dipatuhi. Kematian setelah lockdown terjadi karena kebijakan itu terlambat dilakukan, dan daerah yang paling terdampak adalah daerah yang padat pekerja di utara Italia.

Politisi sibuk bertikai, menolak percaya pada sains, dan merendahkan rekomendasi para dokter. Di Italia karena politik muncul seruan yang menggelikan dari Nicola Zingaretti, ketua partai demokrat itali yang sebelumnya menolak lockdown dan menyerukan orang-orang itali untuk tetap berpesta dan minum anggur, dinyatakan positif COVID-19 usai menyerukan pesta dan meremehkan para dokter yang bekerja.

Ini mengapa anggapan bahwa lockdown tidak berfungsi di italia, karena tetap mengalami banyak kematian, adalahmisinformasi. Faktanya karena Italia tidak segera memberlakukan lockdown, para politisinya tidak mendengar para dokter dan ilmuan tentang ancaman corona. Warganya membandel, tetap keluar rumah sembari melakukan pembangkangan dengan cium pipi dan berkumpul di ruang publik membuat keadaan jadi memburuk.

Baru setelah kematian naik terus menerus, lockdown diberlakukan di Italia.

Usai lockdown diberlakukan, para dokter berpendapat kasus kematian akibat corona menurun. Tapi ini terlambat, banyak kelompok buruh yang sudah tertular dari pabrik-pabrik yang masih bekerja. Kematian terus terjadi, meski angkanya tidak setinggi minggu-minggu sebelum lockdown.

Sebuah tulisan di Washington Post menggambarkan tragedi ini dengan puitik.

"Koran penuh dengan obituari, sementara para peratap menangis sendiri”

Korea selatan tidak memberlakukan lockdown tapi punya metode bagus dalam pemeriksaan Corona. Dengan daya periksa pasien mencapai 10.000 pasien perhari saat kasus setelah kasus pertama diketahui, angka itu meningkat 15.000 pasien perhari, hingga akhirnya mencapai 20.000 pasien perhari. Tiga strategi utama yang dilakukan adalah, lacak, uji, tangani. Metode ini mampu melacak setiap orang yang berhubungan dengan pasien positif dengan cepat. Korea Selatan jelas punya teknologi, sumber daya, dan inisiatif cepat untuk menanggani pandemi ini.

Salah satu hal yang paling penting dalam kesuksesan penanganan dan pencegahan kasus COVID-19 di Korea Selatan adalah keterbukaan informasi. Dengan melacak pasien tanpa membuka identitasnya, Korea Selatan bisa memetakan persebaran virus. Selain itu dengan daya periksa 20.000 pasien perhari, dengan populasi 50 juta orang, jelas mereka menangani kasus ini dengan baik.

Sebagai perbandingan penduduk surabaya ada 2.7 juta, Rumah Sakit (RS) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang ditunjuk Kementerian Kesehatan menjadi tempat tes corona atau Covid-19 hanya mampu memeriksa 100 pasien per hari.

Dengan 43 titik pengujian bagi mereka yang dicurigai terkena COVID-19 pemerintah Korea Selatan jelas bisa memeriksa banyak orang di tempat-tempat yang dianggap pusat penularan. Merujuk dari bagaimana mereka melacak persebaran dari kasus pertama yang terdeteksi pada 7 Februari Pemerintah Korea Selatan mampu 2.900 orang yang berhubungan dengan satu pasien positif dengan daya jangkau 290 kilometer dari Seoul.

Artinya pemerintah Korea Selatan, dengan teknologi dan tenaga medisnya, melakukan pelacakan sejak kasus pertama ditemukan pada 7 Februari. Pemerintah korea selatan mendengarkan anjuran dokter, percaya pada rekomendasi medis, dan yang penting melakukan penindakan tegas bagi mereka yang melanggar aturan.

Sederhana saja, mereka yang positif akan mendapat prioritas perawatan, mereka yang sembuh dan mengalami simptom ringan akan diisiolasi. Seluruh kebutuhan dasar dipenuhi pemerintah Korea Selatan. Mereka yang membandel dihukum denda 3 juta won.

Lalu bagaimana dengan Wuhan? Pemerintah Cina dianggap memberlakukan draconian rule. Memaksa 60 juta orang dikurung dalam rumah. Kereta, penerbangan, dan transportasi darat dihentikan. Wuhan dan 15 kota lain di provinsi hubei tertutup.

Kini setelah dua bulan ditutup angka penularan kasus masih terjadi, tapi jauh berkurang. Sebagai perbandingan dari angka 1000 orang terperiksa positif COVId-19, menjadi hanya 12-15 orang perhari. Tapi apa yang mendasari pemerintah Cina melakukan lockdown? Temuan dari para dokter dan ilmuan tentang persebaran penyakit ini bisa jadi rujukan.

Vox menjelaskan ini dengan baik. Tiap wabah penyakit punya angka persebarannya tersendiri, wabah penyakit cacar misalnya, bisa menulari 12-16 orang dalam sekali pertemuan. Ini disebut sebagai basic reproduction number atau RO, ilmuan menjelaskan ini untuk menggambarkan betapa berbahayanya sebuah penyakit.

Flu biasa mempunya R)1,3, artinya satu orang akan menulari satu orang saja. Jika deret ukur penularan ditulisan maka satu orang yang memiliki flu biasa setelah melakukan penularan sepuluh kali akan membuat 56 orang sakit. Sementara Corona memiliki RO2, setelah satu orang menulari dua orang dan seterusnya, pada deret ke sepuluh ia akan menulari 2047 orang dalam satu hari. Bayangkan jika ini terjadi sejak Januari.

Pemerintah Cina yang sukses melakukan lockdown ini toh masih dianggap terlambat. Dengan temuan kasus pada Desember dan lockown dilakukan pada Januari, seharusnya Cina bisa menyelamatkan 67 persen kasus kematian karena corona. Artinya, menurut para dokter dan ilmuan ini, jika lockdown diberlakukan pada awal temuan kasus, 67 persen kasus kematian dari total 3.329 orang itu bisa diselamatkan. Lebih dari separuhnya.

Metode Italia, Korea Selatan, dan Cina (Wuhan) menarik dibaca secara serius. Tiap-tiap penanganan punya satu kesamaan, saat kondisi sudah tidak tertangani dengan cara konvensional pemerintah mereka mendengarkan rekomendasi dari para ilmuan dan dokter.

Sains semestinya menjadi rujukan saat pandemi, bukan racau politisi.


0 Komentar