Apakah dengan Mendengarkan Lagu-lagu .Feast Lantas Kita Jadi Aktivis?
Kelompok musik indie .Feast yang juga pentolan FISIP UI (Ilustrasi: Haluan.co)

Sebenarnya, tidak ada salahnya menikmati musik. Tapi juga tidak tepat jika kita mendewakan jenis musik yang kita sukai dan merendahkan selera musik orang lain.

TADINYA, saya hendak memberi judul tulisan ini dengan kalimat “Dekadensi Penikmat Grup Musik Indie dan Banalitas Jiwa Aktivisme Para Pendengarnya”. Namun kemudian saya sadar, saya sudah bukan mahasiswa lagi ehehehehe. Jadi, kita pakai judul tongkrongan seperti di atas.

Awalnya, kemunculan grup musik “.Feast” dengan titik di depan memang disambut meriah oleh warganet, termasuk saya. Kenapa begitu? Mungkin ada keterikatan dan kekuatan dalam lirik lagu-lagu grup asal Jakarta ini.

Seperti kemunculan Efek Rumah Kaca di tahun 2007, .Feast menghadirkan suara-suara aktivisme, zonder cinta-cintaan yang sudah usang di jagad permusikan Indonesia. Lirik-lirik .Feast dalam lagu “Peradaban” dalam album “Beberapa Orang Memaafkan” (2018).

“Karena peradaban takkan pernah mati

Walau diledakkan, diancam 'tuk diobati

Karena peradaban berputar abadi

Kebal luka bakar, tusuk, atau caci maki”

Bagaimana? Udah kerasa aura-aura demonstran belon bwoss? Atau udah langsung merasa jadi pegiat HAM setelah membaca lirik ini?

Sebenarnya, musik yang dibawakan grup musik ini tidaklah penuh dengan distorsi dan ketukan khas musik rock. Penambahan sumber suara sintetis melalui synthesizer yang dimainkan Baskara Putra, merangkap vokal, menjadi keunikan tersendiri.

Tentu saja, ditambah lirik-lirik dengan pemaknaan mendalam menambah unik karya-karya grup musik yang terbentuk dari sekumpulan mahasiswa FISIP Universitas Indonesia ini.

Ya, .Feast mulai muncul ke permukaan skena musik indie pada tahun 2014, dengan single “Camkan”. Musik indie dalam hal ini diartikan sebagai musik independen yang diproduksi secara mandiri melalui dapur rekaman konvensional, non-major label. Hal ini perlu ditekankan, karena beberapa orang menganggap “indie”sebagai sebuah genre musik, padahal kan indie iku mantanku grup musik sing dodolan lagu-lagune gae usaha dewe. Lirik lagu “Camkan” pun cukup membekas di kalangan mahasiswa edgy pada tahun-tahun itu, bunyinya seperti ini.

“Kubakar asap yang membumbung tinggi, kuarahkan ke kiblatku sendiri

Tintaku merangkai ayat pribadi ,mencatat standar dosa duniawi

Pisahkan fantasimu dari diriku, ritualmu urusanmu

Ritualku urusanku

Camkan

Karma dan membunuh bukan ranahku, di luar jangkauku untuk kuhakimi

Lihat kembali sila ke satu, buka kembali pintu interpretasi”

Lagu “Camkan” ini hadir untuk mengkritisi kebebasan beragama di Indonesia yang memang mulai memprihatinkan sejak Pemilu 2014, atau bahkan sejak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terpilih menjadi wakil gubernur DKI Jakarta mendampingi Joko Widodo dua tahun sebelumnya.

Kekhawatiran kelompok-kelompok intoleran terhadap keberadaan Ahok sebagai “pewaris sah” tahta gubernur DKI Jakarta menjadi awal dari keributan masyarakat kita baik di dunia nyata maupun di dunia maya menyoal agama. Sebab, Ahok datang dari kalangan Tionghoa dan beragama Kristen, suatu hal tabu bagi mereka yang “empunya surga dan segala isinya”.

Padahal, sebelum masa itu, kita terbiasa bertemu dan berkawan dekat dengan saudara-saudari berbeda keyakinan. Kecuali, kau yakin dia cinta mati sama kau, tapi nyatanya tak ada dia punya keyakinan perasaan yang sama dengan mukak kao! Kalau itu nasib.

Lantas, kenapa akhir-akhir ini banyak meme atau shitposting, bahkan hingga muncul perundungan terhadap pendengar .Feast garis militan?

Faktanya, segala sesuatu yang menjadi banal dan overproud akan menimbulkan kejengkelan. Hal ini dialami oleh mereka-mereka yang keranjingan lagu-lagu .Feast dan kemudian merendahkan selera musik orang lain. Terutama mereka yang tidak mendengarkan lagu-lagu grup musik itu.

Ditambah, pesan-pesan aktivisme dan perjuangan yang dibawa dalam lirik-lirik lagu .Feast seolah menjadi dogma absolut bagi pendengar militannya. Hingga tak khayal, ada sebuah pembicaraan yang menyinggung tema humanisme atau politik dan dikomentari “Eh elu gak dengerin lagunya Feast yang Peradaban ya? Coba deh lu dengerin, biar open minded”.

Kesan berlebihan yang muncul dari beberapa orang itulah penyebab segala perundungan dan keributan menyoal .Feast di linimasa. Padahal, tak ada yang salah dengan grup musik tersebut. Sebab, memang lagu-lagu cinta sudah amat membosankan. Seperti ketika Efek Rumah Kaca membawakan lagu sarkastik berjudul “Lagu Cinta Melulu” sekian tahun lalu.

Kemudian .Feast hadir dengan nuansa baru era musik perlawanan di Indonesia. Atau barangkali pemakaian kata “perlawanan” di sini juga terlalu banal?

Mungkin saja. Sebab semangat aktivisme di kalangan mahasiswa memang umum tumbuh dengan bumbu-bumbu musik. Sejak era “generasi bunga” 60-an dengan Bob Dylan dan Joan Baez, kemudian era 80-an hingga 90-an masyarakat dekat dengan Iwan Fals. Dan setelah reformasi masih muncul Efek Rumah Kaca yang masih menyuarakan keadilan dan perjuangan HAM melalui lagu-lagunya.

Ada masanya, mahasiswa dekat dengan buku, diskusi, pesta, demonstrasi, protes, dan musik. Meski tak jarang juga ada mahasiswa yang tidak mengalami ketiganya, alias mereka yang membusuk di kosan atau membusuk di warnet game online.

Namun, musik adalah hal yang universal. Sebab di masa ini, tak perlu selalu pergi ke panggung konser untuk mendengarkan musik. Khususnya sobat-sobat mahasiswa kuliah ngutang yang tak tahu hendak mengajak siapa di malam minggu.

Sebab, insan-insan kurang beruntung seperti ini harus rela terjerembab di depan layar Youtube atau aplikasi pemutar musik lainnya. Istilah kerennya, malam minggu berdikari. Berkencan di atas kaki sendiri.

Sebenarnya, tidak ada salahnya menikmati musik. Tapi juga tidak tepat jika kita mendewakan jenis musik yang kita sukai dan merendahkan selera musik orang lain. Seperti pepatah Nganjuk mengatakan bahwa,”Mbooyaaak, gak ngoros kon te ngrungokno Dream Teather ta Casiopea, lek aku yo cukup New Pallapa mbek kendangane Cak Met wes lossss gak ruueewel

Semua genre dan jenis musik tentunya memiliki kekuatan tersendiri untuk menggaet pendengarnya. Baik Kangen Band atau Rage Against the Machine, Armada atau Nirvana, hingga Nella Kharisma atau Amy Winnehouse. Semua lirik juga memiliki kekuatan filosofinya sendiri.

Tidak semua orang memiliki keterikatan pada semua lirik-lirik lagu. Seperti penduduk Bengkulu yang mungkin tak paham lagu-lagu Didi Kempot, atau arek-arek girasan di bilangan Wonokromo, Surabaya yang tak paham lagu-lagu Sigur Ròs.

Sebab pada dasarnya selera musik adalah hak prerogatif para pendengar musik itu sendiri. Enak tak enak bukan soal, sebab enak juga sangat relatif. Tak semua orang suka mendengar lagu-lagu dari musisi indie macam .Feast, dan tak semua orang juga suka mendengar lagu-lagu musisi major label macam Noah. Kalau Peterpan? Semua suka. Sebab Ariel sebelum masuk penjara adalah Ariel yang penuh ide dan liar awokwokwoowkk….

Untuk itu, tak perlulah kita sibuk menilai selera musik orang lain, nikmatilah musikmu sendiri. Carilah yang seirama dengan selera musikmu, dan kalau ada bakat bolehlah membentuk grup musik. Agar Surabaya tidak hanya bertumpu pada Dewa 19, Padi atau Boomerang saja. Jogja tak hanya KLa, Jikustik, Endank Soekamti, dan FSTVLST.

Serta Bandung juga tak berhenti dengan viralnya lagu “Kasih Sayang Kepada Orang Tua” karya Mawang, sobat ISBI Bandung yang liar itu. Kalau perlu, kita gerakkan anak-anak tongkrongan yang gemar bergitar dan bernyanyi sampai subuh. Patungan goceng buat rekaman boleh lah. Demi terwujudnya musik mandiri. Daripada nyinyirin selera musik orang lain.

Sah-sah saja jiwa aktivisme para pemuda itu menggelora dengan lirik-lirik lagu dari musisi-musisi seperti Efek Rumah Kaca, Merah Bererita, Iksan Skuter, .Feast, dan lain sebagainya. Atau preferensi musik Anda boleh saja se-edgy mungkin sampai-sampai musisi itu hanya anda saja yang tahu.

Tapi satu hal yang harus diingat bahwa apa saja aliran musik anda, pas nikahan nanti juga musiknya kalau tidak campursari, dangdut koplo, Nike Ardilla, atau musik kasidah pesanan mamak kao. Maka dari itu, kurangi ribut masalah selera musik. Mari bersinergi mencintai musik dalam negeri, tapi tidak perlu mencintai terlalu berlebihan. Sebab kita tak tahu di depan nanti, ada musik-musik baru yang mengajak untuk dicintai.

Atau, seperti kembalinya Didi Kempot, justru selera musik kita mundur ke belakang. Sebab masa lalu tak sepenuhnya pahit dan membosankan. Ada kalanya masa lalu mengalirkan memori, membasahi sepi, menenggelamkan naluri. Hasssshhh, omong kosong kao bujang! Pulang sana, mamak kao cari di dusun, ngegigs terossss!


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja