Arak Bali Dilegalkan dengan Pergub
Arak Bali dilegalkan dengan Pergub. (Foto: Ist)

DENPASAR, HALUAN.CO – Minuman arak Bali dilegalkan melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Fermentasi atau Destilasi Khas Bali.

Meski minuman itu dilegalkan, tetapi dilarang dijual pada kalangan remaja, pedagang kaki lima, penginapan, bumi perkemahan, tempat yang berdekatan dengan sarana peribadatan, lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, dan fasilitas kesehatan, serta tempat-tempat sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

Regulasi ini sebelumnya tidak mungkin dibuat karena dalam Perpres No.39 Tahun 2014, minuman khas Bali yang dimaksud yakni arak masuk dalam daftar negatif investasi.

Namun dengan penetrasi yang kuat, Gubernur Bali Wayan Koster akhirnya bisa mewujudkan payung hukum bagi para perajin arak di Pulau Dewata itu.

Menurut Gubernur Bali Wayan Koster, Pergub yang baru dikeluarkannya itu telah disetujui oleh Kementerian Dalam Negeri, yang diundangkan 29 Januari lalu.

Regulasi pro-rakyat berbasis kearifan lokal ini terdiri dari 9 bab dan 19 pasal. Ada lima minuman khas Bali yang diatur dalam pergub, meliputi tuak Bali, brem Bali, arak Bali, produk artisanal, dan brem atau arak Bali untuk upacara keagamaan.

“Dengan pergub ini, kita bisa melakukan tata kelola untuk mengatur produk khas Bali dari hulu sampai hilir. Saya kira ini satu produk baru sebagai basis ekonomi kerakyatan sesuai dengan kearifan lokal yang sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” ujarnya dikutip Balipost.

Menurut Koster, penerbitan pergub bertujuan untuk memanfaatkan minuman khas Bali itu sebagai sumber daya ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan krama Bali.

Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, belum ada satu gubernur pun di Indonesia dari 34 provinsi yang bisa menembus ini, karena itu, ini satu-satunya pergub.

"Kebetulan juga bisa nomor 1 tahun 2020,” ujar Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra dalam sosialisasi Pergub No.1 Tahun 2020, di Jayasabha, Denpasar, Rabu (5/2).

Menurut Dewa Indra, muatan utama dari visi Gubernur adalah mengangkat budaya Bali untuk menjadikan Bali terhormat. Produk budaya yang adiluhung diangkat lagi, apalagi yang bernilai ekonomi.

Sebab, jika dikelola dengan baik, akan memberikan benefit yang luar biasa. Seperti halnya arak Bali, karena petani atau perajin yang terlibat dalam produksinya sangat banyak.

“Produk budaya kita ini kira-kira sama kuatnya dengan sake di Jepang, atau lebih kuat bila perlu. Kita ingin menciptakan satu pandangan bagi wisatawan, kalau belum membawa arak maka belum terbukti secara sah pernah ke Bali,” jelasnya.

Disambut Gembira Perajin

Terbitnya Pergub No. 1 Tahun 2020 disambut gembira para perajin arak di Bali. Mereka mendapat perlindungan hukum dari pemerintah dalam memproduksi arak serta tidak lagi kucing-kucingan dengan pihak kepolisian dalam menjual hasil produksi.

“Ini sangat saya apresiasi. Ini sebuah kabar baik bagi perajin arak di Karangasem,” kata perajin arak Banjar Asah Dulu, Desa Datah, Abang, Karangasem, I Nyoman Artawa, Rabu (5/2).

Selama ini kata dia, para perajin waswas dalam memproduksi arak. Sebab, belum ada perlindungan hukum.

Kondisi itu membuat para perajin waswas dalam mendistribusikan hasil produksinya, karena takut ditangkap oleh pihak kepolisian karena arak masih ilegal.

“Selama ini saya waswas menjual arak. Karena kalau ketahuan aparat bisa ditangkap dan diproses secara hukum. Semoga dengan pergub ini, ke depannya produksi arak bisa lebih maksimal,” katanya.

Sementara itu, Karmayasa, perajin arak di Sidemen, mengatakan di satu sisi menyambut baik Pergub No. 1 Tahun 2020. Namun di sisi lain dapat menimbulkan permasalahan baru, khususnya bagi perajin arak berbasis tradisional.

Sebab, dengan pelegalan arak ini, nantinya ada daerah lain yang menekuni pekerjaan sebagai perajin arak.

“Saya berharap pemerintah dapat memberikan hak istimewa terhadap wilayah perajin arak tradisional. Selain itu, pemerintah dapat menjembati dalam pendistribusian arak sampai ke luar Bali,” katanya.

Perajin lainnya, I Nyoman Redana, mengakui kalau pihaknya juga sangat bersyukur dilegalkannya arak oleh pemerintah. Ini artinya pemerintah mulai bisa memperjuangkan masyarakat kecil yang berkecimpung sebagai perajin arak.

“Ini bagaikan angin segar bagi perajin arak. Jadi, kini tidak lagi kucing-kucingan menjual arak dengan petugas kepolisian,” katanya.