Arief Budiman: Si Pengkritik Penguasa yang Penuh Kasih Sayang

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Arief Budiman

-

AA

+

Arief Budiman: Si Pengkritik Penguasa yang Penuh Kasih Sayang

Total Politik | Jakarta

Selasa, 28 April 2020 11:20 WIB


Aktivis Arief Budiman menghembuskan nafas terakhirnya pada 23 April 2020. Dirinya dikenang sebagai pengkritik yang penuh kasih sayang.

WAKTU bagi Arief Budiman “beristirahat” pun tiba juga. Sama seperti manusia lainnya, aktivis dan intelektual yang tak mengenal lelah memikirkan nasib bangsa itu menghembuskan nafas terakhirnya pada 23 April 2020. Penyakit Parkinson dan komplikasi menimpa dirinya. Mungkin saja, pria kelahiran 3 Januari 1941 ini sudah terlalu lelah sehingga perlu beristirahat untuk selama-lamanya.

Arief, sapaan akrabnya, memang tak asing lagi terdengar bagi para aktivis dan demonstran. Pria dua anak ini adalah kakak dari Soe Hok Gie, seorang aktivis demonstran terkenal pada tahun 60-an yang mengkritik Orde Lama dan Orde Baru dan diteladani para mahasiswa serta aktivis pergerakan hingga kini. Namun, nama Arief tak kalah harum dari kakaknya—meski Gie tetap lebih banyak diketahui.

Jika Gie mati muda di umur 26 tahun, Arief memang lebih beruntung: hidup jauh lebih lama. selama ia hidup itulah, dirinya tak menyia-nyiakan hidupnya dalam menyoal keadilan dan ilmu pengetahuan.

Pada tahun 60-an, ia sempat menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Pencariannya berlanjut ke dekade 70an-80an, ketika ia kuliah di Paris (1972) dan meraih Philosophy of Doctor (Ph. D) di Harvard University di bidang sosiologi (1980). Sekembalinya ke Indonesia, dirinya mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, lalu mengajar di Universitas Melbourne, Australia.

Menjadi aktivis, akademisi, dan kritikus penguasa adalah pengabdian hidup Arief Budiman.

Selama menjadi aktivis, sekaligus akademisi, Arief pernah terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang dicatat sejarah. Ia pernah terlibat dalam penandatanganan Manifesto Kebudayaan (Manikebu) pada tahun 60-an dalam persoalan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) versus Manikebu, mengkritik Orde Baru terkait pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Golongan Putih (Golput).

Arief juga memiliki bakat menulis yang baik. Pria keturunan Tionghoa itu tampaknya lebih pandai menulis daripada berdagang pada umumnya, mengingat bapaknya Soe Lie Piet juga seorang sastrawan. Ia pernah menjadi redaktur Majalah Horison, sebuah majalah khusus karya sastra di Indonesia yang terbit pada bulan Juli 1966.

Di UKSW sendiri, ia juga pernah terlibat konflik dengan jajaran rektorat yang memecat dirinya tanpa hormat. Hal itu lantaran dirinya ikut menyatakan pendapat yang berbeda daripada pihak yang berkuasa di kampus UKSW mengenai sah atau tidaknya pengangkatan rektor keempat. Aktivis itu pun melawan dengan menggugat permasalahan itu ke Pengadilan Tata usaha Negara (PTUN). Ternyata, gugatan Arief berbuah kemenangan.

Dari semua itu, hanya saja ada momen menarik bagi saya yang menyorot sepak terjang Arief sebagai kritikus Orde Baru.

Kala itu, tepatnya 3 Juni 1971 di Gedung Balai Budaya Jakarta, Arief bersama para aktivis dan mahasiswa memproklamirkan gerakan moral yang dinamakan Golongan Putih (Golput). Momen ini dilakukan sebelum Pemilihan Umum (Pemilu).

Golput merupakan sebuah upaya kritik terhadap Pemilu Orde Baru melalui ajakan kepada masyarakat agar tidak memilih di Pemilu. Upaya ini dilakukan lantaran sikap ketidaksetujuan mereka terhadap gagasan Pemilu Orde Baru.

Pemilu dalam Orde Baru melihat pemilihan tersebut bukanlah sebagai hak, melainkan kewajiban. Jadi, seseorang menggunakan hak pilihnya di Pemilu tersebut lebih karena kewajiban atau ketakutan daripada pencerminan dari sikap atau pilihan politik. Arief bersama teman-temannya menolak untuk terlibat dalam Pemilu Orde Baru di tengah galaknya aparat-aparat yang berkuasa kala itu.

Akibat dari tindakannya itu, ia bersama teman-temannya pun ditangkap aparat Orde Baru. Sebanyak 34 orang seperti Arief Budiman, Imam Waluyo, Julius Usman, dan Husin Umar ditahan penguasa pada waktu itu. Meski ditangkap, ia tetap saja memberikan kritik terhadap pemerintah jika mereka keliru dalam melaksanakan pembangunan.

Mengais Jejak Refly si Pengkritik yang Terlampau Berisik

Sebagai pengkritik, Arief Budiman memang unik. Antropolog dan sejarawan sosial, Ariel Heryanto, menilainya sebagai seorang pengkritik yang penuh kasih sayang.

Diterangkannya, selama Arief menjadi aktivis dan kritikus, dirinya seringkali digambarkan sebagai pengkritik yang galak, terlebih jika ada penguasa yang sewenang-wenang. Bahkan, gambaran Arief sebagai pengkritik sering digambarkan berlebihan. Ditambah lagi, gosip seram tentang kegusaran pemerintah terhadap kritik Arief sering menyasar kepada dirinya.

Soal itu pun berefek kepada Arief. Banyak pihak yang takut berdekatan dengan Arief lantaran dirinya yang menjadi musuh pemerintah. “Semua ini jelas tidak adil bagi Arief sendiri, bagi pihak pemerintah maupun khalayak umum,” tulis Ariel Heryanto dalam “Arief Budiman dan UKSW Salatiga” di Koran Wawasan, Senin 20 Maret 1995.

Padahal, sosok Arief tidaklah berlebihan seperti itu. Dalam pengamatan Ariel, mengingat dirinya juga mendalami sosok Arief, aktivis penggagas Golput ini justru dikenal sebagai seorang humanis yang amat lembut. Terkadang, kata dia, malah terlalu lembut, hingga menjengkelkan teman-temannya.

Ariel berpandangan, justru pejabat negara tidak gusar dengan kritik Arief. Sebab, mereka sadar akan kritik Arief yang disampaikan dengan penuh kasih sayang, bukan untuk merusak atau pula mengacau.

Tak sulit untuk menghabisi orang seperti Arief Budiman. Ia bukanlah seorang yang punya backup politik. Tetapi, ia hanya aktivis dan akademisi biasa yang mengkritik pemerintah dengan apa adanya, namun konstruktif.

Justru yang terjadi malah sebaliknya, Ariel mengatakan bahwa aktivis itu mendapat kunjungan dan undangan dari para pejabat tinggi militer maupun sipil. Mereka justru mengajak Arief untuk makan bersama dan bertukar pikiran, baik dalam kapasitas dinas maupun pribadi.

Bagi beberapa pejabat pemerintah, Ariel menerangkan, Arief dianggap terlalu dekat dengan para pembangkang politik. Sementara di kalangan aktivis, Arief malah dinilai terlalu dekat dengan pemerintah dan militer.

“Tapi sebagai seorang pendidik, Arief mengasihi semuanya,” tulis Ariel. (AK)


0 Komentar