Arogansi Gerombolan N-Max, Tahu Dirilah Anda Bukan Bawa Harley, "Malu euy!"
Konvoi N-Max di Batu, Malang, beradu tegang dengan pengendara mobil. (Ilustrasi: Haluan.co)

Konvoi motor sudah sejak lama menjadi “musuh” para pengendara di jalan raya. Hal ini tentu tak lepas dari sikap mereka yang merasa eksklusif dan tak jarang juga arogan. Meski tentu tidak semua begitu. Namun, tetap saja, kegiatan itu tidak legal secara hukum. Ingat, secara hukum, bukan berdasar oknum polisi yang mungkin bisa anda ajak main mata. 

JAKARTA, HALUAN.CO - Beberapa waktu lalu, lini masa Twitter dihebohkan dengan ribut-ribut antara rombongan pengendara N-Max dengan pengendara mobil CR-V. Setelah melakukan perambanan pada kolom komentar, diketahui kejadian itu terjadi di kawasan Kota Batu.

Namun, belum terlalu jelas. Pastinya, jalanan itu nampak sempit, dan tidak luas, beserta adanya verboden dengan tanaman hijau di tengahnya. Memang mungkin sekali hal itu terjadi di kawasan wisata Malang lantai dua, atau Kota Batu.

Kejadian itu secara singkat terjadi karena mobil hendak masuk ke jalur utama, lantas rombongan N-Max memberi klakson plus mbleyer gak santuy. Akhirnya, mobil yang mungkin tak terima itu mengejar rombongan, sehingga sisi kiri jalan menjadi penuh.

Mobil itu sendiri sempat diperingatkan anggota rombongan N-Max untuk pelan dan minggir, namun tak digubris. Lantas, salah seorang pengendara N-Max yang emosi sepertinya memukul spion mobil hingga bengkok dan kemudian mencoba kabur.

Sayangnya, mobil yang makin tak terima itu mengejar dan pengendara N-Max yang panik justru menabrak motor Vario di depannya. Setelahnya, pengemudi mobil keluar, dan tanpa pikir panjang langsung melayangkan beberapa pukulan kepada pengendara N-Max tadi. Terjadilah ketubiran di jalanan ramai itu.

Dari kejadian di atas, kita pasti dibingungkan dengan siapa salah dan siapa benar. Namun, mari kita lihat dari sudut pandang hukum. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Peraturan tentang pengguna jalan yang dapat diprioritaskan atau memperoleh hak utama tercantum pada Pasal 134, huruf “a” sampai “g”, antara lain:

1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;

2. Ambulans yang mengangkut orang sakit;

3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;

4. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;

5. Kendaran pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga Internasional yang menjadi tamu negara;

6. Iring-iringan pengantar jenazah; dan

7. Konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia

Ditambah, pada bagian “Penjelasan” tertera bahwa yang dimaksud dengan “kepentingan tertentu” pada huruf “g” adalah kepentingan yang memerlukan penanganan segera, antara lain,

1. Kendaraan untuk penanganan ancaman bom;

2. Kendaraan pengangkut pasukan;

3. Kendaraan untuk penanganan huru-hara; dan

4. Kendaraan untuk penanganan bencana alam.

Sementara itu, kasus mobil dari percabangan jalan dari kiri masuk ke jalur utama diatur melalui Pasal 113 ayat (1) huruf (d) yang berbunyi, “Pada persimpangan sebidang yang tidak dikendalikan dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi wajib memberikan hak utama kepada: (lanjutan) huruf (d)—Kendaraan yang datang dari arah cabang persimpangan sebelah kiri, jika cabang persimpangan 3 (tiga) yang tidak tegak lurus”

Jadi, dalam kasus berujung keributan itu, hal pertama yang terjadi adalah mobil masuk dari arah cabang jalan sebelah kiri dan tidak tegak lurus, dan konvoi motor berada di jalur utama lurus.

Persimpangan tiga di dalam video “Pengendara Mobil VS Konvoi N-Max” nampak tidak diatur oleh lampu APILL, sehingga sesuai dengan Pasal 113 ayat (1) huruf (d) harusnya pengendara mobil lebih mendapat prioritas di jalan raya, karena berada di persimpangan sebelah kiri dari jalan utama. Sehingga, pengendara yang berada di jalur utama wajib memberikan jeda untuk kendaraan dari persimpangan kiri masuk terlebih dahulu.

Belum sampai di situ, secara hukum pun, jelas ditegaskan bahwa konvoi kendaraan bermotor tidak masuk dalam kategori penjelasan pada Pasal 134 huruf (g) UU No. 22 tahun 2009 tentang LLAJ. Sehingga, kegiatan konvoi yang hanya bertujuan “wisata” sebenarnya tidak memiliki payung hukum jelas. Kecuali, iku pawai motor tentara opo konvoi mobil Brimob sing atene nggeruduk teroris. Tapi kan tidak ada kendaraan militer berbentuk motor matic slurr….

Kedudukan para pengendara N-Max yang melakukan konvoi sudah lemah secara hukum. Ditambah, kejadian perusakan dan penyerangan terhadap kendaraan lain. Dan, banyak pertanyaan terkait kedudukan jenis motor N-Max ini dalam spesifikasi motor.


Secara umum, N-Max masih masuk dalam kategori skuter matic hanya memiliki CC lebih besar saja, istilah orangnya adalah “Nouvo Max”, jelmaan termutakhir dari motor Nouvo keluaran Yamaha. Hanya saja, keberadaan double shock-breakers di bagian belakang motor ini membuatnya berbeda dengan saudara tuanya, Yamaha Mio. Karena umumnya motor matic hanya memiliki shock tunggal di belakang.

Dan, keberadaan shock ganda pada N-Max itulah yang membuat body dari motor jenis ini sangat bahenol dan semledot, alias berpantat besar lagi lebar. Jangan bayangkan bisa berakslerasi sambil meliuk-liuk dengan motor jenis ini, karena berbahaya secara jiwa dan raga.

Bahaya raga adalah karena body motor yang berat dan tentu susah dikendalikan jika berada di kecepatan tinggi sambil bermanuver, bisa jadi pengendara menabrak atau sekadar menyenggol kendaraan lain. Dan tentu, setelah bahaya raga, mengikuti pula bahaya jiwa, alias siap-siap ae lek dipisuhi wong nang embongan mergo polahmu sing ngguatheli….

Spesifikasi motor N-Max yang rancu juga kerap membut pemiliknya lupa bahwa motornya itu sebenarnya matic tapi rasanya seperti Harley-Davidson. Hal ini ditunjang adanya sandaran kaki yang lebih panjang di bagian depan motor N-Max. Lantas, apakah itu merubah nasib anda? Tidak. Anda tetap bisa dituntut orang jika melakukan konvoi semena-mena.

Sebab, belum ada peraturan hukum lalu lintas yang mengatur legalitas konvoi kendaraan sipil dengan tujuan tidak terlalu penting. Bahkan jika kita masukan frasa “kendaraan Firaun” di mesin pencari Google, yang kita dapatkan adalah jenis motor seri Max ini. Oleh karena itu, mari kita kembali pada khittah, kalau matic ya matic, tak perlu berlagak seperti sedang naik motornya Satria Baja Hitam RX.

Konvoi motor sudah sejak lama menjadi “musuh” para pengendara di jalan raya. Hal ini tentu tak lepas dari sikap mereka yang merasa eksklusif dan tak jarang juga arogan. Meski tentu tidak semua begitu. Namun, tetap saja, kegiatan itu tidak legal secara hukum. Ingat, secara hukum, bukan berdasar oknum polisi yang mungkin bisa anda ajak main mata.

Dan, mengingat banyaknya pengendara motor yang belum tentu mendapat Surat Izin Mengemudi (SIM) secara sah non-calo atau nembak, maka tindakan-tindakan konvoi ini bisa makin berbahaya. Sebab, mereka hanya tahu mengendarai motor, tanpa tahu aturan lalu lintas dan angkutan jalan. Sebab, kita tak sendirian di jalan raya. Banyak pihak yang memiliki urgensi masing-masing, dan kita harus saling menghormati.

Mudahnya, kita sering dibikin misuh-misuh oleh seseorang yang menyalakan lampu sein ke kira, tapi belok ke kanan. Atau, pengendara yang menyalakan lampu sein tepat saat berbelok.

Padahal, lampu sein itu berguna sebagai tanda, minimal dinyalakan 50-meter sampai 100-meter sebelum berbelok. Supaya, pengendara di belakang dan di depan dapat menyesuaikan posisi, agar tidak nyusruk trotoar atau melakukan pengereman mendadak.

Selain itu, bagi pengendara mobil, baik yang dibeli tunai maupun kreditan, usahakan memahami ulang tata cara penggunaan lampu hazard. Hal ini krusial sekali di jalan raya, apalagi jalan tol. Lampu hazard merupakan lampu darurat yang gunanya sama seperti segitiga pengaman berwarna oranye. Keduanya memiliki fungsi untuk menjadi penanda atau isyarat jika kendaraan berhenti darurat atau mogok di jalan. Hal ini diatur dalam Pasal 121 ayat (1) UU No. 22 tahun 2009 tentang LLAJ yang berbunyi, “Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memasang segitiga pengaman, lampu isyarat, lampu isyarat peringatan bahaya, atau isyarat lain pada saat berhenti atau parkir dalam keadaan darurat di jalan.”

Jelas disebutkan bahwa lampu hazard adalah lampu khusus untuk isyarat bahaya. Bukan lampu untuk penanda kecepatan pelan saat musim hujan, atau malah lampu sein, lha lapo kon lek nyetir alon-alon atene mlipir golek cilok malah nguripno lampu hazard ndeng?

Jika lampu hazard ini digunakan serampangan, yang ada justru membahayakan pengendara lain. Karena, lampu dengan nyala terang dan berkedip itu dapat membuat fokus pengendara di belakang anda menjadi terganggu. Oleh karena itu, lampu hazard khusus digunakan saat berhenti mendadak di bahu jalan.

Pokoknya, kalau tidak sedang dalam kondisi berhenti dan darurat, lampu hazard ini haram untuk dinyalakan. Anggaplah tombol lampu hazard yang ada gambar segitiga merah itu seperti mantanmu, jangan disentuh kalau tidak benar-benar kangen uwuwuuwuwu….

Jadi, baik motor maupun mobil, baik yang riding alone atau konvoi, usahakanlah tetap berwawasan lalu lintas dan menghormati sesama. Contohlah konvoi Vespa, tanpa izin polisi pun mereka tahu kalau tindakan konvoi memang tak berdasar hukum, tapi polisi juga enggan menilang Vespa, kecuali wes nemen remek e dan berbahaya.

Dan sejauh ini, saya belum pernah melihat konvoi Vespa berlaku arogan dengan mematahkan spion Bus Eka misalnya. Pertama, karena gak gadhuk, dan kedua karena kalah banter.

Terakhir, tolong tahu diri terhadap motor Anda, jika bukan Harley ya lebih baik tidak berlagak seperti naik Harley, takutnya diketawain pengendara motor Harley beneran malah malu kan Anda.


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja