Avan Fathurrahman: Dilema dan Kecintaannya sebagai Guru

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Avan Fathurrahman saat mengunjungi salah seorang muridnya. (Sumber: Facebook Avan Fathurrahman)

-

AA

+

Avan Fathurrahman: Dilema dan Kecintaannya sebagai Guru

Viral | Jakarta

Selasa, 21 April 2020 13:54 WIB


Avan merasa tak ada pilihan lain, kecuali harus keliling ke rumah-rumah siswa, setidaknya tiga kali dalam seminggu. Jarak yang ditempuh bukan hanya lumayan jauh, tapi medannya juga kurang bagus.

Kisah seorang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Batuputih Laok III, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tengah viral di dunia maya. Avan Fathurrahman, demikian nama guru itu, mengunggah tulisannya di Facebook mengenai keputusannya untuk tetap mengajar para murid langsung di tengah situasi pandemi COVID-19..

Sebagaimana warga lain, Avan seharusnya tetap berada di rumah dan melakukan kegiatan work from home. Namun, Avan memutuskan untuk mendatangi langsung rumah-rumah mereka. Hal itu lantaran kebanyakan muridnya tak memiliki sarana belajar. Jangankan laptop, smartphone pun ada yang tak punya. Ada yang punya smartphone, tapi juga tak punya paket data.

Kemdikbud memang mengeluarkan kebijakan program pembelajaran melalui TVRI untuk menjangkau lebih banyak anak, tapi ternyata hal itu juga masih terkendala. Masih ada beberapa siswa yang di rumahnya tak memiliki televisi.

Avan bercerita, ada salah seorang wali murid yang bilang kepadanya akan mencari pinjaman uang untuk membeli smartphone. Hal itu lantaran mendengar kabar jika belajar dari smartphone bisa membuat cerdas anak-anak. Avan yang terkejut mendengar penuturan wali murid itu secara pelan-pelan melarangnya.

Avan mencoba memberikan pemahaman, belajar di rumah tidak harus lewat HP. Siswa bisa menggunakan buku-buku paket yang sudah dipinjami dari sekolah. Avan juga menyebut jika ia akan berkeliling ke rumah-rumah siswa untuk mengajari mereka. Hal tersebut tentunya melegakan para wali murid.

“Jadi anak-anak harus belajar sendiri. Maka, sayalah yang harus hadir untuk mendampingi mereka begiliran meski sebentar. Menjelaskan materi, memberikan petunjuk tugas, mengoreksi tugas yang diberikan sebelumnya, termasuk memberikan apresiasi pada pekerjaan mereka,” ujarnya.

Meski sadar melanggar imbauan pemerintah untuk tetap bekerja dari rumah, tapi Avan merasa tak ada pilihan lain. Ia tak bisa membiarkan siswa belajar sendiri di rumah tanpa pantauan. Apalagi di kampungnya saat ini orang tua murid yang kebanyakan petani, sibuk dalam masa panen padi. Setiap petani harus bekerja ke sawah. Ikut gotong-royong panen padi dari tetangga yang satu ke tetangga yang lain. Kebiasaan itu dikenal sebagai ‘otosan’ dan sudah menjadi tradisi di Sumenep.

Maka demikianlah, Avan harus keliling ke rumah-rumah siswa, setidaknya tiga kali dalam seminggu, dalam masa pandemi seperti sekarang. Jarak yang ditempuh bukan hanya lumayan jauh, tapi medannya juga kurang bagus. Dalam keadaan demikian pun dilemanya tetap tak tertahankan.

“Ternyata saya belum jadi guru yang baik...”


Penulis Buku Anak dan Seorang Pendongeng

Lahir di sebuah desa kecil di wilayah utara Sumenep, tepatnya Desa Batuputih Laok, Madura, Jawa Timur, Avan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertamanya di Batuputih. Pendidikan Madrasah Aliah ia lalui di Ponpes Raudhatul Thalibin Sumenep.

Ia kemudian melanjutkan S1 di STKIP PGRI Sumenep Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dilanjutkan S2 di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) dengan jurusan yang sama.

Sejalan dengan studinya, Avan memilih menjadi pendidik di daerah kelahirannya. Ia mengabdi di SDN Batuputih Laok III Kecamatan Batuputih Sumenep. Selain menulis, Avan juga aktif sebagai reporter dan penyiar di Radio Pornama FM Sumenep. Namanya juga akrab di kalangan pegiat literasi di daerah tersebut. Tulisannya berupa artikel, puisi, esai dan cerpen kerap dipublikasikan di media massa.

Avan juga produktif menulis buku cerita anak serta aktif sebagai pendongeng. Saat ini, ia merupakan Ketua Komunitas Pecinta Bacaan Anak (KPBA) dan Rumah Cerita Okara. Setidaknya ada sembilan buku, umumnya berupa cerita anak, yang sudah ditulis Avan. Antara lain:

Perempuan Pemahat Rindu (2011), Petualangan Peri Zaira, sebuah novel (2013), Dreams to be a Hero berupa antologi kisah inspiratif (2014), Cerita Ibadah dan Fakta Unik Keajaiban Shalat (2017), Rukun Islam dan Rukum Iman (2018), Dongeng Pengantar Tidur; tema kereta api (2018), Pohon Literasi, kumpulan cerpen bersama Komunitas Guru SD Menulis (2019), Anak Muslim Hebat, kumpulan cerita anak (2019).

Teranyar, ia menulis buku cerita anak berjudul ‘Lampu yang Menyala’ (2020). Dibuat dengan ilustrasi dan warna menarik, buku yang ditujukan untuk anak tingkatan PAUD dan SD itu bercerita tentang lampu yang bisa membuat semua tampak indah.

Sebagai pendongeng, Kak Avan, demikian ia dipanggil, sering tampil ditemani ‘Kia’, boneka bicaranya. Didukung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan setempat, Avan rutin mendongeng di Taman Bunga Sumenep. Namun, terkadang ia juga keliling desa untuk mendongeng. Ada 48 lokasi kegiatan yang sudah masuk dalam daftarnya.

Bagi Avan, mendongeng merupakan salah satu cara untuk menyampaikan nilai-nilai kearifan. Melalui dialog antar tokoh, respon antar tokoh, atau narasi dalam cerita, ia bisa menitipkan pesan di dalamnya. Ia ingin ikut melestarikan budaya tutur dan ikut menanamkan pendidikan karakter pada generasi muda sejak dini.

Dengan mendongeng, kata Avan dalam blog pribadinya, ia mengajak anak-anak untuk menjelajah dunia luar tanpa risiko. Mereka otomatis akan mengembara memasuki imajinasi. Belajar dari realitas yang imajinatif itu. Dengan cara seperti itulah nilai-nilai yang ditanamkan melalui cerita dongeng akan tetap lekat dalam hati dan pikirannya.

“Saya memilih jalan ini karena sadar tidak punya kemampuan lebih untuk ‘menceramahi’ anak-anak secara langsung. Kami ingin selalu merawat kebahagiaan itu dengan bernyanyi, bermain, dan mendongeng dengan mereka” tulis Avan melalui akun Instagram pribadinya, @avan_fathurrahman.


0 Komentar