Bagas Adhadirgha, Anak Kolong yang Jadi Pebisnis Penerbangan
Bagas Adhadirgha (Foto: Sindonews)

JAKARTA, HALUAN.CO - Dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan penerbangan di Kompleks TNI AU Magetan, Jawa Timur, tempat lahirnya semua penerbang tempur TNI Angkatan Udara, membuat Bagas Adhadirgha termotivasi menjadi pilot semenjak kecil.

Tak hanya lingkungan penerbangan, ayahnya Marsdya TNI (Purn) Eris Herryanto adalah seorang pilot senior militer yang menerbangkan pesawat tempur pabrikan Amerika Serikat F-16 dari Dallas Fort Worth menuju Lanud Iswahjudi, Magetan. Nama ‘Dirga’ pun disematkan pada Bagas oleh sang ayah dan ibu Widjati Harsasi sebagai kedekatannya pada dunia dirgantara.

Ingin mengikuti jejak sang ayah, pria kelahiran tahun 1984 itu sangat tertarik menjadi seorang pilot. Tapi, kenyataan memang tak selalu sesuai yang diharapkan. Pendidikan yang ditempuhnya di Universitas Trisakti dan kemudian di luar negeri selama tiga tahun di bidang IT (Information Technology) semakin menjauhkan mimpinya dari kedirgantaraan. Ia lantas memulai karier profesional sebagai seorang karyawan di perusahaan IT asal Jerman yang salah satunya membuat software logistik untuk salah satu anak perusahaan Garuda Indonesia.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Maka, meski tak jadi pilot, jadilah Bagas berjualan sparepart dan mesin pesawat terbang bermerk rotax di tahun 2007 sebagai usaha perdananya sekembali ke tanah air. Tak lama, ia kemudian mulai melirik sebuah lapangan rumput kosong tak terurus di daerah Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Pramuka Cibubur.

Bagas pun menajamkan visi perusahaan agar berkembang lebih cepat dengan berubah menjadi pengelolaan bandara. Tekadnya, jika tak tercapai jadi pilot, ia ingin memiliki perusahaan penerbangan dimana ia bisa menggaji para pilot dan bisa melihat lapangan bandaranya sendiri dari dalam ruang kerjanya.

Bagas memulai ide untuk mengembangkan sebuah bandar udara benar-benar seorang diri. Mulai dari memotong rumput sampai mengurus semua perizinan lahan seluas 22 hektare sendiri. Dengan keberaniannya, di usianya ke-25 tahun, ia mendirikan PT Asia Aero Technology, sebuah private company pertama yang bergerak di industri general aviation dan airport services di Indonesia.

Berangkat dari Passion dan Dedikasi

Berangkat dari passion dan dedikasi. Demikian prinsip Bagas dalam mengembangkan usaha hingga mencapai kesuksesannya saat ini. Bagi Bagas, latar belakang pendidikan ataupun keluarga tidak boleh menjadi alasan jika ingin menjadi seorang entrepreneur. Selain itu, untuk menjadi pengusaha, katanya, juga harus dimulai dari diri sendiri dan jangan bergantung kepada orang lain.

Live with passion memiliki arti hidup sebagai diri sejati Anda. Yaitu melakukan hal-hal yang membuat Anda paling bahagia, yang paling Anda banggakan dan antusias, dan yang membuat Anda merasa terpenuhi. Passion Anda adalah bagian besar dari identitas dan harga diri Anda,” kata mantan calon Ketua HIPMI itu di akun instagramnya berbagi tips.

Di awal berusaha, tak mudah bagi Bagas untuk menyakinkan orang tua yang tak memiliki background pengusaha meski usahanya masih di bidang yang sama dengan sang ayah. Selain itu, tak mudah menjadi pengusaha pionir dalam industri general aviation dan airport services di Indonesia karena tidak ada role model untuk dapat dijadikan contoh.

“Menjadi pionir itu tidak mudah, harus banyak belajar tanpa ada role model. Ini tidak terjadi secara instan,” kata Bagas yang juga dikenal sebagai Pembina Pramuka khususnya Pramuka Saka Dirgantara, dalam sebuah kesempatan.

Namun, perjalanan yang tak mudah tidak mematahkan semangat Bagas Adhadirgha untuk terus membangun usahanya hingga mendapat banyak kepercayaan mengembangkan project jasa layanan aviasi di seluruh Indonesia. Dengan bermodal passion, ide, keberanian, uang 50 juta rupiah dan dedikasi memajukan industri penerbangan Indonesia. Bagas akhirnya sukses mengelola bisnis bandara komersial, Wiladatika Private Airport di Buperta Cibubur.

PT Asia Aero Technology yang dikelola Bagas sejak 12 tahun lalu itu kini melayani berbagai kebutuhan operasional penerbangan, mulai dari manajemen kebandarudaraan, desain bandara, operasional penerbangan, pemeliharaan mesin, fasilitas hanggar dan parkir inap (remain over night) dan lain-lain. Lini bisnisnya juga tak hanya berkisar di penerbangan, tapi mencakup industri pariwisata, IT, media, pertahanan dan general trading.

Dalam pemilihan ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) beberapa waktu lalu, meski tak terpilih, tapi Bagas siap bersanding dengan ketua terpilih untuk menjadikan HIPMI sebagai garda terdepan mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Ia percaya Indonesia saat ini memiliki generasi produktif. Untuk itu, HIPMI dapat menjadi inkubator bisnis pengusaha muda nasional.

Apalagi menurutnya, tidak ada negara yang memiliki kombinasi kekayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) seperti Indonesia. “HIPMI harus lebih berperan mengoptimalkan peningkatan kualitas SDM agar dapat menciptakan nilai tambah pada ekonomi SDA kita,” katanya.


Penulis: Melda Riani