Bahwasanya, Hanya ada Dua Jenis Bakso di Muka Bumi Ini
Bakso dikenal sebagai makanan oriental, tapi di Indonesia secara umum hanya ada dua jenis bakso. (Ilustrasi: Haluan.co)

Di Indonesia, kita mengenal berbagai jenis olahan daging giling. Namun Bakso adalah primadona yang adiluhung. Sebagaimana genre dalam musik, bakso pun memiliki alirannya sendiri.

ADALAH Malang dan Solo, demikianlah dwitunggal ranah perbaksoan tanah air memulai segalanya. Kuliner dengan olahan daging giling yang dibentuk bulat menjadi salah salah satu dari sekian jenis makanan yang harus diakui UNESCO. Apa sebabnya? Tentu, karena sajian bakso adalah sebuah kulminasi dari segarnya kuah kaldu beserta segala isian pelengkapnya. Tanpa cela.

Bakso boleh saja berakar dari tradisi China, “Bak” dalam kata Bakso berarti daging babi giling. Namun beberapa pihak masih berdebat tentang asal-usul Bakso ini. Ada yang berujar bahwa bakso berasal dari era Persia, makanan ini dinamakan “Kofta”.

Lain pihak mengatakan Bakso berasal dari era Dinasti Qin yang berkuasa di daratan China dari tahun 221 hingga 206 sebelum Masehi. Dan tentu, Romawi tak mau kalah, sebab resep olahan bakso juga terdapat pada manuskrip Apicius, sebuah buku resep kuno yang dikompilasi pada tahun pertama masehi. Apicius disebut juga sebagai De re coquinaria atau Hal-hal Tentang Permasakan.

Terlepas dari Persia, China, dan buku kumpulan resep karya Caelius Apicius, bakso tetaplah bakso dan yang membedakannya adalah cara penyajian dan cita rasa.

Di Indonesia, kita mengenal berbagai jenis olahan daging giling. Namun Bakso adalah primadona yang adiluhung. Sebagaimana genre dalam musik, bakso pun memiliki alirannya sendiri.

Di Indonesia, ada dua genre perbaksoan yang amat erat dengan masyarakat kita. Pertama, adalah Bakso Malang, dan kedua adalah Bakso Solo atau Wonogiri. Perbedaannya banyak, dan beberapa hal ini akan coba saya jelaskan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Kita awali dari hal eksternal, sisi terluar dari sajian bakso. Perlu dipahami bahwa Bakso Malang adalah bakso yang independen. Penjual Bakso Malang hakiki adalah mereka yang menjual bakso tanpa menyajikan sajian lain seperti mi ayam. Bakso Malang berdiri sendiri, dan tentu dengan sematan nama “Bakso Arema” sebagai penanda orisinalitas Arek Malang.

Beda halnya dengan Bakso Solo yang kerap menyatukan sajian baksonya dengan Mi Ayam. Oleh karenanya, olahan Bakso Solo ini umum dikenal sebagai Mi Ayam dan Bakso Solo. Penamaan Solo sendiri kerap terdistorsi dengan fakta bahwa banyak di antara penjualnya justru berasal dari Wonogiri, alias Solo coret.

Terlepas dari warga Wonogiri yang kerap mendaku sebagai warga Solo, perbedaan mendasar dari kedua genre bakso ini ada pada cara penyajian. Pertama, Bakso Malang memiliki paradigma penyajian bakso dengan isian yang bineka. Bakso Malang terkenal dengan isian beragam meliputi pelbagai jenis gorengan isi daging, dua jenis tahu bakso, siomay, dan dua jenis mi yang telah dibentuk sedemikain rupa.

Umumnya hal ini ditemui di setiap sudut Kota Malang sebagai kawah candradimuka dari lahirnya Bakso Malang. Dengan ragam isian ini, Bakso Malang memiliki garansi kenyang dalam satu mangkoknya.

Berbeda dengan Bakso Malang yang oportunis mencampur isian ini dan itu, genre Bakso Solo jauh berbeda. Saya menyebutnya sebagai Lonesome Meatballs, atau bakso kesepian. Bakso Solo memiliki ciri khas isian yang terfokus pada pentol bakso saja. Dengan hanya ditambah tahu bakso dan bihun sejumput, Bakso Solo sudah bisa dinikmati begitu saja.

Tak ada isian neko-neko yang memenuhi mangkok. Hal ini adalah hal mendasar yang membedakan kedua genre ini. Jadi, jika anda menemukan warung bertuliskan Bakso Malang namun sajiannya hanya sepi, maka dipastikan pemiliknya tak menjiwai semangat Arema atau sekadar kurang modal saja.

Perbedaan berikutnya terletak pada proses penyajian. Bakso Malang yang umum ditemui di Kota Malang hingga franchise bakso Malang dengan merk tertentu disajikan secara mandiri, alias a la carte. Harga tercantum menurut setiap isian atau item yang ada. Sehingga, umumnya harga semangkok Bakso Malang senantiasa menyesuaikan tingkat kelaparan konsumen.

Namun tentu, di Kota Malang sendiri, anda cukup menghabiskan sepuluh hingga lima belas ribu rupiah untuk isian bakso maha lengkap di penjaja bakso keliling. Tapi kalau anda datang ke restoran bakso legendaris di Malang, ya sudah tentu harganya selangit.

...selain diaspora Masakan Padang nan melegenda, tentu kita masih punya banyak sajian tradisional lain yang terbang jauh melampaui daerah asalnya - Algonz Dimas Bintarta Raharja

Sedangkan Bakso Solo umumnya disajikan per porsi saja. Sehingga Anda tak perlu susah memilih isian atau menghitung-hitung “habis berapa nih gue makan segini banyak?”. Cukup serahkan segalanya pada si penjual bakso, maka niscaya Anda tinggal makan saja. Namun tentu, dengan isian yang amat sepi.

Umumnya, kedua genre perbaksoan tanah air ini telah melanglang-buana hingga berbagai pelosok negeri. Bakso Malang terjauh yang pernah saya temukan berada di Manokwari, ibukota Papua Barat. Sedangkan Bakso Solo terjauh yang pernah saya temukan ada di Baturaja, Sumatra Selatan.

Keduanya jauh dari Malang maupun Solo, tapi cita rasanya tetap menyerempet sedikit lah. Maklum, kedua daerah itu pernah menjadi daerah tujuan transmigrasi dari Pulau Jawa. Hal itu memungkinkan terjadinya diaspora sajian Bakso di luar Jawa.

Dan tentu, bagi insan-insan lintas pulau, hal ini bisa dijadikan patokan untuk urusan perut. Sebab, selain diaspora Masakan Padang nan melegenda, tentu kita masih punya banyak sajian tradisional lain yang terbang jauh melampaui daerah asalnya.

Selain Bakso Malang dan Bakso Solo, kita juga bisa menemukan Sate Madura di berbagai tempat, atau bahkan sekarang adalah eranya laju perkembangan kuliner menyebar tak terbatas. Melampaui batas geografis, dan tentu melampaui bayang-bayang perut lapar yang kerap meminta untuk segera dimanjakan.