Balai Latihan Kerja Jauh Lebih Bermanfaat Daripada Kartu Prakerja

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Mengapa Pemerintah Enggan Melihat Potensinya Sendiri? (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Balai Latihan Kerja Jauh Lebih Bermanfaat Daripada Kartu Prakerja

Overview | Jakarta

Selasa, 28 April 2020 04:44 WIB


Keberadaan startup sebenarnya tidak perlu dan tidak penting dalam konteks kemitraan kartu prakerja.

POLEMIK tentang penujukan startup sebagai mitra Kartu Prakerja harusnya dilihat lebih jernih. Apakah startup tadi efektif dalam memenuhi kebutuhan para pekerja? Apakah layanan mereka tepat sasaran? Bagaimana akses mereka? Apakah layanan yang ditawarkan dibutuhkan para pekerja? Pertanyaan-pertanyaan ini harusnya menjadi pertimbangan. Padahal jika pemerintah mau, Balai Latihan Kerja (BLK) yang dibuat oleh Pementrian Ketenagakerjaan bisa menjadi solusi.

Mengapa BLK Penting? BLK sederhananya adalah prasarana dan sarana tempat pelatihan bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan keterampilan atau yang ingin mendalami keahlian tertentu. BLK membuka beberapa bidang kejuruan seperti, Kejuruan Teknik Sepeda Motor, Kejuruan Teknisi Komputer, Kejuruan Operator Komputer, Kejuruan Tata Busana, Kejuruan Teknik Pendingin, Kejuruan Tata Graha, Kejuruan Tata Boga dan lain sebagainya.

Pada 2014 diketahui mayoritas BLK di Tanah Air belum berfungsi secara maksimal karena minimnya dana dari pemerintah. Saat itu banyak BLK milik pemerintah belum beroperasi maksimal lantaran minimnya biaya untuk menggaji tenaga instruktur dan revitalisasi mesin. Ketika itu Kemenakertrans hanya mendapat jatah Rp600 miliar yang bersumber dari APBN untuk mengoperasikan 275 BLK yang tersebar di seluruh Tanah Air. Padahal untuk pengoperasian BLK dan revitalisasi mesin, idealnya dana yang harus dikeluarkan sebanyak Rp2 triliun.

Keberadaan Mesin di BLK digunakan untuk belajar operasional bagi mereka yang hendak bekerja di pabrik. Tapi kebanyakan mesin yang ada teknologinya ketinggalan, sehingga banyak lulusan BLK tidak cocok dengan dunia usaha lantaran mereka tidak bisa menggunakan mesin baru di pabrik tempat mereka bekerja. Tidak hanya mesin yang ketinggalan jaman, sepinya peminat terhadap BLK juga jadi masalah. Minimnya promosi dan sedikitnya fasilitas membuat banyak orang tidak tertarik untuk mengikuti program ini, padahal program ini punya banyak keuntungan.

Belakangan BLK juga bisa memfasilitasi untuk keahlian dalam bidang bahasa asing seperti, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang dan Bahasa Korea. Untuk menyebarkan akses ke posok BLK Juga menyediakan Mobile Training Unit (MTU), program pelatihan kerja dengan menggunakan kendaraan keliling. Mobil keliling ini dipergunakan untuk memprioritaskan melatih para pencari kerja dan penggangguran yang berada di pelosok pedesaan.

Pelatihan MTU mampu menjangkau warga di daerah terpencil yang tidak bisa diakses oleh BLK konvensional. Model pelatihan ini dibutuhkan karena secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya sangat luas. Potensi BLK dirasa sangat besar sehingga pada akhir Desember lalu Presiden Joko Widodo meresmikan 1.113 BLK Komunitas yang fokus pada lembaga-lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren dan seminari. Ia berjanji akan membangun BLK baru setiap tahunnya. Diharapkan, anak-anak dari sekolah keagamaan ini, punya keterampilan setelah lulus dari lembaga pendidikan.

Anggaran dalam pembentukan 1.000 BLK Komunitas ini sebesar Rp1 triliun, sehingga setiap lembaga atau komunitas yang melakukan perjanjian kerja sama dengan pemerintah mendapatkan dana sebesar Rp1 miliar. Tahun ini Kementerian Ketenagakerjaan menargetkan pembangunan 2000 BLK Komunitas di seluruh Indonesia. Jokowi menyatakan, BLK Komunitas merupakan program pemerintah untuk meningkatkan keterampilan (hard skill) santri atau siswa dari lembaga pendidikan keagamaan lainnya serta masyarakat di sekitarnya.

Penentuan kejuruan di BLK Komunitas sudah berdasarkan pada permintaan pihak penerima bantuan agar tepat sasaran. Disamping itu, penentuan kejuruan ini, disesuaikan link and match dengan industri yang ada di sekitar BLK Komunitas. Melalui program bantuan pengembangan BLK Komunitas ini, Pemerintah berkomitmen memberikan bantuan berupa pembiayaan pembangunan 1 (satu) unit gedung workshop; bantuan peralatan pelatihan vokasi untuk 1 (satu) kejuruan; bantuan biaya operasional; dan bantuan biaya untuk melaksanakan 2 paket program pelatihan.

Adapun 10 program pelatihan vokasi yang dikembangkan di BLK Komunitas adalah Kejuruan Teknik Otomotif (Teknik Sepeda Motor), Kejuruan Teknik Las; Kejuruan Processing (Pengolahan Hasil Pertanian), Kejuruan Processing (Pengolahan Hasil Perikanan); Kejuruan Woodworking; Kejuruan Teknologi Informasi dan Komunikasi; Kejuruan Menjahit; Kejuruan Refrigeration dan Teknik Listrik; Kejuruan Industri Kreatif; dan Kejuruan Bahasa.

Ini mengapa keberadaan startup sebenarnya tidak perlu dan tidak penting dalam konteks kemitraan kartu prakerja. Jika pemerintah telah memiliki infrastruktur dan teknologi untuk membantu korban PHK, mengapa rencana 5,6 triliun tidak diinvestasikan kepada kementrian yang ada? Bukankah pemerintah telah memiliki Sistem Informasi Ketenagakerjaan atau SISNAKER yang telah dikembangkan Kementerian Ketenagakerjaan?

SISNAKER merupakan platform digital yang dikembangkan untuk mengintegrasikan seluruh pelayanan di Kementerian Ketenagakerjaan seperti layanan pelatihan, pemagangan, registrasi kelembagaan pelatihan, sertifikasi kompetensi, wajib lapor ketenagakerjaan, lowongan pekerjaan, penempatan kerja, dan lain-lain.

Jika SISNAKER dikolaborasikan dengan BLK Komunitas, semestinya pekerja yang mengalami PHK karena akan sangat terbantu. BLK punya mobile training unit yang bisa berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Idelanya jika satu kelas berisi sepuluh orang, setelah kelas selesai, maka ia bisa berpindah ke tempat lain. Meski saat pembatasan sosial skala besar, kelas dengan pertemuan langsung akan sangat riskan, beda cerita jika Mobile Training Unit dilengkapi dengan akses internet super cepat secara gratis.

Sekali lagi, jika mau, pemerintah tentu bisa mengembangkan platform pelatihan kerja seperti Ruangguru atau sejenisnya.


0 Komentar