Balas Dendam Atas Kematian Soleimani, Hizbullah Siap Gempur Fasilitas Militer AS
Pemimpin milisi Syiah Hizbullah, Lebanon, Hassan Nasrallah. (Foto: BBC)

JAKARTA, HALUAN.CO - Pemimpin milisi Syiah Hizbullah, Lebanon, Hassan Nasrallah mengumumkan akan ikut balas dendam atas kematian komandan pasukan elite Iran Quds, Garda Revolusi, Qasem Soleimani, dalam serangan roket Amerika Serikat (AS) di bandara Baghdad, Irak. Hizbullah akan menargetkan pasukan AS di wilayah Lebanon yang akan mereka gempur. 

"Militer Amerika yang membunuh mereka dan merekalah yang akan membayar harganya,” kata Nasrallah dalam pidato yang disiarkan di pertemuan besar di pinggiran selatan Beirut, basis dukungan kelompok bersenjata yang didukung Iran di Lebanon, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (5/1/2020).

Gelar Sayembara, Iran Hadiahkan Rp1,1 Triliun untuk Kepala Donald Trump

Nasrallah memastikan target utama Hizbullah ialah pangkalan militer AS, tentara, perwira dan kapal perang mereka.

Suara pemimpin Hizbullah tersebut ditenggelamkan oleh nyanyian "Kematian bagi Amerika" ketika ribuan pendukung yang melambaikan bendera berpakaian hitam melompat berdiri dan memompa tinju mereka.

Kendati demikian, Nasrallah mengingatkan para pasukannya agar tidak menyasar warga sipil. "Menyentuh warga sipil manapun di dunia ini hanya akan melayani kebijakan Trump,” katanya.

Tetapi begitu Trump melihat "peti mati tentara dan perwira Amerika mulai kembali ke rumah" ia akan menyadari bahwa "ia telah kehilangan wilayah."

Analis mengatakan sikap Nasrallah memulai periode baru eskalasi dan konfrontasi langsung antara milisi yang didukung Iran di wilayah tersebut, yang dikenal sebagai Sumbu Perlawanan dengan militer AS.

"Amerika telah memulai konflik jenis baru yang akan berlangsung bertahun-tahun,” kata Karim Makdissi, Ketua Program Kebijakan Publik dan Urusan Internasional di Universitas Amerika dari Issam Fares Institute Beirut.

"Sekarang ada misi terbuka yang jelas untuk Sumbu Perlawanan: Penghapusan semua pangkalan AS dari kawasan itu. Apakah mereka bisa melakukan itu atau tidak, itu pertanyaan yang berbeda," paparnya.

Tak lama setelah pidato Nasrallah berakhir, parlemen Irak meratifikasi keputusan yang tidak mengikat untuk mengakhiri semua kehadiran pasukan asing di negara itu, sebuah gerakan yang jelas ditujukan pada pasukan AS.

Meskipun sebagian besar simbolis, Makdissi mengatakan keputusan itu menempatkan legitimasi AS di wilayah tersebut pada tingkat yang lebih rendah.

"AS tidak pernah diterima di Suriah dan sekarang situasinya di Irak menjadi semakin tidak bisa dipertahankan,” katanya.

Perlawanan

Di pinggiran selatan Beirut, pelayat yang keluar untuk menghadiri pidato Nasrallah mengatakan mereka sekarang lebih siap dari sebelumnya untuk membawa konfrontasi dengan AS dan Israel, yang terakhir menduduki Lebanon selatan selama 18 tahun dan berperang beberapa kali di tanah Lebanon, yang terbaru tahun 2006.

"Kami kehilangan seorang komandan hebat yang memiliki efek besar pada pertempuran menyangkut Libanon,” kata Hussein, seorang karyawan berusia 27 tahun di sebuah toko olahraga.

Dengan memegang gambar kecil Soleimani, Mohammad, seorang pekerja pabrik berusia 50 tahun, mengklaim pembunuhan komandan IRGC itu telah berhasil menyatukan masyarakat untu melakukan perlawanan di seluruh wilayah.

"Jika simbol bangsamu diserang, apa yang akan kamu lakukan – melemparkan bunga ke musuh atau membangun perlawanan untuk menghadapi musuh itu? Semua orang Lebanon dan mereka yang setia di wilayah itu harus bergabung dengan misi ini."

MUI Duga Iran Bakal Balas Dendam Atas Pembunuhan Jenderalnya

Soleimani telah memainkan peran penting dalam perang 2006 di mana milisi Syiah Hizbullah berperang melawan Israel dengan jalan buntu. Dia juga dianggap arsitek kekerasan di sejumlah konflik di Timur Tengah, salah satunya dalam perang Suriah tahun 2011, melahirkan pembunuhan warga sipil dan para mujahidin.

Milisi Syiah Hizbullah adakah sekutu Iran yang telah ditagetkan AS sejak 1997 dan telah berdiri membela Rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad dalam perang saudara di negara itu.

Departemen Keuangan AS tahun 2015 telah menjatuhkan sanksi di bawah Undang-undang itu bernama Hizbullah International Financing Prevention Act (HIFPA) sebagai organisasi teroris global.

Tahun 2016, Liga Arab menetapkan, Hizbullah bersama Korp Pengawal Revolusi Iran (yang dipimpin Soleimani) sebagai kelompok teroris, karena membiayai dan melatih kelompok-kelompok teror di Bahrain.

“Komite menteri luar negeri Liga Arab telah memutuskan pada hari Jumat untuk mempertimbangkan Hizbullah sebagai organisasi teroris,” bunyi pernyataan Liga Arab yang diberitakan kantor berita negara Mesir, Mena, seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (12/3/2016).