Bali Bantah Rugi Triliunan, 1.200 Turis China Masih Bertahan di Pulau Dewata
Wakil Gubernur Bali ketika melepas pemulangan terakhir wisatawan China di Bandara Ngurah Rai, 5 Februari lalu. (Foto: Ist)

DENPASAR, HALUAN.CO - Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Putu Astawa membantah Bali mengalami kerugian hingga Rp1 triliun akibat ditutupnya penerbangan China ke Bali.

Namun diakuinya, jika virus corona terus mewabah sampai akhir tahun 2020, Bali berpotensi kehilangan 18 persen kunjungan wisatawan mancanegara dari China. Namun kerugiannya juga tidak akan sampai triliunan.

Sebagai pembanding, dia menyebutkan, di tahun 2019 wisatawan asal anegeri Tirai Bambu itu menyumbang 1.185.519 dari total 6,3 juta kunjungan wisman ke Bali.

“Sehingga dalam satu tahun kita berpotensi kehilangan 18 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara,” kata I Putu Astawa di Denpasar, dilansir Balipost, Sabtu (15/2/2020).

Karena itu, Astawa menepis Bali sudah mengalami kerugian hingga triliunan rupiah dengan adanya penurunan kunjungan wisatawan China sebulan terakhir.

Berdasarkan data yang dimilikinya, ada sekitar 20.000 wisatawan asal China yang membatalkan kunjungannya ke Bali.

Sedangkan rata-rata pengeluaran atau spending money per 5 hari sekitar 300-500 US dolar (antara Rp 5-7 juta).

“Anggaplah Rp 5 juta kali Rp 20 ribu, jadi 1 bulan ini kehilangan sekitar Rp 10 miliar dalam periode peak season untuk wisatawan Tiongkok,” imbuhnya.


1.200 Orang Bertahan di Bali

Sejak ditutupnya penerbangan dari Indonesia ke China dan sebaliknya tanggal 5 Februari lalu untuk mencegah masuk virus corona, hingga saat ini masih ada wisatawan China bertahan di Bali.

Astawa menyebutkan, sebagian dari wisatawan China ada yang memperpanjang masa tinggalnya (extend).

"Sesuai data Imigrasi, ada sekitar 1200an wisatawan Tiongkok yang kini masih berada di Bali," ungkapnya.

Masih bertahannya wisatawan China itu di Pulau Dewata itu menurut Astawa, dapat menguruangi potensi kehilangan kunjungan wisatawan asing.

Sebagai contoh, mereka yang awalnya berencana tinggal 5 hari akhirnya memperpanjang menjadi satu bulan. Penambahan lama tinggal ini dikatakan dapat mengurangi potensi kehilangan kunjungan wisman.

“Ini khusus yang Tiongkok, kalau wisman dari negara lain saya lihat masih berjalan seperti biasa atau normal,” jelasnya.

Gara-gara Virus Corona Pariwisata Bali Rugi Hingga Rp 1 Triliun Tiap Bulan

Ketua BHA, Ricky Putra berharap pangsa pasar lain seperti Australia, Eropa, Jepang dan Korea tetap datang ke Bali dan kalau perlu bertambah.

Selain itu, diharapkan ada shifting destinasi dari wisman yang tadinya ingin ke Tiongkok menjadi ke Bali ataupun provinsi lainnya di Indonesia.

“Tentu hal ini tidak mudah karena memerlukan terobosan, bagaimana kita bisa menambah flight untuk daerah-daerah tersebut, terutama dari US, Middle East, dan juga dari Eropa untuk mengurangi potential loss dan membantu okupansi secara keseluruhan,” ujarnya.