Banyak Hubungan yang Dipaksakan Berakhir Hambar, Tapi Tidak untuk Rawon X Pecel
Rawon Pecel bisa sebuah kuliner yang tidak hambar. Sedangkan kamu bisa saja sangat hambar (Ilustrasi: Haluan.co)

Pecel Rawon memang bukan sajian baru bagi warga Kota Malang. Namun, tak banyak orang yang tahu eksistensi jenis makanan hibrid ini. Sebabnya, tentu karena sajian ini umum ditemui saat tengah malam atau selepasnya.

BERANJAK malam di Kota Malang, dingin menusuk tulang, tapi seperti biasa, kedinginan diikuti rasa ingin kelonan makan. Sebab, rasa lapar tiba-tiba datang secepat rindu ketika hawa dingin menyeruak.

Apalagi, di Malang saat musim hujan begini. Kota di mana makanan berkuah menyublim bersama basah dan lembabnya air matamu. Ya, Malang adalah ibukota revolusi dari makanan berkuah. Sebut saja Bakso, Soto Lombok, Rawon, dan sang legenda Pangsit Mie Mek 2000.

Umumnya, hari-hari di Malang memang diatur melalui waktu dan jejak kuliner. Seperti, pagi hari akan ditemui bakul pecel nang embongan. Menjelas siang, bakul pangsit mie mulai berangkat mengumbar micin.

Sore hari, The Almighty Oskab Ngalam mulai menyerang kampung-kampung dan pinggiran jalan. Semua jenis kendaraan taktis penjual bakso dikerahkan di atas pukul dua siang. Ada yang menggunakan gerobak dorong atau disebut juga rombong.

Ada pula yang dipikul, biasanya di daerah pinggiran kota. Ada pula yang menggunakan motor. Manunggaling Kawula Honda, pasrah diri hidup mati ndherek Honda. Dan beberapa masih menggunakan sepeda jengki yang tingginya semeter itu.

Di malam hari, semua angkatan bersenjata pentol tadi dengan lugas digantikan oleh barisan artileri bakul sego goreng. Tentu saja, amunisi satuan batalyon nasi goreng dug-dug ini juga terdiri atas bakmi dan capcay. Dan anehnya, hampir 84,563% rasa nasi goreng dug-dug di Malang itu sama saja.

Saya pernah membuat klasemen nasi goreng di Malang, dan berakhir hanya segelintir saja yang bercita rasa berbeda. Umumnya, para penjual memasak sajian ini dengan cara dan bumbu yang sama. Dan rasa yang didapat juga kurang lebih memper lah yo gak adoh-adoh. Lha lapo se Mas sampek menganalisis dapurane roso e sego goreng?

Yo babahno ta, cangkem-cangkemku….

Namun, pasukan artileri medan bernama Bakul Sego Goreng ini kemudian lenyap beberapa di tengah malam. Meski beberapa anggota piket yang tetap berjualan di daerah Suhat atau jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di depan Taman Budaya Jawa Timur. Umumnya para penjaga piket ini lek masak sak karepe, tambah bengi rasane tambah gak karuan, koyok rosomu nang aku mbak….

Dan tentu, kelaparan tengah malam di Malang yang dingin tak bisa terus-terusan bergantung pada nasi goreng atau mi instan di Kayungyun. Sebab, di kawasan timur kota sekitaran Kotalama, Rampal, dan sekitarnya justru kehidupan mulai diayun pada jam-jam krisis kelaparan itu.

Pukul 1.15 pagi, bersama rombongan Pasar Roma alisan Rombengan Malam daerah Gatot Subroto, belokkan kemudi motor anda menuju Muharto. Dan di sana lah terdapat dua warung legendaris yang buka tengah malam. Menjual sajian tradisional Jawa Timur, Pecel. Tapi ini pecel bukan sembarang pecel.

Sebab, di kedua warung inilah sajian Pecel disiram dengan kuah panas Rawon beserta pilihan lauk sarapan pagi yang dibangkitkan lagi menggunakan Edo Tenseii hingga tetap segar untuk dimakan dini hari. Ya, tentu saja sajian pecel tak lengkap tanpa tempe goreng, mendol, telur mata sapi, dan dendeng. Sebuah kenikmatan hakiki itu kemudian ditutup secara klimaks dengan siraman rohani dari kuah rawon yang kemedhul. Begitulah, kawasan Muharto hidup di tengah malam beserta para insan kaliren Malang Kota.

Beranjak dari Muharto, komoditas Pecel Rawon juga terbit di tengah kota, tak jauh dari Lapangan Rampal. Tepatnya di perempatan SKI, entah singakatannya apa, tapi di kawasan ini anda akan sesaat merasa masuk dalam kesatuan tentara. Daerah kesatrian militer ini ternyata juga menjadi titik ungsi bagi insan kaliren Malang Kota.

Dan tentu, di selatan perempatan SKI ini juga terdapat Pecel Rawon. Berbeda dengan dua warung Pecel Rawon di Muharto, batalyon Pecel Rawon di perempatan SKI memakai kendaraan taktis berupa mobil keluarga. Rasa dan harganya tak jauh berbeda. Namun di perempatan SKI ini lauknya tak terlalu beragam. Hanya lauk sarapan pagi standar saja, yaitu mendol, tempe, empal, dan telor ceplok.

Buk, ganok dadar jagung a?”, tanya seorang mas-mas yang datang tergesa malam itu.

(Bu, tidak ada dadar jagung kah?)

Yo ganok Mas, mek iku tok sing nang onok nang kono, ojok njaluk liyane!”, tegas ibu komandan batalyon Pecel Rawon SKI.

(Ya tidak ada, cuma itu yang ada di situ, tidak usah minta yang lain!)

Beranjak pukul 02.45 dari tempat itu menuju arah selatan, melintasi Alun-alun Malang. Tepat di kawasan Sukun Hooligans, terdapat pula warung cukup besar yang menjual sajian serupa. Porsi sajian hibrid Pecel Rawon di kawasan itu tak rasional. Porsi anak-anak Ethiopia!

Warung di daerah Nukus itu berada di barat jalan sebelum rumah sakit tentara. Cukup ramai hingga menjelasng subuh. Namun sajian Pecel Rawon di warung ini cukup berbeda jauh dengan ketiga tempat tadi. Cita rasa rawonnya hampir tak nampak. Kalah dengan cita rasa nasi yang memenuhi piring. Pun bumbu pecel yang dituangkan secara barbar.

Jenis lauk-pauknya pun berukuran besar, sehingga jika anda minat makan sahur untuk puasa Senin-Kamis, sebaiknya anda makan di tempat ini. Dijamin, perut anda kuat kenyang sampai turunnya Imam Mahdi.

Pecel Rawon memang bukan sajian baru bagi warga Kota Malang. Namun, tak banyak orang yang tahu eksistensi jenis makanan hibrid ini. Sebabnya, tentu karena sajian ini umum ditemui saat tengah malam atau selepasnya.

Di kalangan mahasiswa pun sajian ini tak cukup terkenal. Karena kalah dengan Sego Banting maupun ayam-ayam sing sok nelongso di sekitar kampus-kampus negeri. Meski konon Pecel Rawon ini mulai dibudidayakan di daerah Glintung, Blimbing. Tepat di jalur utama masuk ke arah kota. Namun, kenikmatan sajian Pecel Rawon memang tersamarkan oleh sajian-sajian lain dalam rangkaian skuadron kuliner Malang Raya.

Secara umum, Pecel Rawon menggunakan sajian utama pecel dan rawon. Lho jancok, yo eroh lek iku Mas. Sajian pecel lengkap dengan sayur-mayurnya disiram sambal pecel dnegan level kepedasan medium. Kemudian disiram rawon dengan kuah hitam pekat, plus sambal merah khas sajian rawon pada umumnya. Sehingga, rasa pedas yang dirasakan konsumen adalah sebuah kepedasan yang bhineka. Bersatu. Seperti persatuan anggota Power Rangers menjadi Megazord!

Segarnya sayur-mayur pecel yang dikukus, ditambah endeus-nya sambal pecel menjadi pembuka rasa di lapila lidah kita. Dan kemudian kuah dan daging sapi dari rawon menjadi penyegar tenggorokan sekaligus bahan latihan olahraga mulut. Sebab, mengunyah daging rawon adalah pekerjaan membuang kalori pada mulut anda, cek gak cangkeman ae. Selebihnya, lauk setelan default berupa tempe dan mendol goreng.

Sebuah persatuan dari olahan kedelai murni dan olahan kedelai berdarah campuran. Bumbu dan kerenyahan mendol yang sedikit pedas menambah ledakan-ledakan euforia bagi mulut anda.

Kesemuanya itu, bisa didapatkan dalam kisaran harga 8000 sampai 11.000 rupiah. Tentu saja untuk setelah default, seporsi Pecel Rawon sudah berisi lauk tempe dan mendol. Untuk lauk tambahan ada harganya masing-masing. Sedangkan untuk sekadar pecel dengan siraman kuah rawon tanpa daging umumnya dihargai 6000 hingga 7000 saja. Baik di Muharto, SKI, maupun di bilangan Sukun.

Bagaimana rek, apakah koen-koen kabeh tertarik kuliner malam di Malang? Cik gak mek Gang Macan Songgoriti ae ngertimu mblis! Sesekali perlu lah berpetualang malam mencari kuliner-kuliner tersembunyi di Malang. Tenang, tidak bakal ada razia kok. Malang santai, sayang.