Beberapa Hal Tentang Papua yang Kurang Tenar di Antara Kita
Papua lebih luas daripada Honai, lagu Sajojo, dan hal-hal yang kita pelajari di poster budaya nusantara (Ilustrasi: Haluan.co)

Beberapa dari kita umumnya hanya mengenal Papua dari rumah adat Honai, lagu-lagu daerah macam Sajojo atau Apuse. Namun tentu Papua lebih daripada itu. Tak semua rumah adat orang-orang asli Papua (OAP) adalah Honai keleus.

TANPA disadari, media-media memiliki kecenderungan untuk menuliskan sesuatu secara bias. Pertama, kalau nggak seru dan kontroversial ya kagak bakal dimuat. Dan kedua, jika menyoal Papua tapi bukan konflik, ah rasanya tak menarik.

Oleh karenanya, sudah waktunya kita perbanyak diskusi soal Bumi Cendrawasih, baik Papua maupun Papua Barat.

“…gunung-gunung lembah-lembah yang penuh misteri, kan kupuja s’lalu keindahan alammu yang mempesona, sungaimu yang deras menghasilkan emas, oh ya Tuhan trima kasih”

Begitu petikan syair lagu “Tanah Papua” gubahan Yance Rumbino yang pertama kali saya dengar saat tiba di Pegunungan Arfak, Papua Barat medio 2016. Saat itu, bagi kami yang hanya mendengar Papua dari Jawa cukup tahu dengan lagu bersyair tentang Papua lain, yaitu lagu “Aku Papua” yang dipopulerkan Franky Sahilatua.

Lagu “Aku Papua” menjadi original soundtrack film “Di Timur Matahari” dan lantas menjadi populer lagi setelah dinyanyikan Edo Kondologit. Namun, di tanah Papua sana, lagu “Tanah Papua” nampaknya menjadi lagu wajib yang kerap dinyanyikan menjelang pertemuan resmi, rapat kabupaten, atau kegiatan masyarakat setempat.

Merinding, demikian perasaan saya kala pertama mendengar lagu yang dibuat Yance Rumbino pada 1985 itu.

“… hutan dan lautmu yang membisu slalu, Cendrawasih burung emas

Lirik magis ini diciptakan Yance Rumbino saat menjadi bertugas menjadi guru di Bukit Gamei, Distrik Topo, Nabire. Kala itu, Yance yang berasal dari Biak terinspirasi oleh masyarakat di kawasan adat Mee Pago yang tinggal di Sinak, Puncak Jaya. Kawasan adat Mee Pago ini meliputi Nabire, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Mimika, dan Paniai.

Mee Pago sendiri adalah satu dari lima kawasan adat di Provinsi Papua di samping La Pago, Mamta, Saereri, dan Anim Ha. Sedangkan untuk Provinsi Papua Barat, pembagian kawasan adat dibagi dua yaitu Domberai dan Bomberai.


Pembagian tujuh wilayah adat atau wilayah budaya ini memudahkan kita untuk mengetahui ceruk-ceruk suku bangsa di Papua yang berjumlah lebih dari dua ratus suku bangsa dengan tiga ratus lebih bahasa.

Beberapa dari kita umumnya hanya mengenal Papua dari rumah adat Honai, lagu-lagu daerah macam Sajojo atau Apuse. Namun tentu Papua lebih daripada itu. Tak semua rumah adat orang-orang asli Papua (OAP) adalah Honai, sebab rumah adat ini umum dipakai oleh suku-suku yang masuk dalam wilayah adat Mee Pago dan La Pago yang mendiami Pegunungan Tengah dan Pegunungan Bintang.

Pada dasarnya ada lima suku bangsa yang mendiami kawasan itu selain Suku Mee, mereka adalah Orang Damal, Moni, dan Nduga. Tetangga Mee Pago adalah kawasan La Pago yang berisi macam-macam suku bangsa seperti Dani, Ndugwa, Karpasia, Uria, dan lain-lain dengan jumlah setidaknya 19 suku bangsa.

Misalnya saja, ketika saya tiba di Pegunungan Arfak sebagai inti dari Suku Besar Arfak yang membawahi beberapa suku bangsa, saya kaget bukan main ketika tak ada satu pun Honai di sana. Justru, yang saya temui adalah rumah-rumah besar jenis panggun dengan fondasi yang terdiri dari ratusan batang kayu.

Rumah ini kemudian dikenal sebagai Rumah Kaki Seribu, atau dalam bahasa setempat disebut Igkojai. Rumah kaki seribu luasnya bervariasi, namun di dalamnya hampir tak ada sekat antar ruangan seperti umumnya rumah di Jawa. Bahkan rumah Joglo yang dikenal tanpa sekat masih memiliki bilik-bilik pribadi yang dalam bahasa Jawa disebut sentong.

Rumah Kaki Seribu cukup unik karena luasnya bisa setengah lapangan futsal, atau beberapa malah seluas lapangan futsal. Mereka yang mendiami kawasan Pegunungan Arfak (Pegaf) umumnya berasal dari suku bangsa Atam/Hattam, Sough, Meyakh, dan Moile. Keempatnya merupakan turunan dari Suku Besar Arfak, dan tentu masing-masing punya bahasanya sendiri.

Dalam tugas menanam dan budidaya tanaman agroforestri yang pernah saya jalani bersama kawan-kawan semasa kuliah dulu, bahasa Hattam menjadi andalan kami saat menjalin relasi. Pertama, palafalannya mudah, dan kedua bahasa ini setidaknya dipakai secara luas hingga Kota Manokwari.

“Acem Ambut”, begitu kami saling menyapa untuk mengucapkan selamat datang. Kata ‘Acem’ berarti salam. Mempelajari bahasa Hattam selama seminggu pertama adalah cara tepat untuk mempererat relasi, apalagi tujuan kami saat itu adalah menyoal tanam-menanam.

Sudah dipastikan, betapa bingung kami saat itu yang terdiri dari mahasiswa hidup segan mati tak mau, dan tak ada satu pun pemuda setempat dalam tim. Di samping itu, tak semua warga di Distrik Anggi, Pegunungan Arfak paham penjelasan kami dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sedikit memakai dialek Timur.

Arfak dan Rumah Kaki Seribu menjadi kenangan manis bagi kami saat itu. Sebab, di akhir masa tugas, kami sempat ikut membantu pembangunan satu Rumah Kaki Seribu.

Bagaimana rasanya? Mampus! Gila sekali, rasanya tak karuan. Sebab kami baru tahu bahwa lantai rumah adat itu berasal dari kulit batang dari pohon Nibon/Nibun sejenis tumbuhan pandan berduri dengan tinggi sampai 15 meter. Meski namanya hampir sama, tapi ini bukan tumbuhan yang sama dengan Pohon Nibung di Riau dengna jenis palmae.

Kulit pohon Nibun ini amat berat karena mengandung serat yang berisi air di dalamnya. Membawa satu batang Nibun dari tengah hutan ke perkampungan laiknya berlatih angkat beban sekaligus berlatih halang rintang. Padahal, satu Rumah Kaki Seribu setidaknya butuh 13 sampai 20 kulit pohon Nibun untuk lantai rumah.

Kulit pohon Nibun yang memiliki bagian luar keras dan bagian dalam berserat ini dapat menjadi penahan dingin, mengingat kawasan Pegunungan Arfak berada di ketinggian lebih dari 2000 meter. Perpaduan rumah panggung dengan lantai kulit pohon Nibun ini adalah salah satu cara adaptasi masyarakat di Arfak.

Ditambah lagi dengan perapian yang diletakkan memanjang di dalam rumah tersebut serta hanya ada dua pintu dari rumah sebesar itu. Kehangatan dalam Rumah Kaki Seribu bisa menjauhkan orang yang tinggal di dalamnya dari suhu di bawah 10℃ saat malam hari di Pegaf.

Selain Honai dan Rumah Kaki Seribu, tentu masih banyak rumah adat di Tanah Papua yang dibuat atas dasar adaptasi masyarakat dengan lingkungan setempat. Satu yang terkenal adalah rumah adat milik suku bangsa Korowai di Boven Digul, Provinsi Papua. Rumah Pohon atau dalam bahasa setempat disebut Luop Haim menjadi tenar karena bisa berdiri hingga belasan meter dari permukaan tanah.

Selain Kasuari dan Cendrawasih, Tanah Papua juga punya spesies burung unik lainnya, yaitu Burung Brinyei, atau Burung Pintar. Brinyei atau breceuw diambil dari bahasa Hattam yang menamai burung khas Pegunungan Arfak itu. Burung Brinyei terkenal dengan kebiasaan menghias sarangnya dengan bebatuan indah dan warna-warni. Oleh karenanya, masyarakat setempat menamai burung ini sebagai Burung Pintar.

Mengamati spesies burung ini juga tak mudah, sebab ia bukan sosok yang mudah ditemui dan suka terhadap keberadaan manusia. Burung bernama ilmiah Amblyornis inornatus ini sukar ditemui saat matahari sudah tinggi. Tapi kita bisa menemukan sarangnya jika mau menerobos hutan-hutan basah di Pegunungan Arfak. Namun untuk menyaksikan bagaimana seekor burung kecil itu menghias sarangnya, perlu kesabaran dan kejelian ekstra.

Tentu, menyoal hal-hal tentang Tanah Papua tak bisa tuntas dalam beberapa halaman saja. Berbagai peneliti yang pernah mempelajari setiap aspek di pulau itu pun nampaknya masih terbatas dalam menjelaskan banyak hal. Baik alamnya, spesies endemik, atau yang paling kompleks tentu masyarakatnya.

Sesuai gambaran Yance Rumbino, Tanah Papua adalah tempat di mana hutan dan lautan yang membisu, beserta gunung dan sungai yang mengalirkan emas. Di tanah itu pula, masih tersimpan banyak rahasia ilmu dan kearifan yang menunggu untuk disingkap. Atau memang perlu dibiarkan membisu untuk kelestariannya.

Acem Akwei! Selamat jalan!