Belajar dari Kasus Reynhard Sinaga dan Bagaimana Media Memberitakan Tentang Korban Pelecehan Seksual
Kasus Reynhard Sinaga dalam pemberitaan media Inggris. (Ilustrasi: Haluan.co)

Standar moral di negara ini memang terkadang tak diimbangi dengan perilaku. Kita seringkali membaca khotbah singkat di grup Whatsapp tentang moral. Tapi tak jarang, si pengkhotbah juga abai terhadap orang-orang yang butuh bantuan secara moral dan mental.

KABAR duka datang dari Manchester, Inggris. Bukan karena ada WNI yang meninggal, tapi ada kasus pemerkosaan berantai terbesar sepanjang sejarah Inggris. Dan pelakunya adalah mahasiswa doktoral asal Indonesia, Reynhard Sinaga (RS).

BBC menuliskan catatan beruntun soal kasus ini pada 6 Januari 2020. Seusai RS divonis bersalah atas 159 pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap 48 orang pria. Hal ini terjadi dalam rentang waktu dari awal 2015 hingga pertengahan 2017.


Dan, kasus ini dengan baik dapat ditahan oleh media setempat selama hampir dua tahun hingga dijatuhkannya vonis terhadap RS. BBC sendiri mengaku bahwa memang pihak peradilan Manchester menahan laju pemberitaan untuk memastikan persidangan berjalan adil tanpa tekanan media maupun publik.

Bayangkan saja, jika media di Indonesia mengetahui hal ini. Bisa saja berbagai judul clickbait lantas bermunculan. Membahas hal-hal tak penting. Dan tentu latar belakang seksual RS yang seorang homoseksual akan langsung mengudara dibumbui cercaan dan kaitannya dengan azab.

Sayangnya, Inggris adalah negara yang tak primordial seperti negara kita. Di sana, pemberitaan lugas dan terarah, yaitu pada pelaku. Tanpa membahas latar belakangnya, agama, ras, atau sukunya. BBC memberitakan RS sebagai entitas personal, lepas dari hal-hal lainnya.

PPI Inggris Tak Kenal Predator Seks Tinggalnya di Desa Gay

Demikian pula dengan pembahasan tentang korban. Media tak menyerang para korban pelecehan seksual dengan cecaran fakta tak penting. Justru, korban diberitakan mendapatkan konsultasi psikologis dan berbagai pendampingan pada saat persidangan berlangsung. Tanpa ada berita omong kosong tentang korban-korban pelecehan seksual.

Atau, malah menyalahkan korban karena keluar malam dan main di klub malam dekat apartemen RS. Di mana dari tempat itulah RS mendapatkan korban yang kemudian dibius dengan melarutkan Gamma Hidroksi Butirat (GHB) dalam minuman beralkohol.

GHB adalah obat bius yang cukup ampuh untuk sekadar membuat Anda tak sadar akan kehidupan. Satu tetesnya bisa membuat Anda tak sadar hampir 20 menit. Mungkin cocok bagi kaum rebahan yang hidup segan, mati tak mau.

Penanganan kasus RS di Inggris pun nampak rapi tanpa bocor ke media dalam negeri selama dua tahun. Meski, pihak KBRI London juga memberi pendampingan hukum pada RS sebagai WNI.

Bagusnya lagi adalah penanganan korban yang diimbangi konseling pada saat memberi keterangan dalam pengadilan. Mengingat, RS juga memvideokan aksi biadabnya melalui ponsel hingga diperkirakan sama panjangnya dengan 1.500 kaset DVD. Hal ini yang kemudian menambah trauma para korban bisa melemahkan mental saat persidangan berlangsung.

Jika kasus ini terjadi di Indonesia, sepertinya kecil harapannya para korban ini bisa mendapat konseling. Mungkin tidur tenang saja tak bisa. Karena dikejar media. Atau mengalami perundungan di media sosial. Atau bahkan mengalami pelecehan verbal oleh pihak berwajib.

Coba bayangkan bagaimana seorang pria melaporkan bahwa dirinya diperkosa oleh seorang pria. Kemungkinan besar, pihak berwajib akan menertawakan korban dan justru mengatai korban tersebut sebagai “homo”. Padahal, pelecehan seksual bisa datang pada siapa saja, dan bahkan oknum pihak berwajib pun. Kapan saja, di mana saja, waspadalah… waspadalah!

Kembali ke peran media. Tentu, pemberitaan kasus RS ini menjadi makanan empuk bagi portal berita kelas kambing yang menjual headline dengan cara clickbait. Bisa dipastikan, sebentar lagi bakal ada berita tentang “Begini kondisi Rumah Keluarga RS di Depok” atau “Berikut 5 Sepatu Milik RS yang dipakai di Manchester”, atau “Alih-alih Menjadi Doktor, Sarjana Arsitektur ini Pergi ke Manchester untuk Menjadi Predator Seksual”.

Selain itu, berita-berita omong kosong bakal muncul dengan bahasan di luar kasus itu sendiri. Atau mudahnya, baru semalam saja setelah BBC menyiarkan pemberitaan ini, akun palsu atas nama nama RS pun sudah membanjiri Instagram. Dan tentu pembicaraan kemudian melebar ke pribadi RS yang dikatakan rajin beribadah dan ceria. Lantas dihubungkan pula dengan sentimen-sentimen anti LGBT yang sedang semarak di tanah air kita.

Alih-alih berkaca pada kebijakan negara kita terhadap pelecehan seksual, justru nampaknya kasus seperti ini jadi legitimasi untuk merundung pihak-pihak yang tak ada kaitannya dengan RS. Ditambah, belum disahkannya Rancangan UU Penghapusan Kekerasan Seksual membuat masyarakat kita harus seribu kali waspada terhadap tindakan kekerasan seksual dan perlindungan terhadap korban pelecehan itu sendiri.

Sebab, berbeda dengan Inggris yang memang melindungi korban dengan sangat rapat, di Indonesia ini korban pelecehan seksual justru banyak yang tak berani buka suara. Sebab apa? Gunjingan masyarakat. Ya, bacot tetangga memang lebih berbahaya dari bom nuklir.

Sayangnya, tak hanya media yang masih gemar mengudarakan berita anfaedah terkait kasus pelecehan seksual. Tapi juga masyarakat kita yang belum siap menangani korban pelecehan seksual. Bagaimana menerimanya, memberi dukungan dan memberikan pendampingan secara mental.

Bukan malah menyalahkannya atas perilakunya, seperti “Lu juga yang salah, ngapain keluar malam, minum-minum di bar lagi. Mampus kan sekarang lu diperkosa”, atau “Makanya gak usah mabuk, kena azab kan lu sekarang”, dan omong kosong lain yang justru menghancurkan mental korban.

Ya, maklum saja, pendidikan seksual di negara ini masih dianggap tabu. Sehingga, bagi beberapa sobat kepala kosong, pengetahuan seksual itu adalah hal yang justru tak boleh dibicarakan.

Ini Respons UI terkait Kejahatan Alumninya Reynhard Sinaga

Standar moral di negara ini memang terkadang tak diimbangi dengan perilaku. Kita seringkali membaca khotbah singkat di grup Whatsapp tentang moral. Tapi tak jarang, si pengkhotbah juga abai terhadap orang-orang yang butuh bantuan secara moral dan mental.

Contohnya ya paling dekat pada korban pelecehan seksual. Seringkali justru korbanlah yang disalahkan dengan alasan macam-macam. Alasan keluar malam, berpakaian, pergaulan, dan lain-lain. Memang, umumnya perempuan yang menjadi korban, namun berkaca pada kasus RS ini, siapa pun bisa menjadi korban pelecehan seksual, bahkan laki-laki. Lantas, bagaimana logika kita jika kasus ini terjadi di negara ini?

Coba kita renungkan kembali, sejauh mana pengetahuan kita soal pelecehan seksual dan penanganan mental para korbannya. Dan, apakah kita sudah siap dengan fakta bahwa pelecehan seksual bisa datang pada siapa saja, tanpa pandang gender, dan tentu di mana saja.

Dan lagi, pemberitaan media terhadap kasus pelecehan seksual juga menentukan perspektif masyarakat dalam memahami pentingnya menahan laju bacot demi memperkeruh suasana dan merusak mental korban.

Jadi, untung saja Pengadilan Manchester menutup rapat kasus ini sampai dijatuhkannya vonis terhadap RS dengan rekor pemerkosa. Kalau tidak, sudah bisa dibayangkan bahasan kosong apa saja yang bakal mewarnai media-media nasional.

Namun, hari-hari ini saja jika kita masuk ke laman peramban Google, maka muncul berita dengan judul-judul tak relevan tentang RS. Ya, bagaimana lagi, namanya butuh cuan dan eksposur. Nikmatilah dan rayakanlah…


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja