Belva, Si Peraup Untung di Tengah Buntungnya Corona

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Belva Si Peraup Untung

Belva konon dituding melakukan kolusi ketika menjadi staf khusus dari Presiden Joko Widodo.

ADA mas Syah Belva Devara mungkin agak panik dengan situasi yang menimpanya sekarang. Pria lulusan Harvard University pada 2016 ini harus berhadapan dengan urusan publik yang negatif sifatnya.

Belva konon dituding melakukan kolusi ketika menjadi staf khusus dari Presiden Joko Widodo.

Di tengah-tengah merebaknya wabah corona yang mencekam dan menyengsarakan rakyat Indonesia, perusahaan teknologi dan pendidikan milik Belva, Ruangguru, dikabarkan menerima proyek penanganan wabah Covid-19 dalam rubrik kartu prakerja yang digagas Jokowi.

Hal ini dianggap publik tidak etis. Dengan praktik demikian, seolah-olah Belva melakukan praktik kolusi bersama istana dengan mengambil “jatah” bagian proyek yang sebesar Rp5,6 triliun itu. Pria yang dianggap sebagai pengusaha muda sukses itu kini justru dinilai buruk.

Namun, Belva tetap menampikkannya. Sebab, Ia mengaku tak ikut dalam pengambilan keputusan kartu prakerja, termasuk besaran anggarannya. Katanya, semua itu dilakukan independent oleh Kemenko Perekonomian dan Manajemen Pelaksana.

Kewenangan sebagai staf khusus memang memiliki batasan-batasan mekanisme yang tak mencakup membuat keputusan-keputusan. Ia yakin, hakulyakin, dirinya tak melanggar hukum.

Bahkan, demi pertaruhan reputasinya, Belva pun siap dan sudah menawarkan untuk mundur.

“Namun, keputusan mundur adalah keputusan besar dan harus didiskusikan dengan istana. Jadi, mohon dipahami bukan hanya masalah saya mau/tidak,” cuitnya.

Akan tetapi, netizen justru menyerangnya yang merespon sangkalannya Belva.

“Dah dapat proyek mundur, mantap kali,” ulas m_ikhsan3 di sosial media.

“Mundur ya, proyeknya tetap jalan namun senyap,” tulis dovasdavos di sosial media.

Sementara, wabah Covid-19 memaksa perusahaan-perusahaan untuk memecat karyawannya. Dan itu berefek signifikan, dibuktikan dengan jumlah orang yang mengalami pemutusan kerja dan dirumahkan mencapai 2,8 juta orang, menurut catatan Kementerian Tenaga Kerja.

Pekerja Muda Akan Digerus Krisis Ekonomi COVID-19

Jumlah ini, bahkan, bisa terus meningkat selama wabah belum teratasi. Bila pun wabah berakhir, perekonomian tentu tak akan langsung pulih.

Jadi, para penganggur sekarang bukanlah lagi fresh graduate yang perlu dilatih terlebih dahulu untuk bekerja, melainkan lebih kepada para pekerja yang sudah dipecat karena perusahaan sudah tak berjalan.

Yang mereka butuhkan adalah lowongan kerjaan yang baru yang sesuai dengan keahian mereka. Jadi, seharusnya yang diprioritaskan adalah memulihkan perekonomian terlebih dahulu.

Apalagi dana pelatihan kerja tersebut terlampau besar, yakni sekitar Rp5,6 triliun. Angka tersebut dapat membantu mempercepat pemulihan pada sektor-sektor strategis. (AK)


0 Komentar