Bencana Alam Bukan Hukuman Tuhan tapi Kejadian Alam Berulang
Doni Monardo menerima buku "Gempa Pijay" dari Teuku Dadek, Asisten II Setda Aceh. (Foto: Humas BNPB)

SIGIL, HALUAN.CO - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meyakini bahwa bencana alam  bukanlah hukuman Tuhan, tetapi adalah kejadian alam yang berulang.

“Keyakinan saya ini datang dari apa yang terekam di Gua Eek Lunttie Aceh Besar,” ujar Doni disela-sela kunjungannya ke Aceh untuk menghadiri peringatan 15 tahun tsunami Aceh, di Sigli (25/12/2019).

Gua Eek Lunttie merekam paling tidak ada empat belas kali gempa dan tsunami sebesar 2004 dan sudah terjadi 7500 tahun silam.

Peletakan batu pertama pembangunan Geoprak Gua Eek Lunttie di Aceh Besar dibuat acara khusus, sebagai upaya memberitahukan kepada dunia bahwa kejadian gempa dan tsunami di Aceh adalah berulang.

”Dari sana kita bangun kesiapsiagaan supaya tidak jatuh korban ” ujar Doni.

Doni juga mengatakan bahwa Gua Eek Lunttie adalah rekaman terbaik terhadap kejadian gemp dan tsunami Aceh yang berulang dan dijadikan sebagai iktihar bahwa gempa dan tsunami adalah kejadian alam yang harus disikapi dengan rasionalitas dan budaya siaga.

“Ini bukan hukuman apalagi kuntukan tetapi adalah bencana alam yang perlu disikapi dengan sikap siaga untuk tidak jatuh korban. Kita harus jaga alam, dan alam akan jaga kita,” ujar Doni.

Doni mengungkapkan bahwa dari kunjungannya di berbagai belahan Indonesia bencana itu banyak berulang, bahkan ada di satu tempat yang sama.

"Yang paling penting sekarang adalah bagaimana masyarakat diberitahu dan adanya kesungguhan pemerintah dan kita semua untuk memberitahu kepada masyarakat supaya siaga,” ujar Doni.

Kepala BNPB ini juga mengatakan bahwa lembaga yang dipimpinnya akan memasyarakatkan Keluarga Tangguh Bencana (Katana) sampai ke desa.

Katana yang diluncurkan di Aceh juga salah satu strategi melakukan kesiap-siagaan bencana.

"Saya saat tsunami Aceh berada di Lhokseumawe dan hari kedua sudah berada di Banda Aceh dan ketiga di Meulaboh. Dari sana saya berkenyakinan kalau orang Aceh saat itu punya pengetahuan seperti orang Simuelue, maka tidak akan banyak korban,” kata Doni.

Sementara itu Teuku Dadek, Asisten II Setda Aceh buku "Gempa Pijay" kepada Doni.

Buku tersebut ditulis sendiri oleh Teuku Dadek. “Buku ini diharapkan menjadi sebuah catatan penting bagi BNPB dalam pengalamannya untuk menangani daerah lainnya,” ujar Dadek.