Berkaca pada Hengkangnya Pangeran Harry dari Istana, Masih Untung di Inggris Nggak Ada Lambe Turah

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle mengundurkan diri dari keanggota pewaris tahta Kerajaan Inggris (Ilustrasi: Haluan)

Pada dasarnya, alasan Harry dan Markle memang rasional. Pertama adalah tekanan popularitas dan media. Dan kedua adalah perasaan tak nyaman dengan pembiayaan kegiatan mereka yang berasal dari dana publik. Alasan pertamalah yang perlu disorot. 

MUNCULNYA keputusan Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle, untuk keluar dari keanggotaan senior keluarga Kerajaan Inggris menjadi topik yang cukup mengagetkan. Setidaknya, bagi kaum-kaum proletar penikmat gosip top global.

Betapa tidak, terakhir kali pewaris tahta Kerajaan Inggris mundur dari keanggotaan keluarga adalah Edward VIII yang turun tahta pada 10 Desember 1936, demi menikahi kekasihnya yang seorang janda.

Sama dengan Markle, Wallis W. Simpson berasal dari Amerika Serikat. Kasus Edward VIII kala itu bahkan sama tegangnya dengan Perang Dunia I bagi khalayak Inggris. Untung saja, kala itu belum ada admin Lambe Turah atau biang ghibah lainnya. Bakal tambah runyam masalah tersebut.

Tak dinyana, hari-hari tua Ratu Elizabeth II dipusingkan oleh hal serupa yang pernah dilakukan pamannya di masa lampau. Dan, kini pelakunya adalah cucu terkasihnya, Harry, putra dari pasangan Charles dan Diana. Pewaris keenam tahta Kerajaan Inggris. Ini jatahnya kagak boleh dihibahin ke kami-kami kaum nongkrong Indonesia apa ya? Mayan juga jadi cadangan.

Namun, keputusan yang diambil Harry dan Markle yang bergelar Duke dan Duchess of Sussex ini juga berdasarkan hal yang masuk akal.

Pertama, Harry tidak ingin kejadian sama yang terjadi pada ibunya, Diana, terulang pada istrinya. Hal ini dikarenakan keluarga Harry dan Markle mengalami serangkaian masa sulit karena media-media Inggris yang gemar menguntit.

Tidak hanya itu, privasi keluarga pun dipublikasikan oleh beberapa media yang pada tahun 2019 lalu pernah digugat oleh Markle. Hal ini menimbulkan trauma bagi Harry yang mana di masa lampau kehilangan ibunya karena kecelakaan mobil.

Putri Diana, Duchess of Wales meninggal karena kecelakaan yang terjadi akibat lari dari kepungan paparazzi. Kala itu, perceraiannya dengan Charles menjadi makanan segar bagi para pencari berita. Hingga akhirnya “serangan wartawan” itu menewaskan ibu dari Pangeran William dan Pangeran Harry itu. Lantas, begitulah kepopuleran yang tak selalu menguntungkan.

Kedua, Harry dan Markle nampaknya juga tak nyaman untuk bepergian dan berkegiatan sebagai keluarga Kerajaan Inggris menggunakan dana dari Sovereign Grant, dana publik yang diperuntukkan untuk alokasi kegiatan keluarga kerajaan.

Harry dan Markle yang menerima 5 persen dari dana ini, ditambah pendanaan dari Pangeran Charles merasa perlu untuk menghentikan semua itu dan mulai membiayai keuangan keluarga mereka secara mandiri. Ditambah pula keputusan mereka untuk tidak lagi tinggal di lingkungan istana.

Pada dasarnya, alasan Harry dan Markle memang rasional. Pertama adalah tekanan popularitas dan media. Dan kedua adalah perasaan tak nyaman dengan pembiayaan kegiatan mereka yang berasal dari dana publik. Alasan pertamalah yang perlu disorot.

Sebab, kejaran dan tekanan media terhadap keluarga Kerajaan Inggris memang cukup berbahaya. Khususnya bagi psikologis seseorang yang bukan berasal dari keluarga bangsawan, seperti Markle. Statusnya yang menjanda sebelum dinikahi Pangeran Harry pun sempat menjadi bahan perundungan media Inggris pada mulanya.

Hal yang sama dialami Diana, di mana kala itu dia bercerai dengan Pangeran Charles karena perselingkuhan Charles dengan Camilla, istrinya sekarang. Selepas bercerai, tak dinyana gelar yang disandang Diana tak lepas begitu saja.

Kegiatannya bersama kekasihnya, Dodi Al Fayed, pada waktu itu terus dikuntit oleh wartawan. Hingga akhirnya ajal menjemputnya di terowongan Pont de I’Alma, Paris. Gila nggak tuh, sampai menyeberang ke Paris saja masih dikejar wartawan julid.

Trauma yang dialami Harry membuatnya melakukan diskusi internal dengan Markle untuk keputusan penting ini. Dan tentu, neneknya, Ratu Elizabeth II merasa cucunya “kurang ajar”. Hal ini bukan karena Harry dan Markle left dari grup Whatsapp Keluarga Kerajaan, tetapi karena mereka tak mendiskusikannya dengan keluarga besar terlebih dahulu.

Apalagi, tak lama setelah mengumumkan bahwa mereka keluar dari keanggotaan senior Kerajaan Inggris, keduanya terbang ke Kanada.

Belajar dari pasangan Harry dan Markle, lantas harusnya kita sadar bahwa popularitas bisa membuat Anda stres. Atau bahkan berakhir tragis seperti Putri Diana, idola ibu-ibu pada masanya. Hal ini saya kira tak hanya terjadi di Inggris, sebab kejaran wartawan untuk berita-berita heboh juga ada pada setiap sudut media di Indonesia. Apalagi dengan merebaknya perundungan terhadap orang-orang yang dianggap influencer bagi masyarakat.

Sudahlah, benar kata kawan saya di tongkrongan, bahwa senjata paling ampuh untuk meruntuhkan suatu peradaban itu bukan bom nuklir, tapi “bacot tetangga”. Ya salah satu bahan bakunya adalah hasil dari kuntitan media itu tadi.

Masih untung Pangeran Harry lahir di Inggris, coba kalau di Indonesia, wuik bisa heboh itu semua acara gosip dan ghibah di televisi menyiarkan hal serupa. Sebab di negeri kita, tak ada hari yang lebih menyenangkan daripada ghibah.


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja


0 Komentar