Bersenandung dan Mencintai Alam bersama Nosstress
Nosstress terdiri dari Man Angga, Gunawarma (Kupit), dan Tjokorda Bagus (Cok) (Ilustrasi: Haluan.co)

Di tengah gempuran lagu-lagu folk-indie dengan lirik ndakik-ndakik aliasa ketinggian brooo, Nosstress hadir dengan liriknya yang sederhana, tapi esensinya kena.

“Hujan kini sering tak kunjung turun walau sudah musimnya

Rindu sejukmu sudah terasa,

sabar pun diuji di kala panas menerjang

Dan di saat kau turun seperti marah,

badan ini mulai terendam dan dingin

Tak ada tempat untukmu mengalir,

dan tak ada muara untuk rumahmu”

PENGGALAN lirik di atas adalah bagian awal dari lagu “Seperti Dia” milik grup folk akustik asal Bali, Nosstress. Bercerita tentang anomali cuaca dan efek perubahan iklim. Di mana hujan sering terlambat datang, dan sekalinya datang membuat manusia kesusahan. Nosstress mempersonifikasikan hujan dengan sederhana. Tapi maknanya tak susah dipahami pendengarnya.

Memang, di kalangan anak muda yang umunya gandrung dengan musik indie, genre folk cukup populer. Sampai-sampai muncul anekdot di kalangan mahasiswa di kampus saya dahulu yang menyatakan bahwa “Hidup ini hanyalah senja, kopi, puisi dan Fourtwenty”, atau bisa juga Fourtwenty diganti dengan Fiersa Besari. Begitu kata mereka yang waktunya habis di tongkrongan dan kedai kopi. Bersama lagu-lagu folk mendayu dengan syair liris bermajas tinggi. Seolah, beberapa tahun belakangan, ketika masuk kedai kopi, otomatis jadi anak indie, edgy, dan doyan sastra.

Buku-buku puisi dan buku sastra kontemporer pun lantas menjadi salah satu benda wajib yang dipajang di etalase sebuah kedai kopi. Rasanya, kalau sudah ngopi, baca buku sastra, dan mendengar lagu-lagu folk-indie, lantas seseorang langsung jadi Chairil Anwar.

Tapi, dari sekian banyak lagu folk-indie yang umumnya bertemakan cinta dan omong kosong lainnya, di masa mahasiswa dahulu saya justru tertarik dengan Nosstress. Sebuah grup trio dari Bali yang terbentuk 2008. Man Angga, Gunawarma (Kupit), dan Tjokorda Bagus (Cok) menggawangi kelompok musik sadar lingkungan ini.

Bukan tak sengaja, saya sudah mengenal musisi-musisi Bali sejak SMP. Sebut saja Superman Is Dead, grup punk-rock yang cukup tenar di masanya. Ada juga Navicula, grup grunge yang cukup cadas juga menyuarakan isu-isu lingkungan dan sosial. Serta Dialog Dini Hari, sebuah grup trio yang dibentuk oleh salah satu personel Navicula, dengan genre pop sukaria.

Nosstress adalah anomali pada mulanya. Sebab, genre folk-indie mulanya tenar di Jakarta-Bandung dan sedikit dari Jogja. Bali nampak terlalu jauh di sana, dengan ingar bingar nama grup band cadas dan beberapa gitaris jazz handal seperti Balawan dan Dewa Budjana.

Nosstress juga hadir sebagai katarsis dari banalitas lirik lagu yang “itu-itu saja”. Kalau tidak patah hati ya sedang jatuh cinta. Seperti kata grup Efek Rumah Kaca dalam lagunya berjudul “Jatuh Cinta Melulu”. Sebab lagu bertema jatuh cinta dan patah hati yang mendayu memang laku di pasaran telinga orang Melayu seperti kita. Tapi tidak, Nosstress membawa hal baru, yaitu cinta lingkungan.

Kesamaan paham soal lingkungan membuat Nosstress menjadi playlist wajib saya ketika mengerjakan skripsi dahulu. Nosstress yang terdiri dari sekawanan anak SMA pada 2008 itu akhirnya merilis karya orisinilnya pada Oktober 2011 dengan tajuk Perspektif Bodoh I.

Bermodalkan dua gitar, dan satu perkusi, Nosstress mulai meniti karier di Bali. Bersama para senior-seniornya yang garang, seperti SID dan Navicula. Namun beruntung, solidnya hubungan antarmusisi di Bali membuat Nosstress melambung. Khususnya sejak muncul gerakan Bali Tolak Reklamasi yang didukung banyak musisi lokal Bali.

Bahkan, pada 2014, Nosstress pernah diundang ke Jerman untuk promosi dan kampanye lingkungan dengan tajuk “From Bali to Europe”. Sebuah tindakan yang sangat berfaedah, dibandingkan terkena serangan asam lambung dan bersedih akibat minum kopi sambil mendengarkan lagu-lagu bertema patah hati.

Mencoba slalu temukan

Apa yang ingin kita cari

Dan tetap slalu bersama

Dalam berpikir dan menjalani

Semua cerita dalam setiap hidup

Takkan selamanya indah

Takkan selamanya buruk

Coba slalu hadapi…

Lirik di atas berasal dari lagu “Bersama Kita” dari album Perspektif Bodoh I. Bercerita tentang hal dasar kehidupan. Bahwa hidup adalah pencarian dan perjalanan. Hidup tak selamanya indah dan tak selamanya buruk. Maka dari itu, hadapilah.

“Gila, relate banget nih sama hidup aing”, kira-kira begitu ujar saya dalam hati saat tak sengaja mendegar lagu Bersama Kita di kanal You Tube. Pas pula waktu itu saya sedang berjibaku dengan skripsi. Padahal, di Jogja juga tahun-tahun itu dipenuhi musisi bergenre serupa. Namun, lirik sederhana namun penuh substansi milik Nosstress menjadi hal lain bagi saya. Sejak saat itulah, penyesuaian kajian studi dan musik mulai diselaraskan.

Di tengah gempuran lagu-lagu folk-indie dengan lirik ndakik-ndakik aliasa ketinggian brooo, Nosstress hadir dengan liriknya yang sederhana, tapi esensinya kena. Begitu pula ketika album kedua bertajuk Perspektif Bodoh II diluncurkan, lagu “Tanam Saja” menjadi salah satu yang cukup sering saya putar saat melakukan penelitian di kedalaman hutan.

Lagu ini sangat “reforestasi”sekali. Mengajak kita untuk menanami bumi yang kian kerontang ini. Tak banyak grup musik yang konsen terhadap kelestarian lingkungan. Dan untungnya, kita punya musisi-musisi dari Bali yang memang terkenal vokal menyuarakan kelestarian lingkungan.

Sebab, selain Nosstress, tercatat vokalis Navicula, Gde Robi pun sempat menjadi duta Greenpeace untuk pengurangan plastik dan kelestarian laut. Begitu pula musisi-musisi Bali lainnya yang hingga saat ini masih menyuarakan semangat Bali Tolak Reklamasi. Hal seperti ini jarang terjadi di Indonesia. Di mana musisi-musisi dalam satu daerah berkumpul untuk kampanye lingkungan dan mempertahankan kelestarian lingkungan di daerahnya.

Nosstress memang jauh dari Jakarta atau Bandung. Tapi, lagu-lagu mereka yang sederhana perlahan mulai sampai di telinga para anak-anak muda. Tentunya mereka yang bosan dengan lagu-lagu jatuh cinta, patah hati, dan omong kosong “ketinggian” lainnya.

Jadi, daripada berjibaku dengan Senja, Kopi, Puisi, dan Lagu Patah Hati, mendingan kita bikin hidup lebih bermakna dengan melakukan hal baik untuk lingkungan, sedikit demi sedikit. Seperti Nosstress, yang senantiasa manggung dengan membawa botol minum sendiri. Ya x G Kuy!


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja