Betapa Galaknya Orang yang Utangnya Sedang Ditagih: Studi Kasus Anak Bupati Majalengka
Koboi dari Majalengka berbuah vonis ringan (Ilustrasi: Haluan.co)

Nah, memang sesuai khittah-nya Tuhan menciptakan manusia dengan dua tangan dan dua kaki adalah untuk baku hantam. Tak hanya itu, PP yang dituduh sebagai biang keributan kemudian didatangi SAB dengan ancaman pembunuhan. 

SENGAJA memang, saya buat judul yang nampak akademis untuk tulisan ini. Apa sebab? Ya, siapa tahu ada mahasiswa gabut yang sedang gundah mencari judul skripsi. Bisa jadi judul di atas dapat membuka ruang berpikir. Karena, kasus penagihan utang di negeri ini nampaknya unik dan lucu.

Pasalnya, ya agak aneh sih, si empunya utang kerap kali berubah menjadi galak tujuh turunan ketika utangnya ditagih. Bahkan, si penagih yang akhirnya sungkan untuk menagih haknya. Cukup aneh, tapi tentu hal itu sering dijumpai di tingkat rukun tetangga, antartetangga, atau antarmahasiswa kere di akhir bulan. Namun, kali ini kasus tagih-menagih utang datang dari Majalengka.

Bukan, bukan soal pertunjukan dangdut yang ricuh, sebab kali ini tak ada yang digoyang di Majalengka. Justru, pertunjukan hadir dari perilaku anak bupati Majalengka yang melekukan penembakan terhadap salah seorang kontraktor yang menagih utang padanya. Nah kan, memang salah sih kegiatan “menagih utang” ini, harusnya ikhlasin aja, daripada didoorrr!

Kasus ini menimpa kontraktor malang berinisial PP, yang hampir seharian menunggu si Anak Bupati di rumahnya. Kabarnya, si kontraktor datang beserta pegawai dan saudaranya dan sudah mengadakan perjanjian atas pelunasan utang yang konon menyentuh angka 500 juta itu.

Kejadian itu sendiri terjadi bulan November lalu. Namun, yang bikin gempar dunia persilatan adalah tuntutan jaksa dalam persidangan si Anak Bupati (SAB) bulan ini. Sebab, SAB yang juga kebetulan seorang PNS ini hanya dituntut 2 bulan penjara. Padahal ya bosque, pasal yang dipakai adalah pasal Pasal 170 ayat 1 KUH Pidana juncto Pasal 360 ayat 2 KUH Pidana. Tuntutan maksimal dari pasal tersebut tentu saja berada di atas lima tahun. Tapi ya namanya privilese, bisalah ya ditawar.

Mulanya, kasus ini berawal dari keributan di depan rumah SAB. Konon, PP yang sudah seharian menunggu justru didatangi kawanan preman yang disebut “orangnya SAB”. Lantas mereka cekcok dan ribut karena saling tak terima.

Nah, memang sesuai khittah-nya Tuhan menciptakan manusia dengan dua tangan dan dua kaki adalah untuk baku hantam. Tak hanya itu, PP yang dituduh sebagai biang keributan kemudian didatangi SAB dengan ancaman pembunuhan.

Akhirnya, kisruh leg kedua terjadi antara keduanya hingga berujung rebutan senjata api dan lantas meletus mengenai tangan PP. Meletusnya senjata api milik SAB inilah yang kemudian membuat kericuhan berakhir. Dan setelahnya, PP mengaku bahwa SAB akhirnya memberikan uang yang dimaksud sebesar 500 juta rupiah dengan cara dilemparkan kepadanya. Bagaimana bosque, sudah layak jadi sinetron belum nih skenario?

Selepas menerima pembayaran utang yang brutal itulah, lantas PP pergi ke rumah sakit terdekat dan membuat laporan ke Polres Majalengka.

Namun, kisah ini ternyata tak berhenti dengan penetapan tersangka Yth. si Anak Bupati saja. Karena, ketika masuk persidangan, justru pihak SAB malah hendak balik melaporkan PP. What the hell are you doing people? Saling lapor melaporkan adalah key of ruwet. Tapi, ya sudah, biar nikmat.

Tuntutan dua bulan penjara terhadap SAB sontak menjadi bahan pembicaraan di berbagai tongkrongan. Baik di dunia nyata atau di dunia maya. Sebab, bagi kaum-kaum nongkrong, senja, kopi, hal seperti itu nampak aneh terjadi.

Bagaimana bisa seorang anak pejabat tetap dituntut, kan biasanya beritanya hilang, kasusnya mandeg. Belum lagi kepemilikan senjata api, yang konon legal itu. Kawan-kawan tongkrongan menyebut Majalengka laiknya Texas di era lawas. Di mana aksi koboi bisa terjadi di mana saja, termasuk di depan ruko. Say goodbye buat aksi goyang Majalengka. Dangdut tak lagi menarik, karena setelah ini banyak atlet menembak yang terinspirasi Yth. SAB ini.

Dan syukurlah, per tanggal 30 Desember 2019, vonis yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Majalengka terhadap Yth. SAB hanya 1 bulan 15 hari penjara. Akhirnya, saya dan kawan-kawan bisa bernafas lega. Sebab, ya masa anak pejabat di negeri ini bisa dipenjara bertahun-tahun. Ini baru pas, sebulan doang bosque.

Maka dari itu, bagi rekan-rekan yang berurusan utang-piutang dengan Sobat Privilese Indonesia harus berhati-hati. Seperti kasus penembakan hakim oleh Tommy Soeharto awal milenium lalu, Anda bisa didor kalau macam-macam. Atau minimal, Anda bisa dijemput oleh tukang bakso berpotongan cepak sambil membawa HT.

Wallahualam, dijamin ilang Anda bosque. Mending ngutangin mahasiswa-mahasiswa cacingan yang tiap hari makan angin. Pahalanya tinggi. Faedahnya dihitung di akhirat. Sebuah investasi yang sempurna dan jauh dari marabahaya bukan?



Penulis: Algonz Dimas B. Raharja