Bingung Saat Membaca Artikel Mengenai Corona? Kenali Istilah-Istilah Berikut!
Dunia dan Bahasa Kedokteran (Sumber: EF Indonesia)

Berita mengenai corona selalu menghiasi laman berita atau media sosial anda saat ini dan tidak jarang istilah-istilah seperti pandemik atau false positive muncul pada berita-berita tersebut. Mari kita mengenal istilah-istilah tersebut secara lebih mendalam.

1) Endemik, Epidemik, dan Pandemik

Endemik merupakan sebuah penyakit yang terus-menerus ada di sebuah populasi atau wilayah. Contohnya seperti diare atau infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Epidemik merupakan sebuah penyakit yang jumlahnya meningkat secara tiba-tiba yang menyerang banyak orang disaat yang bersamaan dan dapat menyebar melalui satu atau lebih wilayah atau kota. Contoh dari epidemik adalah virus Ebola

Pandemik merupakan sebuah epidemik yang menyebar ke seluruh dunia. Contohnya adalah virus Corona ini.

2) Pasien dalam Pengawasan (PDP) dan Orang dalam Pemantauan (ODP)

Dilansir dari Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia per 16 Maret 2020, pasien dalam pengawasan (PDP) secara singkatnya adalah orang-orang yang suspek atau dicurigai menderita virus corona.

Secara definisi, PDP adalah seseorang dengan gejala ISPA yaitu demam ≥ 38oC atau pernah demam disertai dengan satu atau lebih dari gejala seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, pneumonia (infeksi jaringan paru-paru) ringan hingga berat yang bukan disebabkan oleh penyakit lain dan memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal atau riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia.

Sedangkan definisi orang dalam Pemantauan (ODP) kurang lebih mirip dengan PDP namun ODP biasanya tidak menunjukkan gejala. Orang dalam pemantauan hanya memiliki demam atau gangguan sistem pernafasan, tidak keduanya berbeda dengan PDP yang memiliki demam dan bergejala.

Orang dalam pemantauan juga perlu memiliki kriteria lain yang sama dengan PDP yaitu tidak ada penyebab lain yang mendasari gejala serta memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal atau riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia

3) Kasus Probabel dan Kasus Konfirmasi

Probabel berarti mungkin sehingga yang masuk dalam kategori ini adalah pasien dalam pengawasan yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi hasil pemeriksaannya inkonklusif (tidak dapat disimpulkan).

Sedangkan kasus konfirmasi adalah seseorang yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.

4) False Positive dan False Negative

False Positive didefinisikan sebagai sebuah kesalahan interpretasi data atau hasil laboratorium di mana hasil tersebut dinyatakan positif namun sebenarnya tidak. Pada kasus corona virus, apabila hasil rapid test anda positif dan ternyata hasil tersebut false positive, artinya anda sebenarnya belum pasti positif menderita corona virus. Illustrasinya adalah ketika seorang dokter mendiagnosis seorang laki-laki hamil.

False Negative didefinisikan sebagai sebuah kesalahan interpretasi data atau hasil laboratorium di mana hasil tersebut dinyatakan negatif namun sebenarnya anda positif. Contoh adalah ketika seseorang ibu yang perutnya jelas sekali membesar akibat mengandung bayi 9 bulan didiagnosis oleh dokternya tidak hamil.

5) Sensitivitas dan Spesifisitas

Berkaitan dengan false positive dan false negative, sensitivitas berarti kemampuan sebuah tes untuk mengidentifikasi secara benar orang-orang yang benar-benar sakit atau disebut juga true positive. Dalam kasus rapid test corona, semakin besar sensitivitas rapid test akan semakin baik.

Spesifisitas berarti kemampuan sebuah tes untuk mengidentifikasi orang yang tidak terkena penyakit secara benar atau disebut juga true negative. Dalam kasus corona, PCR dapat mengidentifikasi orang-orang yang negatif secara benar.

6) Case Fatality Rate (CFR)

Mungkin Anda jarang mendengar istilah CFR ini namun pasti Anda pernah membaca atau mendengar kalimat “Tingkat kematian akibat coronavirus berkisar sekian %”. Darimana angka tersebut muncul? Jawabannya adalah case fatality rate.

Case Fatality Rate dapat dihitung dengan cara membagi jumlah orang yang meninggal akibat suatu penyakit dengan jumlah populasi yang terkena penyakit tersebut dan dikalikan dengan seratus persen. Contohnya, dilansir dari Worldometers pada tanggal 24 Maret 2020, jumlah kasus corona virus di Indonesia berjumlah 686 dengan total kematian sebanyak 55 kasus. Artinya, CFR akibat coronavirus di Indonesia berkisar sebesar 8% (55 dibagi 686 dikali dengan 100%).


Alat Rapid Test Corona Mulai Dijual: Apakah Akurat?

Setelah membaca dan memahami terminologi tersebut diharapkan Anda dapat menyaring konten berita coronavirus secara lebih bijak dan cermat.

Penulis : Gilbert Sterling Octavius

Instagram : @NeuronChannel; @gilbertsterling

Youtube : Neuron Channel