BMKG Lakukan Kajian Pengaruh Cuaca dan Iklim terhadap Pandemi Covid-19, Ini Hasilnya ...

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kepala Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofika (BMKG), Dwikorita Karnawati

JAKARTA, HALUAN.CO - Kepala Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, Tim BMKG telah melakukan Kajian berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran Covid-19. Hasil kajian ini sudah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian pada 26 Maret 2020.

Mengapa ini penting: Hasil kajian tim BMKG menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dalam mendukung penyebaran virus corona (Covid-19), meskipun risiko berkembangnya rendah. Hasil kajian dapat ini dapat dijadikan landasan pengambilan kebijakan penanganan wabah corona.

Konteks: Ada sejumlah pendapat pejabat yang menyatakan bahwa virus Corona (Covid-19) tidak akan bertahan hidup dalam iklim tropis yang panas di Indonesia. Artinya, Covid-19 tidak dapat berkembang, tapi faktanya virus tersebut telah menyebar di 32 provinsi di Indonesia. Hingga 6 April 2020 tercatat sudah 2.491 orang positif Covid-19, 192 sembuh dan meninggal 209 orang.

Tim terdiri atas 11 Doktor di Bidang Meteorologi , Klimatologi dan Matematika, serta didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Sejumlah Kajian:

  • Hasil kajian menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah Covid-19.
  • Hasil analisis Sajadi dkk (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) juga menunjukkan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.
  • Penelitian Chen dkk (2020) dan Sajadi dkk (2020) menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8 - 10 °C dan kelembapan 60-90%. Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembapan yang tinggi merupakan kondisi lingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19.
  • Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi Covid-19.
  • Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell dkk (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1 °C) dengan jumlah dugaan kasus Covid-19 per-hari. Penelitian ini menunjukan bahwa Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1 – 9 °C).
  • Wang dkk (2020) menjelaskan pula bahwa serupa dengan virus influenza, virus Corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering. Hasil penelitian Wang dkk (2020) Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan "host immunity" seseorang, dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus.
  • Araujo dan Naimi (2020) memprediksi dengan model matematis yang memasukkan kondisi demografi manusia dan mobilitasnya, diperoleh kesimpulan bahwa iklim tropis dapat membantu menghambat penyebaran virus tersebut.
  • Kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil, sehingga penularan virus Corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat.
Hujan Deras Akan Guyur Sejumlah Wilayah di Jakarta Sore Ini

Kesimpulan tim:

  • Cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang tinggi, tapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang ke dua.
  • Meningkatnya kasus pada gelombang kedua saat ini di Indonesia lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.
  • Kondisi cuaca/iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah Covid-19.
  • Fakta menunjukkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia sejak awal bulan Maret 2020. Di Indonesia suhu rata-rata berkisar antara 27- 30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70 - 95% sebenarnya merupakan lingkungan tidak ideal untuk outbreak Covid-19.
  • Outbreak di Indonesia diduga lebih kuat dipengaruhi mobilitas manusia dan interaksi sosial, daripada faktor cuaca.
  • Apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat, maka faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam mitigasi risiko penyebaran wabah.

Apa yang perlu diwaspadai: Memasuki bulan April sampai dengan Mei ini, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki pergantian musim, yang sering ditandai dengan merebaknya wabah demam berdarah.

Rekomendasi tim:

  • Masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh.
  • Memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat.
  • Terutama di bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus nanti, yang diprediksi akan mencapai suhu rata - rata berkisar antara 28 derajat Celcius hingga 32 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 60% s/d 80%.
  • Perketat "Physical Distancing" dan pembatasan mobilitas orang ataupun dengan "Tinggal di Rumah" dan intervensi kesehatan masyarakat.

"Karena cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini, tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif," kata Dwi Korita Karnawati, Kepala BMKG dalam rilisnya, Senin (6/4/2020).


0 Komentar