Bob Hasan, Si ‘Raja Kayu’ dan Runtuhnya Orde Baru

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Si Raja Kayu & Pengikut Setia Soeharto (Ilustrasi: Total Politik)

Bob Hasan adalah salah satu pengusaha, sekaligus sahabat Soeharto, yang selalu setia bersama dirinya menjelang keruntuhan Orde Baru.

IBU Pertiwi kembali kehilangan sosok fenomenal Mohammad Hasan. Lelaki yang akrab dipanggil Bob Hasan itu berpulang ke Rahmatullah pada 31 Maret 2020.

Di ujung usianya yang ke-89 tahun, ia pun mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pukul 11.00 Waktu Indonesia Barat. Bob Hasan mengalami penurunan kesehatan sejak enam bulan terakhir mengingat usianya yang sudah sangat renta.

Status terakhir yang disandangnya ketika tua adalah sebagai pembina atlet. Bob diketahui sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) yang dia pegang sejak tahun 1976.

Namun di sisi lain, pria kelahiran Februari 1931 itu juga dikenal sepak terjangnya sebagai pengusaha kayu dan pengikut setia Soeharto.

Tatkala ia masih muda, Bob adalah anak angkat pahlawan nasional dari Jenderal Gatot Subroto. Sementara, Soeharto sendiri merupakan prajurit kesayangan jenderal itu. Mungkin, perkenalan antara Bob Hasan dan Soeharto dimulai dari hubungan ini dan menjadi sahabat.

Sebelum terjun ke bisnis kayu, Bob pernah menjadi pengusaha kapal. Pria dengan nama Tionghoa The Kian Seng itu baru memulai petualangannya di industri kayu pada 1967 dengan mendirikan Kalimanis Plywood.

Pada tahun yang sama, Soeharto memperoleh kekuasaan sebagai presiden secara konstitusional. Ketika itu, ekonomi Indonesia sedang berada di ambang kehancuran dengan ditandai inflasi hingga 650 persen. Untuk itu, Soeharto membutuhkan para pengusaha yang mampu berkiprah di ranah nasional guna membangun perekonomian lebih baik.

Bob adalah salah satu orang kepercayaan Soeharto. Ia menjadi teman main golf Soeharto tatkala senggang waktu. Dirinya pun dipercaya untuk mengurus perbisnisan di bidang kehutanan.

Bob mulai menunjukkan taringnya sebagai pengusaha dengan menjalin perusahaan-perusahaan luar negeri. Pada 1970, Bob bermitra dengan perusahaan Amerika Serikat, Goergia Pacific Timber, yang menguasai 350 ribu hektare hutan di Kalimantan Timur.

Posisinya yang dijuluki sebagai “raja kayu” kian kokoh setelah menjabat Ketua Umum Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo).

Tahun 1980 menjadi tahun emas kehutanan di Indonesia. Dalam Sejarah Indonesia Modern 1800-2008, Sejarawan MC Ricklefs mencatat, Indonesia merupakan pengekspor kayu keras tropis terbesar di dunia pada tahun itu.

Sekitar tahun itu, separuh dari ekspor pabrikan Indonesia terdiri atas kayu lapis, yang nilainya meningkat dari USD68 juta pada tahun 1980, lalu menjadi USD3,5 miliar pada tahun 1992. Bob menjadi tokoh utama dalam permainan bisnis itu.

Namun, tak ada manusia yang sempurna. Bob pun memiliki catatan buruk. Ketika permintaan dunia terhadap kayu lapis menurun pada pertengahan 1990-an, si raja kayu berpaling kepada pemerintah untuk menyubsidi perpindahan usaha mereka menjadi produsen papan serat.

Tak hanya itu, banyak pula area hutan yang dihancurkan, terutama di Kalimantan. Ricklefs memperkirakan, sekitar 2,5 juta orang Dayak terusir dari rumah tradisional mereka di area itu. Pembersihan lahan untuk kayu bakar dan pertanian demi mendukung bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, juga mengakibatkan berkurangnya hutan di Indonesia.

Sepak terjang Bob kembali tercatat pada tahun 1990-an. Pada tahun 1997-1998, krisis ekonomi terjadi. Dolar pun melejit dari angka Rp2.500 hingga ke angka Rp15 ribu, harga-harga melambung tinggi. Kredit macet pun bermunculan.

Bisnis juga luluh lantak. Perusahaan Sempati Air yang dipimpin Bob Hasan bersama Tommy Soeharto, anak bungsu Soeharto, mengalami kebangkrutan dan berhenti beroperasi.

Karena hal ini, Soeharto bersama para kroninya mulai kehilangan legitimasinya sebagai “bapak pembangunan” oleh rakyat, sehingga memunculkan desakan reformasi atas pemerintahan Soeharto.

Pemberantasan Penyakit Era Awal Suharto

Bob Hasan mengarungi petualangan bersama Soeharto pada akhir-akhir masa jabatannya. Ketika krisis melanda dan menteri-menteri yang dipilih Soeharto meninggalkannya, Bob justru “naik kelas.”

Dari sekadar jadi pengusaha, ia pun akhirnya ditunjuk menjabat menteri perdagangan pada 16 Maret 1998. Meski demikian, kritik tetap mencoreng nama Bob mengingat jabatan tersebut tak sesuai dengan pekerjaannya sebagai tukang kayu.

“Bob Hasan ditunjuk sebagai menteri perdagangan, yang nantinya terbukti tidak memiliki kemampuan untuk menduduki posisi itu,” tulis Sejarawan MC Ricklefs.

Akan tetapi, seorang Bob patut diapresiasi.

Ketika Soeharto ditinggal para menterinya menjelang keruntuhannya, Bob tetap setia mendampinginya sebagai seorang menteri, meskipun dirinya dianggap amatiran. Atas desakan rakyat dan berbagai amuk massa yang terjadi pada 1998, Soeharto pun mundur pada 21 Mei 1998. Bob tetap setia mendampingi diktator yang menguasai tanah air selama 32 tahun itu menjelang kejatuhannya.

Namun, sepak terjang Bob Hasan tak berhenti sampai di situ saja. Malapetaka kembali mencoreng namanya sebagai cukong kelas atas.

Surat kabar The Australian, tulis Ricklefs, memperkirakan kekayaan Soeharto sebesar 2 miliar dolar, sementara kekayaan Liem Sioe Liong, pengusaha dan kroni Soeharto, sebesar 1,8 miliar dolar. Bob pun tercatat memiliki 1 miliar dolar.

Ketika Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto, deretan tokoh-tokoh dekat Soeharto disorot.

Anak didik Soeharto secara tidak langsung itu justru menyingkirkan nama orang-orang dekat Soeharto, seperti Fuad Bawazier, Anthony Salim, dan termasuk Bob Hasan. Lalu, Habibie gantikan mereka dengan orang-orang yang dekat dengan dirinya.

Belum cukup, Habibie juga melakukan upaya besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yakni membuka penyelidikan hukum terhadap kasus-kasus kelam era Soeharto. Jejeran tokoh seperti Prabowo Subianto, Tommy Soeharto, dan Bob Hasan pun terkena dampaknya.

Bob semakin menderita. Sementara penyelesaian kasus Soeharto tidak mengalami banyak kemajuan, Bob Hasan diputuskan telah melakukan korupsi pada tahun 2000 dan dijatuhi hukuman penjara enam tahun, lalu dikurangi menjadi tiga tahun.

Setelah bebas dari penjara, Bob sudah banyak tak berkecimpung dalam dunia politik. Tampaknya, Bob merasa dirinya berakhir seiring dengan berakhirnya kekuasaan Soeharto.

Kendati begitu, sahamnya mungkin masih tercecer di beberapa perusahaan, seperti di PT Essam Timber, PT Jati Maluku Timber, PT Kertas Kraft Aceh, PT Tugu Pratama Indonesia, hingga majalah Gatra, menurut laporan Koran Tempo pada 1 April 2020. (AK)


0 Komentar