Body Positivity: Bagaimana Kita Menghargai Setiap Bentuk Tubuh Manusia
Kampanye body positivity merupakan langkah untuk mengajak kita menghargai bentuk tubuh orang lain. (Ilustrasi: Haluan.co)

Perjuangan perempuan pada gelombang pertama memang memperjuangkan hak pilih. Namun lebih daripada itu, gerakan-gerakan ini pula yang lantas membawa perempuan di Eropa dan Amerika Serikat pada era kemerdekaan tubuh.

INI bukan tentang Tara Basro, tapi lebih daripada itu, kita perlu memahami tentang pentingnya kemerdekaan tubuh.

Hal ini berangkat dari keresahan perempuan abad pertengahan di Eropa, atau di masa Victorian tentang bagaimana persoalan korset dan tata cara berbusana begitu mengikat erat mereka.

Dandanan era Victorian ini dapat dijumpai dengan mudah melalui foto-foto perempuan bergaun lebar dengan lingkar perut kecil bak putri-putri kerajaan. Alih-alih membuat perempuan bangga atas gaya berpakaian ini, justru hal ini menyiksa.

Era Victorian yang ditandai dengan berkuasanya Ratu Victoria di Inggris tahun 1837 hingga 1901 memang memperketat urusan fashion untuk seluruh kalangan perempuan. Urusan gaya busana didikte sedemikian rupa melalui bentuk yang dicap paling rasional saat itu.

Seperti halnya tradisi Lotus Feet pada masyarakat China tradisional yang berasal dari masyarakat Han, gaun era Victorian dianggap memiliki harkat tinggi. Meski, dalam praktiknya, hal itu justru menyiksa perempuan dengan penggunaan korset yang amat ketat hingga membentuk lingkar perut yang dikatakan ‘ideal’.

Sama halnya pada masyarakat Han kelas atas, pada masanya pemilik Lotus Feet dikaitkan dengan tingkat kecantikan nomor wahid. Untuk itulah kemudian tradisi ini berjalan sejak zaman Dinasti Song (960-1279M).

Hal itu sebenarnya berawal dari era Kaisar Li Yu dari Dinasti Tang Selatan yang memiliki selir bernama Yao Niang dengan kepiawaiannya mepertunjukkan Lotus Dance. Tarian semacam balet ini dilakukan Yao Niang dengan mengikat erat telapak kakinya menggunakan sutra sebelum menari.

Hal ini kemudian membuat kalangan atas di era itu merasa perlu meniru praktik mengikat telapak kaki itu. Dan akhirnya, di era Dinasti Song, hal itu mulai dipraktikan secara luas di China bagian timur, tepatnya pada etnis Han.

Tak seperti awalnya, Lotus Feet ini kemudian dilakukan oleh perempuan dari berbagai kalangan. Popularitasnya membuat praktik Lotus Feet kemudian menjadi standar bagi anak-anak perempuan di China untuk membentuk telapak kakinya menjadi lebih kecil dari ukuran umum. Atau bias dibilang, hal ini dilakukan atas obsesi orang tuanya dengan dogma tradisi mengenai Lotus Feet itu sendiri.

Namun, praktik-praktik penjajahan tubuh seperti pada era Victorian dan juga Lotus Feet di China inilah yang kemudian memunculkan perlawanan perempuan di era Abad 18. Khususnya, perlawanan ini muncul di Eropa dengan munculnya gerakan feminis gelombang pertama, atau era avant-garde dari gerakan feminisme pada akhir era Victorian di Inggris.

Meski ada pula gerakan feminisme muncul mula-mula sejak terjadinya Seneca Falls Meeting di New York tahun 1848, saat itu persoalan utama yang diambil adalah hak pilih. Dan dari sanalah titik tolok dari perjuangan perempuan untuk menegaskan eksistensinya sebagai insan setara.

Perjuangan perempuan pada gelombang pertama memang memperjuangkan hak pilih. Namun lebih daripada itu, gerakan-gerakan ini pula yang lantas membawa perempuan di Eropa dan Amerika Serikat pada era kemerdekaan tubuh.

Meski, dalam praktiknya hal ini masih jauh dari sekadar kata cukup. Sebab, dari gelombang pertama itu saja, masih ada tiga gelombang pergerakan perempuan yang tetap sedikit demi sedikit mereduksi paradigma patriarki yang nampaknya sudah mengendap pada masyarakat global.Hal itu, tanpa disadari juga berpengaruh pada setiap keputusan kebijakan. Seperti halnya silat lidah Kemkominfo yang tempo lalu menilai unggahan kampanye body positivity yang dilakukan Tara Basro merupakan tindakan pornoaksi dan pornografi. Meski sudah diralat, namun tetap saja hal ini menjadi cermin bagaimana tubuh perempuan selalu diidentikkan dengan negasi adab yang positif.

Lantas, syak wasangka akan tetap menjadi momok bagi paradigma kita yang kerap melihat bahwa tubuh perempuan tak laik untuk merdeka. Atau dalam kata lain, pornoaksi dan pornografi hanya sah jika dilakukan oleh perempuan. Sebab dalam sepengatahuan saya, jika ada satu kasus pornografi dan pornoaksi yang melibatkan laki-laki serta perempuan, maka sudah pasti bahwa pihak perempuanlah yang lebih menanggung malu.

Omongan miring tentang perempuan nampaknya lebih mudah diproduksi, daripada kritik terhadap paradigma yang membentuk pikiran itu sendiri - Algonz Dimas Bintarta Raharja

Dalam praktiknya, proses menuju kemerdekaan tubuh menyoal bentuk tubuh atau berbagai hal lain terkait perempuan tetap menuai tantangan.

Tara Basro mungkin berhasil mengangkat isu kemerdekaan tubuh perempuan sebagai “apa adanya”, tanpa mengikuti standar kecantikan berbasis pasar. Namun, kampanye body positivity tetaplah menjadi isu yang masih kurang mendapat tempat di negeri ini. Negeri di mana setiap bentuk kemerdekaan tubuh didikte oleh standar moral dan paradigma sempit soal baik dan buruk.