Budaya Beberes Bukan Budaya Indonesia, KFC Pergi Saja ke Negara Maju!
Budaya beberes di KFC sempat mengundang perdebatan warganet (Ilustrasi: Haluan.co)

Tidak hanya masalah adab dan kelakuan, ternyata ada pula konsumen yang memaki pakai bawa-bawa ideologi. Misalnya ada mas-mas yang mengumpat begini, ”Heleh, sudah mahal dikenakan pajak konsumen, disuruh rapiin sendiri, dasar kapitalis rakus!” 

“Udah.. KFC hengkang aja ke negara maju... @KFCIndonesia, jangan pakai dalih budaya buat meningkatkan Omset, you serves we pay!” (Akun Twitter @taufan_md – 15 Januari 2019, 18.08 WIB)

Belum sempat saya tertawa membaca kicauan netizen di atas, ternyata admin akun resmi KFC Indonesia telah membalas kicauan tersebut dengan kalimat,

“Loh, KFC kan memang dari negara maju” (ditambah emotikon berpikir)

Alhasil, tambah ngakak saya dibuatnya. “Dasar tisu mejik, gak ngoco kon yo!” umpat saya dalam hati.

Ya, beberapa waktu lalu pernah ramai di jagat media sosial mengenai kebijakan KFC Indonesia yang mengampanyekan #budayabeberes. Banyak tanggapan miring tentang kampanye KFC ini, namun sayangnya tanggapan miring itu benar-benar datang dari orang-orang yang agak miring nalarnya.

Lha wong ya tujuannya baik, mengurangi sisa makanan yang tercerai-berai di meja konsumen, dan tentunya meringankan pekerjaan para karyawan dalam membereskan sisa makanan. Hal ini juga pernah dikampanyekan dalam bentuk gerakan #tumpuktengah beberapa waktu lalu. Tujuannya hanya satu sebenarnya, yaitu efisiensi dan kebersihan.

Tapi ya memang di negara ber-flower macam Indonesia ini efisiensi kurang diminati. Contohnya, kita tidak mau mengantre lama, tapi enggan pula membereskan meja di gerai-gerai fastfood. Hal itu tentu saja memberikan banyak waktu bagi karyawan gerai untuk membereskan, dan menambah antrean orang yang hendak makan di tempat.

Alhasil, konsumen kecewa, misuh-misuh di media sosial. Padahal, Pram mengajarkan kita untuk misuhlah sejak dalam pikiran, alias pisuhilah dirimu sendiri terlebih dahulu, baru orang lain.

Bahkan, ada beberapa akun yang memaki KFC dengan mengatakan, “KFC cuma mau enaknya aja... dasar perusahaan goblok. Kalo beresin sendiri, mending makan di rumah!” Eh singkong rebus, sokap juga yang nyuruh ente makan di ke ep ci???

Lha pertanyaannya, siapa suruh Anda makan di KFC? Dan untuk frasa “mau enaknya aja”, ini sepertinya beliaunya perlu dibelikan kaca pengilon biar ngaca sengaca-ngacanya. Ini kan konsumen yang sebenarnya juga mau enaknya saja. Habis makan lantas pulang, karena menganggap mereka membayar makanan itu maka berhak membuat kerusuhan di meja makan, seperti menggambari meja dengan saos sambal misalnya. Atau mengusapkan minyak bekas ayam goreng di bawah meja. Halo ghostbuster! Tolong yang seperti ini diamankan, jiwa seninya melampaui batas!

Padahal, kalau kita cermati struk atau nota yang diterima di beberapa restoran cepat saji memang di sana tak tertera potongan untuk services. Hanya pajak restoran saja, sebesar 10 persen. Jadi memang selfservices, alias membereskan sampah bekas makanan secara mandiri. Untuk itulah, konsumen diberi nampan sendiri-sendiri, agar lebih mudah membuang sampah dengan mengumpulkannya pada nampan terlebih dahulu.

Toh, tempat sampah di beberapa gerai makanan cepat saji juga dibuat untuk mempermudah pembuangan sampah dengan nampan. Dan tentu, setelahnya namapan tersebut ditumpuk di tempat yang telah tersedia, bukan dibawa pulang untuk acara RT atau RW.

Tidak hanya masalah adab dan kelakuan, ternyata ada pula konsumen yang memaki pakai bawa-bawa ideologi. Misalnya ada mas-mas yang mengumpat begini, ”Heleh, sudah mahal dikenakan pajak konsumen, disuruh rapiin sendiri, dasar kapitalis rakus!”

Saya curiga masnya ini pernah les Ilmu Propaganda Buruh pada Rosa Luxemburg. Karena dari kalimatnya terpancar rona-rona kemiskinan dan pemberontakan. Masnya ini kirinya murni. Kiri sejak dalam ovarium. Melakukan perlawanan terhadap kapitalisme sejak dalam kandungan. Menolak susu formula dan menolak obat-obatan dari perusahaan farmasi, karena jamu gendong adalah key of proletariat!

Jadi, kita menjadi tahu bahwa KFC tidak cocok hidup di Indonesia. Budaya Beberes tidak mencerminkan kepribadian bangsa. Budaya kita adalah setelah makan di gerai fastfood adalah ngumpulin sisa tulang ayam buat prakarya, atau nyampurin sisa float dan es krim jadi satu. Dan jangan lupa, unggah foto buat kasih makan konten Instagram.

Padahal ya padahal, dengan gerakan #budayabeberes atau #tumpuktengah itu secara langsung kita bisa membantu para pekerja gerai makanan cepat saji itu. Justru membuat mereka semakin mudah bekerja dan tidak kehilangan surplus value dari apa yang mereka kerjakan.

Lha kalau kita semaunya sendiri itu justru membuat kita berlaku seperti musuh kaum proletar, yaitu borjuasi. Hayo mamam kao kaum borjuis kemarin soree! Anda kira Anda kiri? Tidak, Anda hanya gengsi makan ayam di Olive atau Popeye, Hisana atau Sabana dan produsen ayam harga bersahabat lainnya. Anda ke KFC karena tuntutan publik, bukan perut.

Karena pada dasarnya apa pun ayamnya juga sama saja, yang bikin mahal kan mereknya. Anda secara tidak langsung sudah termakan merek itu sendiri, dan tindakan apa yang mudah termakan merek daripada hasil produksi? Ya, borjuasi itu sendiri. Lalu gagah-gagahan mengunggah foto makan di KFC. Makan di Rumah Makan Padang Merdeka saat tanggal tua baru tuh songong....

Tapi sungguh, pernyataan yang menyuruh KFC untuk pindah ke negara maju di atas tadi menjadi sebuah pernyataan yang cerdas sekali. Kecerdasan hakiki yang muncul karena subduksi kreatif dari terjadinya transendensi manusia dengan daun nangka, murni dan natural sekali.

Seolah-olah, frasa “hengkang aja ke negara maju” ini berasal dari kebanggaan maksimal terhadap negara Indonesia yang tentu bukan negara maju. Jadi, nasionalismenya sangat tinggi. Lebih baik negaraku 100 tahun jadi negara ber-flower daripada setahun menjadi negara maju. Karena negara maju bisa mundur, sedangkan negara ber-flower akan bisa menjadi makanan para lebah yang hidup sebatang kara seperti Hachi.

Maka dari itu #2020IndonesiaTetapBerkembang!


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja