Buka Bisnis "Lendir", Ibu dan Anak Digaruk Polisi
Ilustrasi prostitusi. (Foto: Istimewa)

PADANG, HALUAN.CO - Serang wanita setengah baya berinisial H (54) bersama seorang anaknya D (30) kompak membuka bisnis "lendir" dengan menjadikan rumah mereka sebagai kos-kosan sekaligus tempat praktik prostitusi di Jalan Adinegoro, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumbar.

Bisnis "lendir" yang mereka lakukan itu sudah berjalan sejak empat hingga lima bulan yang lalu. Untuk menghilangkan kecurigaan masyarakat, dia menutup bisnis haramnya itu dengan berjualan makan di kediamannya itu.

"Aktivitas prostitusi yang dijalankan ibu dan anak itu sudah berjalan sejak empat sampai lima bulan belakangan ini. Para wanita yang dijual kedua tersangka kepada lelaki dengan bayaran rata-rata Rp300 ribu," kata Dirreskrimum Polda Sumbar, Kombes Imam Kabut SatriadiImam, Selasa (14/1/2020) seperti dilansir Harianhaluan.com, jaringan Haluan Media Group (HMG) di Padang.

Kini keduanya harus meringkuk di tahanan Polda Sumbar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu setelah ditangkap di kediamannya dan sekaligus sudah ditetapkan sebagai tersangka. dalam praktiknya itu, H berperan sebagai mami dan anaknya D mencari wanita yang akan dipekerjakan maupun mencari pria hidung belang sebagai pelanggan.

Kombes Imam Kabut Satriadi mengatakan, Untuk lelaki yang memakai jasa wanita, menyerahkan uang kepada tersangka D, selanjutkan diserahkan kepada ibunya H. Sementara para wanita yang dijual tinggal di rumah tersangka yang dijadikan tempat kosan.

"Uang dari hasil prostitusi digunakan tersangka H untuk membeli kebutuhan harian mereka di rumah itu dan sebagian diserahkan kepada para wanita yang melayani pria hidung belang. H perannya sebagai mami dan anaknya D mencari wanita yang akan dipekerjakan maupun mencari pelanggan," katanya.

Dari pengungkapan kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp219 ribu, pil KB, pakaian dalam dan tiga KTP. Sedangkan untuk tiga wanita yang ikut diamankan, berstatus korban atas kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Imam mengatakan, pengungkapan bisnis prostitusi ini berawal dari laporan masyarakat yang mengaku resah dengan aktivitas kos-kosan tersebut. Lantas. Setelah melakukan penyelidikan pihaknya pun menggerebek lokasi itu pada Jumat (10/1).

Warga tak heran soal penggrebekan yang dilakukan polisi terhadap kediaman tersangka. Sebab, bisnis haram yang dilakoni ibu dan anak ini ternyata telah berlangsung cukup lama, dan meresahkan.

"Sudah meresahkan masyarakat. Sudah lama, tapi kami takut, tidak bisa apa-apa, katanya bekingannya kuat," ujar salah seorang warga dan menambahkan bahwa di rumahnya itu, tersangka memiliki usaha lontong malam. Usaha tersangka inipun buka dari malam hingga subuh.

Warga yang tidak disebutkan namanya tersebut juga mengungkapkan, aktivitas di kediaman tersangka memang selalu ramai pada malam hari. Bahkan, para lelaki silih berganti keluar masuk di kediaman tersangka.

"Lelaki banyak masuk, perempuan juga ada. Dulu kakak saya sebagai RT, pernah ingatkan seharusnya melapor (pendatang). Setahu saya, ketua RT yang sekarang tahu, tapi tidak bisa berbuat banyak, begitupun kami masyarakat," katanya.

Ia mengatakan, H dikenal sebagai orang yang sangat tertutup. Meskipun ia merupakan warga asli di kawasan itu, namun jarang berinteraksi dengan tetangga. Pengungkapan kasus ini, baginya, mewakili keresahan masyarakat selama ini.

Menurut warga, penggerebekan terhadap kediaman tersangka telah sering dilakukan, mulai dari Satpol PP hingga jajaran kepolisian di tingkat Polsek. Namun usai digrebek dan menyita beberapa barang, beberapa hari kemudian beroperasi kembali.

Bahkan, warga juga telah sempat mengingatkan tersangka untuk menghentikan praktik prostitusi tersebut. Namun peringatan itu tak diindahkan tersangka.

Salah seorang warga lain, Buyung (nama samaran0 mengatakan, di kediaman tersangka terdapat enam kamar yang dijadikan kos. Dulunya, aktivitas di kediaman tersangka itu hanya pijat.

"Memang sudah bertahun, di dalam rumah banyak ada 5 sampai 6 kamar. Dulu pijat tapi ternyata ada aktivitas lainnya. Orang sini sudah tahu, tapi enggak tahulah, bekingannya kuat," ujar Buyung.

Buyung mengaku, usaha lontong malam itu dijadikan modus agar bisnis prostitusinya tidak diketahui. Bahkan, warga yang resah sempat melakukan penggrebekan dan sampai bertindak anarkis.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Syainal Arifin membenarkan lokasi prostitusi di kediaman tersangka telah sering dilakukan penggerebekan hingga menyita barang bukti. Namun, setelah itu kembali beroperasi.

Hingga kini, polisi masih mendalami kasus dugaan praktek prostitusi itu. Kedua pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka juga dijerat undang-undang perlindungan anak. Di antaranya, pasal 76, pasal 88 undang-undang nomor 35 tahun 2014, pasal 2 dan pasal 17 undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang.