Bukti Kebudayaan Manusia Purba Ada di Papua: Situs Megalitik Tutari

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Situs Megalitik Tutari di Papua. (Foto: Dok. Badan Arkeologi Papua)

PAPUA, HALUAN.CO - Situs megalitik Tutari menjadi kawasan wisata yang menyimpan sejarah kebudayaan masyarakat di pinggir Sungai Sentani pada masa prasejarah, tepatnya zaman neolitik akhir. Lokasi situs ini berada di areal perbukitan, di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. 

“Pada zaman itu manusia sudah mulai hidup bercocok tanam, berkelompok, menetap, dan tinggal bersama dalam kampung. Sejarah kebudayaannya terlihat dari peninggalan-peninggalan yang ada di Situs Megalitik Tutari,” ujar Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua, dilansir dari Tempo, Minggu lalu.

Pohon kayu putih, batu-batu hitam, dan rumput ilalang memenuhi lokasi ini. Ketiganya menghiasi kanan dan kiri jalan, dari pintu masuk hingga lokasi situs tertinggi. Jalan yang telah dibangun juga memudahkan pengunjung untuk menelusuri setiap bagian situs.

Di beberapa titik tersedia pondok tempat istirahat. Beberapa pondok berada di ketinggian dengan pemandangan menghadap ke hamparan Danau Sentani. Diberi nama Tutari karena berada di Bukit Tutari selain itu konon suku yang pernah mendiami wilayah sekitar situs ini adalah suku Tutari.

Suku Tutari memperoleh makanan dengan berburu, menangkap ikan, beternak, dan bercocok tanam. Saat itu lokasi ini situs digunakan sebagai tempat penyembahan. Suku Tutari sendiri sudah musnah akibat perang suku.

“Masyarakat Doyo Lama yang saat ini berdiam di sekitar situs bukanlah keturuan suku Tutari. Mereka percaya bahwa sebagian suku Tutari telah menjelma jadi batu yang sekarang ada di situs itu,” kata Hari. “Masyarakat Doyo Lama percaya bahwa situs ini sakral, hingga kini mitos tentang suku Tutari dan nenek moyang masyarakat Doyo Lama diceritakan secara turun temurun ke generasi muda.”

Suku Tutari memperoleh makanan dengan berburu, menangkap ikan, beternak, dan bercocok tanam. Saat itu lokasi ini situs digunakan sebagai tempat penyembahan. Suku Tutari sendiri sudah musnah akibat perang suku.

“Masyarakat Doyo Lama yang saat ini berdiam di sekitar situs bukanlah keturuan suku Tutari. Mereka percaya bahwa sebagian suku Tutari telah menjelma jadi batu yang sekarang ada di situs itu,” kata Hari. “Masyarakat Doyo Lama percaya bahwa situs ini sakral, hingga kini mitos tentang suku Tutari dan nenek moyang masyarakat Doyo Lama diceritakan secara turun temurun ke generasi muda.”

Peninggalan di situs ini antara lain batu lukis, batu bongkahan berbentuk arca, batu berbaris dan menhir (batu berdiri). “Di Papua dan Papua Nugini (PNG) yang model begini hanya di sini saja. Kawasannya luas dan peninggalannya bisa dilihat langsung,” tutur Hari.

Balai Arkeologi Papua mengelompokkan peninggalan di situs ini menjadi 6 sektor. Sektor 1, 2 dan 3 adalah lokasi batu lukis. Sektor ini paling awal ditemui saat berkunjung. Motif lukisannya pun bervariasi.

Ada motif manusia, manusia setengah ikan, binatang, tumbuhan, dan benda budaya seperti gelang, kapak batu serta motif geometris seperti lingkaran dan matahari. Semuanya adalah ekspresi pengetahuan manusia saat itu tentang alam sekitar. Makna motif-motif ini tertulis dalam Jurnal Arkeologi Papua berjudul Makna Motif Lukisan Megalitik Tutari.

Peninggalan berikutnya adalah batu bongkahan berbentuk arca yang ada di sektor 4. Bongkahan batu ini masing-masing berbentuk menyerupai kepala, leher dan badan. “Disebut juga batu ondoafi dan berjumlah empat. Keempat batu tersebut dipercaya sebagai representasi empat panglima perang ondoafi Uii Marweri yang mengalahkan suku Tutari yaitu Ebe, Pangkatana, Wali dan Yapo,” tambah Hari.

Sementara batu berbaris ada di sektor 5, yang membentuk dua barisan dengan orientasi memanjang antara barat laut dan timur daya. Letaknya ada di antara lokasi batu lukis dan batu berdiri. Barisan batu ini dipercaya sebagai jalan penghubung antara dunia manusia dan alam tempat roh nenek moyang bersemayam.

Sedangkan di sektor 6, lokasi situs yang paling tinggi. Pada masa prasejarah, tempat paling tinggi dipercaya sebagai tempat paling sakal atau suci. “Di sini terdapat 110 batu berdiri yang ditopang oleh batu-batu kecil. Batu tersebut berbentuk lonjong dengan ukuran bervariasi dan dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh nenek moyang,” ujar Hari

Deminaus Marweri, ubuafa (juru bicara) ondoafi Busainerep di Kampung Doyo Lama mengungkapkan harapannya agar situs ini terus dijaga dan dilestarikan. “Perlu ada sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat bahwa situs ini punya makna, punya nilai. Ini adalah sejarah, ini adalah peradaban yang pernah terjadi,” tutur dia.

Secara adat ada empat suku dari Kampung Doyo Lama yang bertugas menjaga situs megalitik ini yaitu Wali, Pangkatana, Ebe dan Yapo.

Penulis: Sutrisno Z


0 Komentar