Catatan Nadiem Makarim tentang Perfilman Indonesia
Festifal Film Indonesia 2019. (Ilustrasi: ffi)

JAKARTA, HALUAN.CO - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, perfilman di Indonesia sudah menunjukan tanda-tanda yang positif. Semakin banyak ide yang berani dieksplorasi dan keberagaman dengan mengikuti perkembangan zaman.

Penyelenggaraan FFI, sebagai otoritas kualitas film Indonesia terus berusaha memberikan yang terbaik. FFI tahun ini mengangkat tema "Film Bagus, Citra Indonesia", menggambarkan sebaran nominasi yang hadir dengan kaya gagasan, profesionalisme yang mapan, dan bernilai estetik tinggi.

Selain itu, Nadiem menekankan pentingnya konsep bermain dan belajar dalam pendidikan. Menurutnya, bagian terpenting dalam proses pendidikan adalah rasa senang ketika belajar yang membentuk karakter siswa untuk saling mengenal, berkolaborasi, dan berkreasi yang berujung pada tumbuhnya rasa cinta terhadap sekolah dan dunia pendidikan.

Menurut Nadiem, masyarakat saat ini hidup di era sangat dinamis dan dituntut untuk beradaptasi dengan cepat. Mengusung pendidikan tidak melulu melalui jalur formal. Oleh karena itu, orangtua harus membuka cakrawala dalam memodifikasi bentuk-bentuk edukasi yang menyenangkan, salah satunya lewat film.

Membekali anak-anak dengan kemampuan beradaptasi yang mumpuni, kata Mendikbud, dan membekali mereka dengan karakter, pengetahuan, serta keterampilan adalah yang paling dibutuhkan di saat ini dan di masa depan.

"Sebagian dari kualitas-kualitas itu telah tertanam di dalam masyarakat kita dan perlu terus kita pupuk, seperti semangat gotong royong dan toleransi. Sebagian lagi masih perlu kita tumbuhkan, seperti kemampuan berpikir kritis atau analytical thinking," ujar Mendikbud seperti dikutip dari laman resmi Kemdibud, Rabu (11/12/2019).

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjenbud Kemendikbud), Hilmar Farid menekankan bahwa dari waktu ke waktu kualitas dan kontribusi film terhadap budaya Indonesia secara umum telah menjadi ruh dalam pembuatan film. Hal ini pula yang menjadi kunci penting penilaian.

Oleh karena itu, kata dia, proses seleksi melibatkan berbagai pihak yang berkompeten guna menjamin hasil akhir yang berkualitas.

"Kementerian bangga menjadi bagian dari FFI. Sebelum berlangsungnya malam anugerah, kita mempertemukan sineas, pemerintah daerah, dan sponsor potensial untuk menggali potensi daerah melalui Komisi Film Daerah. Film Indonesia selama ini selalu menjaga atau menampilkan kekayaan yang dimiliki dan yang paling berharga yaitu keberagaman," terangnya.

Lebih lanjut, dia berharap semoga FFI bisa menjadi tolok ukur bagi kemajuan perfilman Indonesia karena FFI memiliki tanggung jawab besar untuk menampilkan film yang merepresentasikan Indonesia sesuai dengan tema yang diangkat tahun ini.

"Film adalah ekosistem besar, ada banyak platform baru, kita harapkan mereka bisa terlibat sehingga film Indonesia berakar pada perkembangan terbaru. Kami ucapkan selamat kepada para nomine dan semoga FFI bisa menjadi tolok ukur kemajuan perfilman Indonesia." ujarnya.

Sejalan dengan itu Lukman Sardi selaku Ketua Komite FFI menyampaikan bahwa hampir di seluruh bidang kehidupan, tak terkecuali FFI, isu besar yang mesti dihadapi dan direspons dengan cermat adalah perubahan. Revolusi digital yang merupakan determinan utama perubahan zaman/dunia saat ini telah mengubah, bahkan di beberapa bagian telah menjungkirbalikkan dua pilar utama perfilman yaitu teknologi dan pengetahuan, termasuk di dalamnya estetika sinema.

"Paradigma baru itu tentu akan sangat mempengaruhi cara kita menyelenggarakan festival dan melakukan penilaian. Saya mengucapkan selamat kepada para nomine yang terpilih. Seperti selalu saya katakan, Anda semua sejatinya sudah jadi pemenang," kata Lukman, dan mengajak para sineas untuk berekspresi dengan bebas dalam batasan estetika.

Kontribusi Film dalam Pembangunan Karakter di Indonesia

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BFI), Chand Parwez Servia, menyampaikan penilaian FFI selalu berkembang sesuai dengan perkembangan gagasan, tema, dan estetika.

"Mengingatkan kembali pesan yang disampaikan Mendikbud bahwa banyak film menarik bergenre baru yang menyuarakan hal-hal sensitif. Di sinilah film hadir sebagai ruang ekspresi, bahkan lebih dari itu ia bisa menjadi ruang diskusi yang melahirkan solusi," ujar Ketua Umum BPI periode 2017-2020 itu.

"Jika film terus diberdayakan, agar terus bermanfaat, maka dia bisa menjadi sesuatu yg lebih baik karena film mempunyai kekuatan besar dalam pembentukan karakter. Saya sebagai penggemar film, mengakui bahwa film membentuk karakter saya, lingkungan saya, dan sekolah saya. Jadi saya sebagai pembuat film selalu mencoba jangan sampai film memberikan efek negatif," tambah Chand Parwez.


Penulis: Milna Miana