Caturtunggal: Desa, Kedai Kopi, dan Hipokrisi

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Caturtunggal memanglah sebuah desa secara administratif, tapi di desa ini berbagai perguruan tinggi berkualitas, apartemen, hingga kedai kopi justru menjadi hal yang mudah ditemui, bukannya sawah dan pepohonan rimbun khas pemandangan pedesaan. (Foto: Istimewa)

-

AA

+

Caturtunggal: Desa, Kedai Kopi, dan Hipokrisi

Overview | Jakarta

Rabu, 05 Februari 2020 14:38 WIB


Caturtunggal mungkin jadi satu dari sedikit desa di Indonesia yang memiliki tiga kantor Polsek. Ditambah memiliki tiga universitas negeri sekaligus. Desa macam apa ini?

Nuwun sewu Mbak, ajenge pesen kopi susu setunggil”

“Maaf Mas, bisa bahasa Indonesia?”

YA, dialog di atas terjadi saat anda yang biasa ngopi di angkringan atau warung kopi sarungan lalu beralih tempat nongkrong di cafe-cafe kopi dengan barista merangkap foto model di kawasan Desa Caturtunggal, bagian kecil dari Kabupaten Sleman. Tak jauh dari pusat kota Jogja. Di mana beberapa dari kita pernah membuang rindu dan lara hati pada setiap lajur jalannya. Atau sekadar menggerutu karena menerima banyak titipan oleh-oleh untuk dibeli di Malioboro. Tapi, Jogja tak sesempit Malioboro, mari kita ke utara. Menuju negara bagian Caturtunggal. Desa dengan luas 11.070 km2 di utara kota Jogja.

Setidaknya sejak rilisnya film Filosofi Kopi, lantas semua kopi menjadi indie. Hal itu dibarengi pula dengan gaya artsy yang hits namun kitsch, memakai ungkapan Farid Stevy, vokalis band lokal FSTVLST.

Di Yogyakarta, atau setidaknya di bilangan Republik Caturtunggal Serikat, kita bisa menemui banyak sekali kedai kopi modern tumbuh dan berkembang pesat. Kenapa saya sebut modern? Karena yang saya kenal sebelumnya adalah warung kopi berasap dan banyak kebul udud macam yang ada di bilangan Distrik Sorowajan Sarung City.

Ya, di sanalah pada masanya warung kopi di Yogyakarta berkembang, di selatan palang sepur dekat SMA UII. Warung kopi yang pada istilah coffee snob-nya itu tidak menggunakan “kopi sobek” bermula dari kedai-kedai kopi yang umumnya pelanggannya sarungan. Kopi bubuk produksi tradisional menjadi basis perkopian di bagian timur Kota Yogyakarta itu.

Tumbuhnya kedai-kedai kopi itu positif jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, tapi tentu ada kekurangan dari sisi yang lainnya. Hal itu saya lihat dengan mengambil sampel Desa Caturtunggal, ya sebuah desa secara administratif. Lihat saja, Caturtunggal mungkin jadi satu dari sedikit desa di Indonesia yang memiliki tiga kantor Polsek. Ditambah memiliki tiga universitas negeri sekaligus. Desa macam apa ini??? Sedang, di kabupaten mBantul saja punya satu institut negeri sudah untung-untungan, ha iki mung kelurahan wae kampuse telu, polsek e telu, ngopo ra dadi negoro dewe wae?

Perkembangan Desa Caturtunggal tentu tak lepas dari mahasiswa, dan mahasiswa tidak lepas dari tempat ngongkrong. Karena di sana lah perputaran ekonomi kemudian melesat jauh membawa Caturtunggal meninggalkan ringroad utara Jogja. Dan kedai kopi yang berkembang pesat di jantung desa ini, membuat desa ini membingungkan.

Perkembangan kedai kopi di Yogyakarta ini kemudian juga mengamodasi mahasiswa pendatang dari Jakarta, yang kalau mau ke Jawa harus lewat selat Jakarta itu. Atau mahasiswa pendatang dari daerah lain, yang memang daerahnya terkenal memproduksi biji kopi. Dari sana lah, lantas kita hari ini jadi peduli dengan asal-usul biji kopi dan menjadi perlu untuk menanyakan tingkat keasaman biji kopi dari tiap daerah. Halah jal biyen, ha mbok prek mbuh kopi saka Goa Langse sing dipangan codot yo tok untal wae. Tak peduli asal-usul atau teknik seduh.

Dulu, ngopi ya ngopi saja, cerita tentang maling di suatu kampung malah menjadi basis diskusi yang menarik. Hingga, kini semua menjadi pembicaraan kelas menengah di kedai kopi. Politik, sastra, hingga remeh-temeh soal cinta menjadi bumbu sedap di setiap obrolan. Begitulah perkembangan kopi, dari semenjana menjadi naik derajatnya.

Dan dari pergaulan dengan teman-teman dari Jakarta atau daerah lain inilah bahasa dan bahasan ngobrol menjadi berkembang dan saling memengaruhi. Sedang, yang paling njijiki adalah ketika ada teman yang lahir dan besar di Padukuhan Samirono, Caturtunggal tapi ngomong “Eh gue mau pakpung dulu ya, ntar lu pethuk jam 5-an lebih seprapat gitu. Gue tunggu di kidul Indomaret Point ntar”.

Atau sebaliknya, ada kawan dari Jakarta atau daerah lain yang mencoba misuh pakai bahasa Jawa, “Eh jancuk lu ya, udah gue jemput elunya kagak nongol-nongol”. Dan fatalnya itu umpatan khas Surabaya-Malang, yang orang Jogja sendiri jarang menggunakan karena kasar, tapi setelah digunakan mereka yang dari Jakarta, jadi imut-imut gimana gitu, jadi langsung sayang.

Dan semua hal di atas tadi bisa ditemukan di sebuah desa. Ya, sebuah desa, bagian kecil dari kecamatan Depok, Sleman. Depok yang sangat jauh dari Jakarta. Tapi di sini rasa ngopi dan nongkrong bisa selaiknya ngopi di Depok, Jawa Barat, dekat UI atau Universitas Pancasila. Jadi, terkadang kebiasaan bilang “tumbaasss...” saat membeli sesuatu bisa jadi hal goblok jika diterapkan di kedai kopi modern. Khususunya di Caturtunggal ini.

Karena di desa ini justru banyak warung burjo yang kental dengan bahasa Sunda, dan kedai kopi yang kental dengan bahasa elu-gue. Namun, tak ada salahnya sih mencoba gaya bahasa baru, meski wagu atau aneh tapi lumayan lah bisa buat bekal kalau-kalau merantau ke barat...

Sebagai orang perantauan di Sleman, saya merasa kagum sekaligus bingung dengan kedudukan Desa Caturtunggal ini. Sebut saja ada UGM, UNY, dan UIN Sunan Kalijaga yang beralamatkan di desa ini. Jika di mBantul sana yang disebut desa adalah kawasan di luar Kecamatan mBantul, maka rumah pakdhe saya yang di belakang Pasar mBantul itu masuk wilayah Kota.

Ibaratnya, orang Pandak atau nDlingo akan menyebut “mBantul” sebagai kota kabupaten, sedang Malioboro sebagai “negoro”. Ah, tapi mereka tentu belum merasakan tinggal di Desa Caturtunggal. Pusat perbelanjaan besar ada di sana, pun lengkap dengan bioskop dan hotel-hotel bertaburan di sekitarnya, belum lagi ada universitas-universitas swasta tempat para idola kaum muda, Sanata Dharma dan Atma Jaya Yogyakarta.

Jadi, statusnya ya tetap desa, bukan kelurahan, karena letaknya di kabupaten. Kalau kelurahan itu seperti Terban, atau Cokrodiningratan, nah itu di kota Jogja. Jadi, Caturtunggal tetaplah desa, dan masyarakatnya tetap disebut masyarakat desa. Kedai-kedai kopi serta kampus yang ada di sana secara administratif ya tetap di desa. Hanya saja memang ndeso sing kemajon. Desa yang overlapping karena sawah mulai jarang, berganti apartemen dan kedai kopi.

Sebab siapa tahu dengan itu kita lantas bisa mengurangi makan nasi. Karena di kedai kopi dan apartemen mewah, konon kelak tak lagi butuh nasi sebagai makanan pokok. Sebab, makanan pokok kawula kiwari adalah atensi. Mengenyangkan fisik tak sebanding dengan kepuasan dunia maya. Berangkat dari Desa Caturtunggal, sebagaimana beberapa kelompok aktivis mahasiswa kerap melakukan rapat soal penggusuran dan pencaplokan lahan pertanian di sebuah kedai kopi yang dulunya adalah sawah hijau bestari.

Dan sampailah kita pada fakta bahwa tak semua desa siap menjadi Caturtunggal. Sebab, kehilangan sawah tak sebanding dengan tumbuhnya berbagai jenis usaha dan properti. Sawah menghasilkan nasi, apartemen dan kedai kopi menghadirkan wacana dan hipokrisi. Dan sayangnya, kita belum bisa hidup tanpa nasi, apalagi cuma wacana-wacana basi.


0 Komentar